Sabtu, 9 Mei 2026

Perang Iran Israel

Sosok Bernie Sanders Senator AS yang Semprot Trump dan Netanyahu Imbas Perang Iran Berkepanjangan

Bernie Sanders mengecam Trump dan Netanyahu atas perang Timur Tengah yang dinilai memperpanjang krisis dan mengguncang ekonomi dunia.

Tayang:
Wikimedia Commons
SEMPROT - Foto Senator AS Bernie Sanders yang diambil dari Wikipedia, Bernie secara tegas mengkritik Trump dan Netanyahu yang menyebabkan perang iran berkepanjangan. 

Ia menang pemilu legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada tahun 1990 mewakili dapil tunggal Vermont; ia salah satu anggota pendiri Kaukus Progresif Kongres. Sanders menjabat sebagai anggota DPR selama 16 tahun, lalu terpilih sebagai anggota Senat tahun 2006. Ia kembali terpilih sebagai senator pada tahun 2012 dan 2018.

Pada April 2015, Sanders menyatakan maju sebagai calon presiden Amerika Serikat lewat Konvensi Partai Demokrat. Meski peluang menangnya kecil, ia memenangi 23 pemilihan pendahuluan dan kaukus serta 43 persen suara delegasi partai (55 % sisanya dimenangi Hillary Clinton). Kampanye Sanders dikenal karena antusiasme pendukungnya, tidak bergantung kepada sumbangan perusahaan, industri keuangan, maupun komite politik independen. Pada Juli 2016, ia mendukung Clinton dalam kampanye pencapresannya melawan Donald Trump dari Partai Republik. Pada Februari 2019, Sanders mengumumkan maju lagi sebagai calon presiden dan memperebutkan pencalonan resmi partai bersama belasan calon lainnya. Ia mengakhiri kampanye pencapresannya pada 8 April 2020.

Trump Mainkan Strategi “Tekanan Maksimal”

Langkah Trump mempertahankan blokade sambil membuka ruang negosiasi menunjukkan strategi “tekanan maksimal” terhadap Iran.

Pendekatan ini berupaya memaksa lawan berunding dari posisi tertekan, tetapi juga membawa risiko eskalasi lebih besar.

Di sisi lain, kemunculan Bernie Sanders sebagai pengkritik utama memperlihatkan adanya perpecahan pandangan di internal politik Amerika soal arah kebijakan Timur Tengah.

Jika diplomasi gagal berjalan efektif, konflik di sekitar Selat Hormuz berpotensi memicu dampak ekonomi global yang lebih luas, terutama terhadap harga energi dan stabilitas pasar internasional.

Jadikan SURYA.co.id preferensi beritamu dengan mengklik tautan ini

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved