Mendikdasmen Jelaskan Sekolah Rakyat Untuk Siswa Tak Mampu, Tak Pengaruhi Lembaga Pendidikan Formal

para siswa Sekolah Rakyat bisa masuk kapan saja, tidak harus seperti sekolah formal yang masuk bersama, belajar dengan mata pelajaran sama

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Deddy Humana
surya/Hanif Manshuri (Hanif Manshuri)
BEDA KONSEP PENGAJARAN - Mendikdasmen RI, Abdul Mu'ti meninjau proses belajar mengajar di salah satu sekolah di Lamongan, Rabu (23/4/3035). Mu'ti tidak mempersoalkan proyek Sekolah Rakyat yang digagas Kemensos. 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Abdul Mu'ti memberi jawaban atas kekhawatiran terjadinya kerancuan dalam penyelenggaraan pendidikan antara Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementrian Sosial (Kemensos) dengan adanya Sekolah Rakyat.

Dalam kunjungannya ke Lamongan, Rabu (23/4/2025), Mu'ti menjelaskan bahwa  lembaga pendidikan formal atau sekolah-sekolah yang existing tidak terpengaruh dengan keberadaan Sekolah Rakyat yang ditangani Menteri Sosial.

"Skema Sekolah rakyat itu berbeda,  karena dikhususkan untuk masyarakat yang secara ekonomi tidak mampu dan polanya berbeda dengan sekolah formal," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) saat berada di SMAN 1 Lamongan.

Selain itu, lanjut Mu'ti, kurikulumnya juga didesain multi entry dan multi exit sehingga para siswa Sekolah Rakyat bisa masuk kapan saja, tidak harus seperti sekolah formal yang masuk bersama, belajar dengan mata pelajaran yang sama. 

Model Sekolah Rakyat bukan seperti sekolah formal, sehingga tidak ada persoalan dengan sekolah yang sekarang ini sudah berkembang dan juga tidak sama dengan sekolah paket A, B dan C.

Mu'ti  mendukung sepenuhnya program Sekolah Rakyat dan sesuai Inpres yang terbaru,  meski penyelenggarannya menjadi tugas dari Kemensos.

Dalam pelaksanaannya, Kemendikdasmen dilibatkan dalam dua bidang, pertama adalah untuk pengadaan dan rekrutmen pendidikan, yang kedua adalah untuk desain kurikulum.

"Progress dan sebagainya mungkin sebaiknya ditanyakan kepada Pak Menteri Sosial karena beliau yang memang ditugaskan presiden untuk melaksanakan program itu," ujar Mu'ti.

Namun secara kelembagaan ia sudah berkomunikasi untuk pengembangan atau penyusunan kurikulum dan rekrutmen tenaga pengajar di Sekolah Rakyat.

Mu'ti menerangkan, untuk jumlah guru atau tenaga pendidik Sekolah Rakyat sudah disiapkan sedangkan untuk jumlah yang dibutuhkan belum diketahui.

Dan baru diketahui kebutuhan gurunya, ketika nanti Sekolah Rakyat itu sudah dibuka. Dan Mu'ti berharap program pendidikan untuk anak dari keluarga miskin ini bisa segera berjalan dengan sebaik-baiknya. ****

 

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved