Selasa, 28 April 2026

Liputan Khusus

Ini yang Dilakukan Satgas Pangan Lamongan, Pasca Pemerintah Perangi Beras Premium Oplosan

Peredaran beras premium di Lamongan bisa dikendalikan dengan intens melakukan pengecekan di pasaran, toko retail.

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id/Hanif Manshuri
ANTISIPASI BERAS OPLOSAN - Suasana Penggilingan padi milik Ahmad Sakroni di Kabupaten Lamongan Jawa Timur, Rabu (14/8/2025). Beredarnya beras premium oplosan menjadi perhatian serius Satgas Pangan, tidak terkecuali di Kabupaten Lamongan Jawa Timur. 

SURYA.CO.ID LAMONGAN - Beredarnya beras premium oplosan menjadi perhatian serius Satgas Pangan, tidak terkecuali di  Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

Peredaran beras premium di Lamongan bisa dikendalikan dengan intens melakukan pengecekan di pasaran, toko retail.

Lalu bagaimana dengan para pemilik huler atau penggilingan padi yang juga pembeli gabah dari petani di Lamongan 

Harga gabah di Lamongan terus merangkak naik dari hari ke hari.

Kini harga kering sawah untuk gabah hasil panen di wilayah tambak tembus diangka Rp 7, 500 hingga 7, 800 per kilogram kering sawah.

Baca juga: Pasar Baru Gresik Tak Terpengaruh Beras Oplosan, Pedagang Berharap Ada Subsidi Transportasi

Sementara harga gabah di lahan tadah hujan Rp 7000 perkilo untuk kering sawah, dan kering giling tembus Rp 8000 perkilogram.

"Bagi kami pengusaha penggilingan yang juga pembeli gabah, harga gabah sampai setinggi itu cukup menyusahkan," kata pemilik penggilingan padi di Sukodadi, Ahmad Sakroni saat ditemui SURYA, Rabu (13/8/2025).

Kebijakan pemerintah dengan harga gabah terendah Rp 6.500 perkilo saat awal diberlakukan memang cukup baik, baik bagi petani maupun pengusaha gabah atau pemilik penggilingan padi.

Baca juga: Cerita Pemilik Penggilingan Beras Tulungagung : Pabrik Besar Masih Serap Gabah Meski Produk Ditarik

Tapi semakin hari, harga yang berlaku di ditingkat petani sudah sangat tinggi. " Harga gabah memang sudah sangat tidak wajar, terlalu tinggi," kata Sakroni.

Ia menduga ada unsur permainan ditingkat para pengusaha besar yang mempermainkan harga, setelah  kebijakan pemerintah mematok harga gabah terendah.

Saat ada tengkulak atau juragan gabah membeli dengan harga dibawah Rp 6.500 perkilo, aparat cepat bertindak sampai terjun ke sawah.

"Harapannya, dengan harga yang tinggi saat ini, pemerintah juga harus mengambil solusi. Karena ini memberatkan bagi kami pemilik penggilingan," ungkapnya.

Bagi pengusaha penggilingan, ketika dihadapkan dengan harga gabah yang kini tembus Rp 8000 per kilo, menyulitkan.

"Kalau gabah Rp 8.000 per kilo, mestinya harga harga harus Rp 15 ribu perkilo," katanya.

Tapi dalam kenyataannya, pemilik huler hanya bisa menjual di pasaran Rp 13.000 perkilo. Harga itu, untungnya hanya pas-pasan. "Bisa bertahan saja,  dengan harga Rp 13.000 perkilo," tambahnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved