Kamis, 23 April 2026

Hikmah Ramadan 2025

Merawat Kemabruran Puasa - Dari Salam, Islam dan ke Istislam

Islam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki seperangkat konsepsi nilai dan norma (value & norm). 

Editor: Cak Sur
Istimewa
Menteri Agama, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA. 

Oleh : Menteri Agama, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA

SURYA.CO.ID - Huruf sin, lam, mim (salima) sebuah akar kata yang membentuk kata Salam (damai), Islam (kedamaian), Istislam (pembawa kedamaian) dan Taslim (ketundukan,  kepasrahan dan ketenangan). 

Salam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian lebih umum. 

Islam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki seperangkat konsepsi nilai dan norma (value & norm). 

Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, rigid dan sempurna (perfect). 

Allah SWT memberi nama agamanya yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dengan agama Islam. Bukan agama salam (kepasrahan tanpa konsep). Bukan juga agama istislam yang lebih mengutamakan kecepatan, ketegasan dan kesempurnaan dalam memperjuangkan kedamaian dan kepasrahan). 

Kata Islam itu sendiri mengisyaratkan jalan tengah atau moderat (tawassuth). 

Di dalam Alquran disebutkan: Inna al-dina 'inda Allah al-islam (Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam/Q.S. Ali Imran/3:19), man yabtagi gair al-islam dinan falan yuqbala minhu (Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya/Q.S. Ali Imran/3:19).

Perhatikan ayat-ayat tersebut, di atas semuanya menggunakan kata al-islam, dengan menggunakan alif ma'rifah (al), bukan islam dalam bentuk nakirah, bukan juga salam atau istislam. 

Ini semua menunjukkan bahwa dari segi bahasa saja al-islam (Islam) sudah mengisyaratkan jalan tengah, moderat dan sudah barang tentu menolak kekerasan dan keonaran.

Seharusnya. seorang muslim (orang yang beragama Islam) itu mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan dan pada akhirnya merasakan ketenangan lahir batin. 

Agaknya kontradiktif jika panji-panji Islam dibawa-bawa untuk sesuatu menyebabkan lahirnya kekacauan dan ketidaknyamanan. Apa lagi jika atas nama Islam digunakan untuk melayangkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa, sangat tidak sepadan dengan kata Islam itu sendiri.

Kelompok minoritas liberal muslim memaknai Islam dengan konteks salam, yang lebih bersifat inklusif-substantif,  sementara kelompok minoritas radikal muslim lebih memaknai Islam dengan konteks istislam, yang menuntut adanya intensitas dan semangat progresif di dalam mewujudkan nilai dan norma Islam

Kelompok mainstream muslim memaknainya sebagai sistem nilai dan norma kemanusiaan yang terbuka. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved