Liputan Khusus

Pansus Yekape: Developer Milik Pemkot Harus Wujudkan Hunian Murah Warga Surabaya

Developer milik Pemerintah Kota Surabaya, PT Yekape diharapkan bisa meningkatkan peran memenuhi kebutuhan dasar warga akan rumah

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Nuraini Faiq
Eri Irawan, Ketua Pansus PT Yekape yang juga Ketua Komisi C DPRD Surabaya. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Perusahaan properti atau developer milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, PT Yekape akan bertransformasi menjadi perseroan terbatas daerah (Perseroda). 

Saat ini, prosesnya masih dibahas di Panitia Khusus (Pansus) Yekape di DPRD Surabaya.

Ketua Pansus Yekape, Eri Irawan, mengatakan bahwa transformasi PT Yekape menjadi Perseroda, diharapkan bisa menjadi momentum untuk meningkatkan peran dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar warga akan rumah.

Baca juga: Membedah Rusunami Murah di Wonorejo, Pertama di Surabaya, Lebih Mirip Apartemen Sederhana

Eri yang juga Ketua Komisi C DPRD Surabaya itu, mendorong agar PT Yekape segera bisa bekerja sama dengan perusahaan properti swasta. 

Yaitu, membentuk perusahaan patungan (joint venture) untuk mempercepat pembangunan hunian terjangkau bagi masyarakat. Termasuk hunian vertikal.

Kebutuhan akan hunian di Surabaya makin mendesak. Namun harga rumah makin tak terjangkau. Apalagi bagi warga dengan penghasilan pas-pasan, atau bahkan dari keluarga kurang mampu. 

Pemkot Surabaya sebenarnya punya fasilitas rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa).

Namun, antrean rusunawa yang disediakan Pemkot Surabaya, saat ini mencapai sekitar 12.000. 

Sampai kapan warga Surabaya bisa menikmati hunian murah ini? Eri mendorong agar PT Yekape bisa ikut menjadi bagian dalam persoalan pemenuhan kebutuhan hunian warga ini.

Konsepnya adalah Rusunami atau Rumah Susun Sederhana Milik. 

Selama ini, memang muncul mindset miring jika tinggal di rusun. 

Tinggal di rusunami adalah kesadaran, bahwa ruang semakin terbatas dan harus diefisienkan untuk keberlanjutan kehidupan.

Eri menegaskan, bahwa hunian vertikal tetap menjadi jawaban atas semakin berkurangnya ketersediaan lahan di Surabaya. Ini bukan hanya bicara soal harga tanah, tapi juga penataan ruang.

"Jangan semua lahan, apalagi yang bisa digunakan sebagai resapan air, kemudian berubah menjadi permukiman maupun kawasan komersial," tegasnya.

Satu lagi hal yang perlu ditekankan, rusun sederhana bisa dibangun di wilayah yang tidak terlalu jauh dari pusat kota. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved