Hikmah Ramadan 2025
Merawat Kemabruran Puasa 18 - Dari Tahmid ke Syukur
Tahmid ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dan karunia Allah SWT, Sedangkan syukur lebih dari sekedar bertahmid.
Oleh : Menteri Agama, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA
SURYA.CO.ID - Tahmid ialah ungkapan spontanitas seseorang yang baru saja merasakan nikmat dan karunia Allah SWT dengan mengucapkan kata Alhamdulillah.
Kata ini berasal dari akar kata hamida-yahmadu, berarti segala puji hanya tertuju kepada Allah SWT.
Sedangkan syukur lebih dari sekedar bertahmid. Syukur berasal dari kata syakara-yasykuru berarti bersyukur, berterima kasih.
Sedangkan menurut istilah oleh sebagian ulama, dikatakan mengeluarkan hak-hak orang lain dari nikmat Allah yang kita peroleh, misalnya mengeluarkan zakat minimal 2,5 persen sebagai zakat ditambah dengan sadaqah dan berbagai bentuk pemberian lainnya kepada mereka yang berhak.
Menurut para ahli hakikat syukur adalah menyandarkan segala nikmat kepada pemberi nikmat dengan sikap rendah diri. Atas dasar pengertian inilah, Allah SWT mempunyai sifat asy-syakûr, syukur yang sangat luas.
Allah SWT memberikan balasan kepada para hamba-Nya atas kesyukurannya. Al-Junaid mengatakan, syukur ialah engkau tidak memandang dirimu sebagai pemilik nikmat.
Syâkir adalah orang yang mensykuri atas adanya pemberian, sedang syakûr mensyukuri atas penolakan.
Ada juga yang mengatakan, syâkir adalah orang yang mensyukuri atas nikmat, sedangkan syakûr adalah mensyukuri atas musibah yang menimpanya.
Menurut Al-Syiblî, syukur ialah melihat kepada pemberi nikmat dan bukan kepada nikmatnya.
Pernyataan ini diperkuat dengan ucapan Nabi Ayyub AS yang bersikap sabar terhadap musibah yang menimpanya, sehingga ia disebut sebagai hamba yang sebaik-baiknya.
Demikian juga Nabi Sulaiman AS yang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya, sehingga ia disebut juga sebagai hamba yang sebaik-baiknya.
Hal ini disebabkan karena keduanya konsentrasi pada pemberi nikmat dan bukan pada musibah dan nikmat itu, sehingga dengan demikian keduanya tidak merasakan sama sekali rasa sakit dan nyaman.
Syukur ada tiga macam. Syukur dengan lisan, inilah yang populer, syukur dengan hati, yaitu menyadari sepenuhnya atas segala apa yang saksikan di bumi yang luas dan tetap konsisten menjaga kehormatan, serta syukur dengan aktualisasi diri.
Syukur kedua mata, adalah menahan dan menghindari dari segala yang diharamkan Allah atas keduanya dan dari segala aib orang.
| Renungan Spiritual dan Sosial di Penghujung Ramadhan : Sudahkah Kita Menjadi Pribadi yang Fitri ? |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa - Dari Salam, Islam dan ke Istislam |
|
|---|
| Puasa Ramadhan di Indonesia, Indah dan Nikmat ! |
|
|---|
| Merawat Kemabruran Puasa - Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati |
|
|---|
| Kebutuhan Ramadhan Meningkat, Pinjol Solusinya? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Prof-Dr-KH-Nasaruddin-Umar-MA-432025.jpg)