Harga Turun Rp 4 Juta, Wabah Penyakit Mulut & Kuku Bikin Peternak Sapi Potong di Tulungagung Merugi

Disnakkeswan Tulungagung mencatat ada 77 sapi yang terserang penyakit mulut dan kuku (PMK) dan 2 di antaranya mati

Penulis: David Yohanes | Editor: irwan sy
david yohanes/surya.co.id
Agus Sunarso, peternak sapi potong asal Desa Sumberingin Kulon, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, menunjukkan stok jamu untuk mencegah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Tulungagung mencatat ada 77 sapi yang terserang penyakit mulut dan kuku (PMK) dan 2 di antaranya mati hingga, Jumat (3/1/2025).

Serangan PMK kali ini dialami sapi jenis pedaging, belum ada laporan kasus pada sapi perah, kambing maupun babi.

Peternak asal Desa Sumberingin Kulon, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, Agus Sunarso, mengatakan wabah PMK ini telah membuat para peternak merugi karena membuat harga sapi turun sekitar Rp 3-4 juta per ekor.

Baca juga: Puluhan Sapi di Tulungagung Dilaporkan Terserang PMK, Begini Respons Disnakkeswan

Penurunan harga sudah terjadi sejak 2 kali pasaran di Pasar Hewan Terpadu (PHT), yang beroperasi setiap Pahing di penanggalan Jawa.

“Belum genap 1 bulan, pokoknya 2 pasaran ini harganya sudah mulai turun,” ujar Agus saat ditemui di kandang sapi miliknya, Jumat (3/1/2025).

Akibat penurunan harga ini, Agus memilih untuk tidak menjual sapi-sapinya.

Namun Agus mengaku harus merugi karena menanggung biaya pakan dan vitamin untuk 20 ekor sapi miliknya.

Jika dalam situasi normal, ada sapi-sapi yang seharusnya dijual agar mendapatkan untung, dan dibelikan sapi baru.

Agus juga tidak berani mendatangkan sapi-sapi baru karena khawatir membawa virus PMK hingga menulari sapi lain.

“Jadi tidak berani jual dan tidak berani beli. Ditahan saja, dipelihara sampai situasi memungkinkan,” tambahnya.

Pada serangan PMK di tahun 2022, sapi-sapi milik Agus banyak yang ikut terjangkit.

Petugas Disnakkeswan Tulungagung memberikan layanan vaksinasi untuk mencegah PMK pada sapi-sapi miliknya.

Namun Agus juga mengandalkan resep jamu untuk menjaga kesehatan sapi-sapi miliknya.

Jamu ini dibuat dari campuran kunyit, temulawak, air cucian beras dan campuran tetes tebu, lalu difermentasi selama seminggu.

Ramuan jamu ini rutin diberikan setiap pagi dan sore hari.

Khasiatnya dipercaya menjaga sapi selalu dalam keadaan sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk menghadapi virus.

“Selain menjaga nafsu makan, penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Sapi-sapi saya tidak ada yang sakit,” katanya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved