Lebaran Idul Fitri 2025

Tidak Ada Arak-arakan Lebaran Ketupat Durenan Trenggalek, Ini Alasannya

Kepala Desa Durenan, Imam Syafi'i mengatakan keputusan tersebut telah dimusyawarahkan bersama terutama dengan kepanitiaan perayaan lebaran ketupat.

surya.co.id/sofyan
BEREBUT - Tradisi Purak Tumpeng Ketupat di Lapangan Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek dalam rangka lebaran ketupat tahun 1445 H, Rabu (17/4/2024). Tahun 2025 arak-arakan tumpeng ketupat ditiadakan karena terdampak efisiensi anggaran. 

SURYA.CO.ID TRENGGALEK - Arak-arakan tumpeng dalam rangka perayaan Lebaran Ketupat di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek tahun ini ditiadakan.

Hal ini karena anggaran yang biasanya digunakan untuk acara tahunan tersebut terdampak efisiensi.

Kepala Desa Durenan, Imam Syafi'i mengatakan keputusan tersebut telah dimusyawarahkan bersama terutama dengan kepanitiaan perayaan lebaran ketupat.

"Dengan pertimbangan adanya efisiensi anggaran dan ekonomi masyarakat yang lesu maka perayaan arak-arakan lebaran ketupat ditiadakan," kata Kepala Desa Durenan, Imam Syafi'i, Minggu (6/4/2025).

Walaupun arak-arakan ditiadakan, Imam memastikan tradisi silaturahmi ke tokoh agama di pondok pesantren dan juga sanak saudara tetap berjalan. 

Baca juga: Festival Budaya Kupatan Tanjung Kodok 2025 di Lamongan, Lestarikan Tradisi Leluhur

Untuk itu, tidak adanya arak-arakan lebaran ketupat sebenarnya tidak menjadi masalah besar karena tradisi utama dari lebaran ketupat adalah silaturahmi tersebut.

"Sebenarnya kan silaturahmi warga ke ndalem (rumah) kiai, gus-gus pondok pesantren itu yang menjadi kegiatan sakralnya," tambahnya.

Begitu juga tradisi ketupat gratis di rumah - rumah warga tetap disediakan berdasarkan kemampuan masing-masing warga. 

Namun biasanya di rumah tokoh masyarakat dan tokoh agama akan disediakan lebih banyak. Seperti Syafii sendiri menyediakan lebih kurang 250 porsi.

"kalau ndalemnya pondok ya lebih banyak lagi karena tamunya semakin banyak," tambahnya.

Baca juga: Meriahnya Festival Ketupat di Taman Ngembag Ponorogo, Daya Tarik Wisatawan Sekaligus Uri-uri Budaya

Lebih lanjut, Syafi,'i menceritakan arak-arakan tumpeng ketupat raksasa sudah berlangsung sejak tahun 2009 silam. Hanya sempat terhenti karena Covid 19, setelah itu tu diadakan kembali sampai 2024.

"Nah 2025 karena kondisi ekonomi kita seperti ini. Sehingga panitia menyimpulkan ditiadakan," ucapnya.

Sementara itu, seorang warga Kecamatan Durenan, Jazuli mengaku tidak keberatan dengan ditiadakannya arak-arakan tumpeng lebaran ketupat.

Menurutnya arak-arakan tersebut hanya pelengkap agar lebaran ketupat semakin meriah.

"Yang lebih utama adalah kita tetap bisa sowan bersilaturahmi ke ndalem (rumah) ulama dan kiai," pungkasnya. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved