SURYA Kampus

Kisah Tri Jaka Mahasiswa Disabilitas Tuli yang Lulus S1 di Unesa, Perjuangannya Diacungi Jempol

Di tengah keterbatasan indera pendengaran alias Tuli, Tri Jaka Setiyo Prawisma tetap semangat menyelesaikan pendidikan S1 di Unesa. Begini kisahnya

Penulis: Arum Puspita | Editor: Musahadah
Unesa
Tri Jaka, mahasiswa S1 Pendidikan Jasmani dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), Universitas Negeri Surabaya (Unesa). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Di tengah keterbatasan indera pendengaran alias Tuli, Tri Jaka Setiyo Prawisma tetap semangat menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Mahasiswa S1 Pendidikan Jasmani dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) ini dinyatakan lulus ujian skripsi di Ruang Ujian, Gedung FIKK, Kampus 2 Lidah Wetan, Senin (14/10/2024).

Tri Jaka merampungkan studinya dalam waktu 4,2 tahun.

Pencapaian Tri Jaka diacungi jempol oleh Koordinator Program Studi (Koorprodi) PJKR, Mochamad Ridwan.

Menurut Ridwan, Tri Jaka termasuk mahasiswa yang tekun kuliah.

Selama kuliah, ia menunjukkan hasil yang bagus.

"Keterbatasan ini tidak menghalangi Jaka untuk mengikuti perkuliahan secara aktif," terangnya.

Baca juga: Sosok Tri Jaka Setiyo Prawisma, Keterbatasan Tak Halangi Tekad Raih Gelar Sarjana Prodi PJKR Unesa

Tri Jaka, kata Ridwan, juga pantang menyerah jika pada beberapa kesempatan kurang memahami materi dari dosen.

Biasanya, dia sering meminta penjelasan ulang secara perlahan agar lebih mudah dipahami di akhir sesi perkuliahan.

Para dosen pun menyesuaikan metode pengajarannya agar bisa dipahami Tri Jaka.

"Kelasnya mereka itu kan isinya 40 mahasiswa. Jaka tidak menghadapi kendala besar."

"Penyesuaian yang dilakukan hanyalah pada metode penyampaian materi oleh dosen, yang diberikan sedikit berbeda dibandingkan dengan mahasiswa pada umumnya," bebernya.

Ridwan juga mengapresiasi orangtua Tri Jaka yang sangat mendukung perkembangan akademik anaknya.

Orang tua Jaka aktif berkomunikasi dengan para dosen pembimbing akademik atau DPA untuk memantau perkembangan anaknya.

Selain itu, mahasiswanya tersebut juga rutin mengunjungi ruang koordinator program studi (koorprodi) untuk meminta bimbingan teknis terkait perkuliahan.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved