'Setan Gepeng' dan Masa Depan Anak Kita
Setiap Iduladha, umat Islam mengenang peristiwa agung ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya
Oleh: Akhmad Muhaini, Dosen IAI An Nawawi Purworejo Jawa Tengah
Setiap Iduladha, umat Islam mengenang peristiwa agung ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Kisah ini bukan sekadar sejarah pengorbanan, tetapi pelajaran besar tentang pendidikan, ketaatan, dan pengendalian hawa nafsu. Al-Qur’an mengabadikan dialog penuh ketundukan itu:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Namun di zaman sekarang, ada “penyembelihan” lain yang justru sering gagal dilakukan oleh orang tua: menyembelih hawa nafsu. Bukan hawa nafsu anak saja, tetapi juga hawa nafsu orang tua yang sering memilih jalan mudah dalam mendidik anak.
Ketika HP Menjadi “Pengasuh Baru”
Hari ini banyak anak lebih dekat dengan layar dibanding dengan keluarganya. Gadget menjadi teman makan, teman tidur, bahkan “penenang” ketika anak menangis. Tak sedikit orang tua yang tanpa sadar menjadikan HP sebagai pengasuh praktis. Fenomena ini bahkan menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Koordinator PMK Pratikno menyebut screen time anak Indonesia sangat tinggi, bahkan mencapai lebih dari 7,5 jam per hari dan sudah memengaruhi kesehatan mental serta perilaku sosial anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga mengingatkan bahwa penggunaan gawai berlebihan dapat berdampak pada perkembangan emosi, perilaku, dan kemampuan sosial anak. (Kompas Health) Oleh Karena itulah sebagian masyarakat menyebut HP sebagai “setan gepeng”—bukan karena bendanya haram, tetapi karena dampaknya bisa merusak jika tanpa kontrol. HP memang kecil dan tipis. Tetapi dari benda kecil itu, anak bisa kehilangan waktu belajar, adab, bahkan kedekatan dengan keluarga.
Menyembelih Hawa Nafsu
Hakikat Iduladha bukan sekadar menyembelih hewan kurban, tetapi menyembelih hawa nafsu. Nabi Ibrahim AS berhasil menaklukkan ego dan rasa cintanya demi menaati Allah. Maka pertanyaannya: apakah kita mampu memotong hawa nafsu dalam mendidik anak? Kadang yang harus “disembelih” bukan anaknya, tetapi; rasa malas mendidik, kebiasaan memanjakan anak, dan ketergantungan pada gadget. Banyak orang tua merasa tenang ketika anak diam bermain HP. Padahal belum tentu anak sedang baik-baik saja.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini sangat relevan. Orang tua bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga pendidik utama bagi anak-anaknya.
Memotong Kesenangan yang Berlebihan
Anak tentu boleh bermain. Islam tidak melarang hiburan. Namun yang berbahaya adalah ketika kesenangan menjadi candu. Hari ini tidak sedikit anak yang; sulit lepas dari game, marah ketika HP diambil, malas belajar, bahkan kehilangan kemampuan bersosialisasi.
Fenomena ini bukan lagi cerita kecil. Banyak guru dan orang tua mulai merasakan perubahan perilaku anak akibat kecanduan layar. Beberapa diskusi masyarakat di media sosial bahkan menyoroti anak-anak yang lebih terbiasa “menggeser layar” dibanding membaca buku fisik. Di sinilah pentingnya ketegasan orang tua. Kadang cinta bukan berarti selalu menuruti keinginan anak. Justru cinta berarti berani membatasi sesuatu yang berbahaya bagi masa depan mereka.
Pondok Pesantren: Benteng Pendidikan Karakter
Karena itu, banyak orang tua mulai kembali melirik pondok pesantren, sekolah Islam, dan madrasah diniyah sebagai benteng pendidikan anak. Bukan sekadar untuk belajar agama, tetapi untuk membentuk karakter; disiplin, adab, kemandirian, dan kontrol diri. Di pesantren, anak belajar bahwa hidup bukan hanya tentang hiburan dan layar digital. Mereka belajar menghormati guru, mengatur waktu, hidup sederhana, dan membangun kedekatan spiritual dengan Allah.
Allah SWT berfirman:
Meaningful
| Layanan Gratis Omah Terapi-KU, Membantu Anak dan Lansia Pulih Fisik dan Mental |
|
|---|
| Blue Bird Jalankan Armada Kendaraan Listrik di Surabaya Perkuat Layanan Multimoda |
|
|---|
| Tata Kelola Ekspor SDA, Pengawasan dan Kepastian Usaha Modern, Terintegrasi dan transparan. |
|
|---|
| Khutbah Jumat: Pentingnya Tabayyun oleh Moh Syukron Aby |
|
|---|
| Dosen UPN Veteran Jatim Beri Pelatihan Literasi Digital bagi UMKM Gunung Anyar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Bulan-Ramadhan-selalu-dinanti-jutaan-umat-Islam-di-Indonesia-UMKM.jpg)