Lulusan Pendidikan Formal Banyak tapi Lapangan Kerja Terbatas, Ini Salah Siapa?
Dalam kerangka human capital theory, pendidikan seharusnya meningkatkan produktivitas individu dan memperluas peluang kerja.
Akibatnya, lulusan cenderung menunggu kesempatan kerja, bukan menciptakannya.
Struktur Ekonomi yang Tidak Inklusif
Namun, menyalahkan pendidikan semata juga merupakan simplifikasi persoalan.
Struktur ekonomi nasional yang belum sepenuhnya inklusif dan produktif turut berkontribusi besar.
Pertumbuhan ekonomi yang tidak diiringi penciptaan lapangan kerja berkualitas menyebabkan daya serap tenaga kerja menjadi terbatas, khususnya lulusan baru.
Sektor-sektor padat karya melemah, sementara sektor berbasis teknologi dan modal berkembang tanpa diimbangi peningkatan keterampilan tenaga kerja secara sistematis.
Ketidakseimbangan ini menciptakan jurang antara kompetensi lulusan dan kebutuhan riil pasar kerja.
Peran Negara, Dunia Usaha, dan Lembaga Pendidikan
Persoalan lulusan dan lapangan kerja sejatinya merupakan tanggung jawab kolektif.
Negara memiliki peran strategis dalam merumuskan kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan yang terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi jangka panjang.
Dunia usaha tidak cukup hanya menjadi pengguna lulusan, tetapi perlu terlibat aktif dalam perancangan kurikulum, program magang, dan pengembangan kompetensi.
Sementara itu, lembaga pendidikan dituntut untuk melakukan transformasi paradigma: dari sekadar institusi pengajaran menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia yang adaptif, kritis, dan inovatif.
Pendidikan tidak lagi dapat berjalan dalam ruang hampa, terpisah dari realitas sosial dan ekonomi.
Menata Ulang Arah Pendidikan
Lulusan banyak dan lapangan kerja terbatas bukanlah pertanyaan tentang siapa yang harus disalahkan, melainkan tentang siapa yang harus berbenah.
Pendidikan perlu ditata ulang agar lebih relevan, kontekstual, dan berorientasi pada masa depan.
Tanpa pembenahan menyeluruh, pendidikan berisiko kehilangan daya transformatifnya dan justru menjadi bagian dari masalah sosial yang lebih besar.
Pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak hanya menjanjikan ijazah, tetapi juga harapan yang realistis bahwa ilmu yang dipelajari mampu memberi makna, kemandirian, dan kontribusi nyata bagi kehidupan bersama.
pengangguran
sumber daya manusia
sistem pendidikan
Universitas Islam Jember
Ahmad Halid
SURYA.co.id
surabaya.tribunnews.com
Meaningful
| Angka Kecelakaan Masih Tinggi, MTI Dorong Penguatan Sistem Transportasi Jawa Timur |
|
|---|
| Hubungan Iran-AS Mandek: Teheran Tuntut Trump Cairkan Dana USD 24 Miliar sebagai Bukti Keseriusan |
|
|---|
| Polisi Lamongan Pulangkan Ibu dan Dua Anak Peminta-Minta ke Surabaya |
|
|---|
| Eksekutor Penyekapan Kusnadi Belum Terima Bayaran Penuh, Kombes Luthfie: Pelaku Pandai Bersandiwara |
|
|---|
| Ribuan Warga Deklarasikan Arek Suroboyo Asli di Tugu Pahlawan Surabaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/PENGANGGURAN-BERPENDIDIKAN-Dr-Ahmad-Halid-SPdI-MPdI-Rektor-Univer.jpg)