Minggu, 7 Juni 2026

Lulusan Pendidikan Formal Banyak tapi Lapangan Kerja Terbatas, Ini Salah Siapa?

Dalam kerangka human capital theory, pendidikan seharusnya meningkatkan produktivitas individu dan memperluas peluang kerja.

Tayang:
Editor: irwan sy
IST/Dok Pribadi
PENGANGGURAN BERPENDIDIKAN - Dr Ahmad Halid SPdI MPdI, Rektor Universitas Islam Jember. Ahmad Halid mengungkapkan ada ketidaksinkronan antara pendidikan dengan ketenagakerjaan yang mengakibatkan terjadinya peningkatan angka educated unemployment, atau pengangguran yang berasal dari kelompok berpendidikan. 

Akibatnya, lulusan cenderung menunggu kesempatan kerja, bukan menciptakannya.

Struktur Ekonomi yang Tidak Inklusif

Namun, menyalahkan pendidikan semata juga merupakan simplifikasi persoalan.

Struktur ekonomi nasional yang belum sepenuhnya inklusif dan produktif turut berkontribusi besar.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak diiringi penciptaan lapangan kerja berkualitas menyebabkan daya serap tenaga kerja menjadi terbatas, khususnya lulusan baru.

Sektor-sektor padat karya melemah, sementara sektor berbasis teknologi dan modal berkembang tanpa diimbangi peningkatan keterampilan tenaga kerja secara sistematis.

Ketidakseimbangan ini menciptakan jurang antara kompetensi lulusan dan kebutuhan riil pasar kerja.

Peran Negara, Dunia Usaha, dan Lembaga Pendidikan

Persoalan lulusan dan lapangan kerja sejatinya merupakan tanggung jawab kolektif.

Negara memiliki peran strategis dalam merumuskan kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan yang terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi jangka panjang.

Dunia usaha tidak cukup hanya menjadi pengguna lulusan, tetapi perlu terlibat aktif dalam perancangan kurikulum, program magang, dan pengembangan kompetensi.

Sementara itu, lembaga pendidikan dituntut untuk melakukan transformasi paradigma: dari sekadar institusi pengajaran menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia yang adaptif, kritis, dan inovatif.

Pendidikan tidak lagi dapat berjalan dalam ruang hampa, terpisah dari realitas sosial dan ekonomi.

Menata Ulang Arah Pendidikan

Lulusan banyak dan lapangan kerja terbatas bukanlah pertanyaan tentang siapa yang harus disalahkan, melainkan tentang siapa yang harus berbenah.

Pendidikan perlu ditata ulang agar lebih relevan, kontekstual, dan berorientasi pada masa depan.

Tanpa pembenahan menyeluruh, pendidikan berisiko kehilangan daya transformatifnya dan justru menjadi bagian dari masalah sosial yang lebih besar.

Pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak hanya menjanjikan ijazah, tetapi juga harapan yang realistis bahwa ilmu yang dipelajari mampu memberi makna, kemandirian, dan kontribusi nyata bagi kehidupan bersama.

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved