Sabtu, 9 Mei 2026

Sekolah Rakyat di Jawa Timur

Rekrutmen Calon Siswa Pakai Skema Jemput Bola, Guru Sekolah Rakyat Siap Anti Titipan

Para Guru di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Unesa Surabaya, menyambut positif skema jemput bola

Tayang:
Surya.co.id/Febrianto Ramadani
SEKOLAH RAKYAT - Suasana kegiatan belajar mengajar di salah satu kelas Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Unesa Surabaya, Kamis (23/4/2026),jam 12.00 WIB. Para murid mendengarkan pemaparan dari salah satu kelompok, yang mempresentasikan soal Gas Efek Rumah Kaca. Menjelang Tahun Ajaran Baru, Kemensos menerapkan rekrutmen calon murid baru Sekolah Rakyat dengan metode jemput bola 

Ringkasan Berita:
  • Guru SRMA 21 Unesa Surabaya menyambut positif skema jemput bola penerimaan siswa baru agar tepat sasaran bagi anak keluarga miskin (desil 1–2).  
  • Metode ini dinilai mampu menghapus praktik titipan dan intervensi, karena berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) melalui pendamping PKH.  
  • Sekolah menegaskan tujuan utama program adalah memutus rantai kemiskinan dengan memberi akses pendidikan gratis bagi siswa yang membutuhkan.  

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Para Guru di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Unesa Surabaya, menyambut positif skema jemput bola, yang diterapkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos).

Metode tersebut diterapkan dalam proses penerimaan calon siswa siswi baru Sekolah Rakyat, menjelang tahun ajaran baru 2026/2027.

Solusi Agar Tepat Sasaran

Staf Humas sekaligus Guru Biologi SRMA 21 Unesa Surabaya, Ade Winta Sri Lestari, mengatakan, langkah jemput bola bisa menjadi solusi, agar penerima manfaat dari salah satu Program Strategis Nasional (PSN), tepat sasaran.

Baca juga: Rekrutmen Jemput Bola Sekolah Rakyat, Pakar Pendidikan Unair : Perlu Perbaikan Data

“Harus berasal dari anak keluarga desil 1 desil 2. Selain dapat dirasakan langsung oleh anak anak yang ingin berniat sekolah, juga efektif mengentaskan kemiskinan,” ujar Ade Winta, ditemui SURYA.co.id di Gedung Laboratorium Anti Doping, Lantai 3-4, Kampus 2 UNESA Lidah Wetan, Lakarsantri, Surabaya, Kamis (23/4/2026) pukul 12.30 WIB.

Sebelum adanya jemput bola, pihaknya mengaku kerap menerima pesan langsung dari belasan orang tua di akun resmi media sosial.

“Banyak yang bertanya kepada kami terkait sistematika pendaftaran murid Sekolah Rakyat. Antusias mereka tinggi. Maka dari itu, harapannya tidak hanya jemput bola, tapi juga rekrutmen terbuka,” ungkapnya.

Hapus Pandangan Tentang Titipan dan Intervensi

Ia menilai, upaya jemput bola dapat menghapus pandangan negatif masyarakat, akan praktik titipan maupun intervensi dalam proses seleksi murid baru Sekolah Rakyat.

“Kami setuju dengan statement Pak Menteri, karena kalau sudah ada titip titipan takutnya yang dapat kursi bukan anak dari keluarga miskin. Dampaknya dikhawatirkan tidak mampu beradaptasi, akhirnya mengundurkan diri,” terangnya.

Jemput Bola Berdasarkan DTSEN

Menurutnya, Dinas Sosial melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), jemput bola berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Para PKH menaungi keluarga dari Desil 1 Desil 2, yang juga menerima bantuan dari Kemensos. Kemudian ketika dari penerima PKH memiliki anak akan masuk SMA, atau mungkin putus sekolah karena tidak mampu membayar, nanti akan didata,” paparnya.

Dirinya menjelaskan, setelah didata oleh petugas, kemudian akan ditindaklanjuti diarahkan masuk ke Sekolah Rakyat.

Selanjutnya, apabila nanti ada kandidat calon siswa, maka akan berkoordinasi bersama pihak terkait.

“Kami lebih ke pengumpulan data, untuk pengurusan yang pertama pasti ada data pokok pendidikan atau Dapodik, itu wajib masuk karena kadang kendala kami ketika anak-anak sudah masuk, ternyata Dapodik mereka ganda karena sebelumnya di sekolah lama masih belum tercatat keluar sekolah,” jelasnya.

Siswa Siap Ikuti Aktivitas Pembelajaran

Ade Winta juga menuturkan, sebagian besar murid baru yang masuk ke Sekolah Rakyat pada awal semester, merupakan tamatan SMP, sehingga mereka sudah siap mengikuti aktivitas pembelajaran.

“Kami selaku pihak sekolah menerima siswa dengan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Kemensos, karena Sekolah Rakyat ini tujuannya untuk memutus rantai kemiskinan, jadi harus dari anak yang membutuhkan sekolah gratis, dari Desil 1 Desil 2,” tandas Ade Winta.

BACA BERITA SURYA.co.id LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved