Selasa, 28 April 2026

Benarkah Koperasi Desa Merah Putih Butuh Mobil Pick Up?

Benarkah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih butuh 105 ribu mobil pick up senilai Rp 24,6 triliun? Simak analisis mendalam soal urgensi & dampak

Editor: Cak Sur
istimewa
Didik Prasetiyono, Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Kandidat Doktor PSDM Pascasarjana Universitas Airlangga 

Aspek kedua yang tak kalah penting adalah pilihan kebijakan terkait produksi dalam negeri. Dengan nilai Rp 24,66 triliun, pengadaan 105.000 unit kendaraan bukan sekadar keputusan operasional koperasi. Ia adalah kebijakan ekonomi makro dengan potensi multiplier effect yang besar.

Industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi yang mapan, termasuk pada segmen kendaraan niaga ringan. Sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menggerakkan rantai pasok komponen—mulai dari logam, kaca, plastik, hingga industri kecil dan menengah pendukung.

Jika kendaraan diproduksi di dalam negeri, belanja publik tersebut dapat meningkatkan utilisasi pabrik, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat struktur industri nasional. Setiap rupiah belanja publik berpotensi berputar di dalam negeri, menciptakan efek berlapis bagi ekonomi.

Sebaliknya, impor dalam skala besar berpotensi memindahkan nilai tambah ke luar negeri. Dalam konteks global yang kompetitif, banyak negara justru memanfaatkan kebijakan fiskal dan pengadaan publik untuk memperkuat industri domestiknya.

Karena itu, pertanyaan tentang impor menjadi relevan: apakah industri dalam negeri benar-benar tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut? Jika kapasitas tersedia, maka mengutamakan produksi domestik bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi pembangunan nasional.

Belanja publik seharusnya bekerja dua kali: menjawab kebutuhan desa dan sekaligus memperkuat ekonomi bangsa.

Penutup

Kita tentu ingin Koperasi Desa Merah Putih menjadi lokomotif ekonomi desa. Namun lokomotif tidak berjalan karena banyaknya aset, melainkan karena mesinnya kuat dan jalurnya tepat.

Dalam konteks ini, mesin itu adalah model bisnis koperasi yang relevan dan tata kelola yang profesional. Jalurnya adalah needs assessment yang jujur dan berbasis data. Kendaraan hanyalah alat—yang relevansinya harus dibuktikan, bukan diasumsikan.

Sebelum kebijakan besar ini dijalankan sepenuhnya, publik berhak memperoleh jawaban yang terang: benarkah koperasi desa merah putih butuh mobil pick up? Dan jika memang butuh, apakah kebijakan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat industri dalam negeri?

Kebijakan yang kuat bukanlah kebijakan yang besar, melainkan kebijakan yang tepat. (*)

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved