Minggu, 26 April 2026

Lulusan Pendidikan Formal Banyak tapi Lapangan Kerja Terbatas, Ini Salah Siapa?

Dalam kerangka human capital theory, pendidikan seharusnya meningkatkan produktivitas individu dan memperluas peluang kerja.

Editor: irwan sy
IST/Dok Pribadi
PENGANGGURAN BERPENDIDIKAN - Dr Ahmad Halid SPdI MPdI, Rektor Universitas Islam Jember. Ahmad Halid mengungkapkan ada ketidaksinkronan antara pendidikan dengan ketenagakerjaan yang mengakibatkan terjadinya peningkatan angka educated unemployment, atau pengangguran yang berasal dari kelompok berpendidikan. 

Oleh: Dr Ahmad Halid SPdI MPdI,
Rektor Universitas Islam Jember

SURYA.co.id - Fenomena meningkatnya jumlah lulusan pendidikan formal yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja bukanlah sekadar problem statistik ketenagakerjaan, melainkan cermin dari persoalan struktural dalam sistem pendidikan dan pembangunan nasional.

Setiap tahun, lembaga Pendidikan dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi melahirkan jutaan lulusan baru.

Namun, realitas pasar kerja menunjukkan daya serap yang terbatas, bahkan stagnan.

Pertanyaannya, di mana letak persoalannya?

Paradoks Pendidikan dan Ketenagakerjaan

Secara teoritis, pendidikan dipahami sebagai instrumen utama peningkatan kualitas sumber daya manusia dan mobilitas sosial.

Dalam kerangka human capital theory, pendidikan seharusnya meningkatkan produktivitas individu dan memperluas peluang kerja.

Namun, ketika angka pengangguran terdidik justru meningkat, asumsi tersebut patut dievaluasi secara kritis.

Paradoks ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara sistem pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.

Pendidikan cenderung menghasilkan lulusan dalam jumlah besar, tetapi belum sepenuhnya relevan dengan dinamika ekonomi, perkembangan teknologi, dan kebutuhan industri.

Akibatnya, terjadi apa yang disebut sebagai educated unemployment, yakni pengangguran yang justru berasal dari kelompok berpendidikan.

Masalah Relevansi dan Orientasi Pendidikan

Salah satu persoalan mendasar terletak pada orientasi pendidikan yang masih dominan akademik dan kognitif.

Kurikulum sering kali menekankan penguasaan teori, tetapi kurang memberi ruang pada pengembangan keterampilan aplikatif, pemecahan masalah, kreativitas, dan adaptabilitas kompetensi yang justru menjadi kunci dalam pasar kerja kontemporer.

Di sisi lain, pendidikan tinggi masih berorientasi pada pencetakan pencari kerja (job seeker), bukan pencipta lapangan kerja (job creator).

Jiwa kewirausahaan, inovasi, dan keberanian mengambil risiko belum menjadi arus utama dalam ekosistem pendidikan.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved