JCI Jatim Gulirkan Walk For Autism di Surabaya, Bekali dan Kuatkan Kepedulian Masyarakat Pada ABK

bertujuan untuk education. Memberikan pendidikan kepada guru maupun orangtua dalam bagaimana menghadapi anak autis

surya/Bobby Constantine Koloway (Bobby)
PEDULI AUTIS - Junior Chamber International (JCI) East Java menggelar Walk for Autism di Surabaya, Minggu (3/8/2025). Merupakan kegiatan kampanye sosial, JCI East Java ingin mengajak sebagian besar masyarakat terlibat dalam dukungan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). 

SURYA.CO.ID, KOTA SURABAYA - Untuk kali kesembilan, Junior Chamber International (JCI) East Java menggelar Walk for Autism di Surabaya, Minggu (3/8/2025). 

Kegiatan ini merupakan kampanye sosial, di mana JCI East Java ingin mengajak sebagian besar masyarakat terlibat dalam dukungan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Melibatkan 200 siswa dari sekolah inklusi Surabaya, mereka diajak untuk mengikuti berbagai rangkaian yang memicu kreativitas anak. 

"Hari ini ada main bareng anak-anak, menghias tumpeng, membuat kolase, hingga melukis," kata Executive Vice President (EVP) Social & Community Action JCI East Java, Edison Njotdjodjo, di sela acara tersebut.

Acara ini menjadi agenda tahunan JCI East Java yang tujuannya menumbuhkan semangat kepedulian terhadap anak-anak autis

Menurutnya, seperti halnya anak non-disabilitas, anak autis seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang di berbagai bidang.

"Ini menjadi program JCI yang kami lakukan tiap tahunnya. Tujuannya menumbuhkan awareness terhadap autism, apa sih autism itu? Juga agar memberikan acceptance agar masyarakat itu mengerti dan menerima karena mereka (autis) memiliki hak yang sama seperti kita," lanjut Edison.

"Ini juga bertujuan untuk education. Memberikan pendidikan kepada guru maupun orangtua dalam bagaimana menghadapi anak autis," tambahnya.

Tidak cukup di situ, JCI sebagai organisasi kepemudaan internasional turut menjembatani anak autis untuk mulai mengenal dunia kerja. Menurutnya, para autis tetap memiliki potensi di dunia kerja sehingga membuka peluang mereka mandiri di masa depan.

"Kami juga menghadirkan kegiatan training for work. Kami mengajak anak-anak di sini untuk mengenal dunia kerja. Sehingga tujuannya menyangkut awareness, acceptance, education, dan traning for work," lanjutnya.

Menurutnya, jumlah autis saat ini tidaklah sedikit. Mengutip penelitian global, angka prevalensi autis mencapai 1:36 hingga 1:100 angka kelahiran. Bahkan WHO memperkirakan prevalensi autisme sekitar 1 dari 100 anak secara global.

"Angka (prevalensi) mencapai 1:30 angka kelahiran. Jadi cukup banyak. Kami ingin menumbuhkan awareness," katanya.

Masyarakat harus memiliki kesadaran untuk memberikan ruang kepada anak-anak autis. Baik dari sisi pendidikan, kesehatan, hingga sosial masyarakat lainnya.

"Autis bukan anak-anak yang harus kita pinggirkan. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk kehidupan yang layak seperti kita. Kalau dididik dengan baik, mereka juga bisa menjadi sesuatu yang luar biasa," ia menjelaskan.

Selain melalui kegiatan seperti ini, JCI juga secara rutin memberikan beasiswa pendidikan kepada anak-anak autis. Selama dua tahun terkahir, organisasi internasional tersebut mengalokasikan beasiswa kepada puluhan anak autis.

"Tahun ini ada beasiswa yang juga kami lakukan di 8 lembaga pendidikan. Kami membantu siswa autis yang berasal dari keluarga dengan ekonomi yang kurang bagus," ungkap Edison.

Acara ini mendapat antusiasme para peserta. Di antaranya adalah Atika yang berasal dari SD Negeri di Surabaya. "Acaranya seru. Bisa sekalian mendapatkan teman dan mencoba hal baru," kata Atika di sela acara. ****

 

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved