Berita Bangkalan

Ops Zebra Semeru Bidik Pemicu Kecelakaan, Akibat Rendahnya Kesadaran Masyarakat Berlalu Lintas

Namun jika dilihat dari angka fatalitas laka lantas yaitu korban meninggal dunia masih cukup tinggi, sebanyak 3.570 jiwa

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Deddy Humana
surya/ahmad faisol (ahmad faisol)
Kapolres Bangkalan, AKBP Febri Isman Jaya memasangkan PIN Operasi Zebra Semeru tahun 2024 kepada perwakilan ratusan personel di lapangan apel Polres Bangkalan, Senin (14/10/2024) 


SURYA.CO.ID, BANGKALAN – Sembilan korban meninggal dunia di jalan raya dalam rentang waktu dua pekan, terhitung 16-28 Agustus 2024 seakan menegaskan, situasi jalan raya di Kabupaten Bangkalan tidak sedang baik-baik saja. 

Tewasnya para pengendara dalam rentetan peristiwa kecelakaan lalu lintas (laka lantas) menjadi perhatian Polres Bangkalan dalam gelaran Operasi Zebra yang dimulai Senin (14/10/2024) hingga Minggu (27/10/2024) mendatang.

Dalam pelaksanaan Operasi Zebra Semeru selama 14 hari ke depan itu, Polres Bangkalan memfokuskan pada lokasi-lokasi rawan laka lantas (black spot), rawan kemacetan (trouble spot), hingga rawan terjadinya pelanggaran saat berkendara.

“Waspada saat berkendara di jalan raya karena situasi jalan kita di Kabupaten Bangkalan tidak sebagus yang kita bayangkan,” ungkap Kapolres Bangkalan, AKBP Febri Isman Jaya usai Apel Gelar Pasukan Operasi Zebra Semeru 2024 di lapangan apel Polres Bangkalan, Senin (14/10/2024).  

Di hadapan ratusan personel peserta apel, Febri dalam paparannya menyebutkan, berdasarkan data dari Ditlantas Polda Jatim, angka laka lantas tahun 2023 dibanding tahun 2024 mengalami penurunan.

Namun jika dilihat dari angka fatalitas laka lantas yaitu korban meninggal dunia masih cukup tinggi, sebanyak 3.570 jiwa di Provinsi Jawa Timur. Hal ini tidak lepas dari peningkatan mobilitas penduduk seiring membaiknya kondisi perekonomian di Jawa Timur pasca pandemi Covid-19.

Febri menjelaskan, peningkatan mobilitas masyarakat tidak kemudian dibarengi dengan kesadaran  dalam berlalu lintas. Hal ini disebabkan kurangnya kehadiran anggota polantas di tengah masyarakat

“Sebagai akibat adanya perubahan sistem penindakan dari manual ke sistem elektronik. Sehingga sebagian besar masyarakat tidak takut lagi karena berkurangnya intensitas pengawasan polantas di tengah masyarakat,” jelas Febri.

Ratusan peserta apel yang dilibatkan dalam pelaksanaan Operasi Zebra Semeru selama 14 hari ke depan tidak hanya terdiri dari unsur kepolisian. Namun juga melibatkan anggota Kodim 0829, Lanal Batuporon, Sub Detasemen Polisi Militer V/4-4 Bangkalan, hingga Sub Kogartap 0829 Bangkalan.

Febri memaparkan, target dalam Operasi Zebra Semeru Tahun 2024 kali menyasar para pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm berstandar SNI, pengendara yang memacu kendaraan melebihi batas kecepatan, pengendara kendaraan bermotor yang masih di bawah umur.

Selanjutnya, pengendara roda empat yang tidak menggunakan sabuk pengaman, mengemudikan kendaraan di bawah pengaruh alkohol, menggunakan ponsel saat berkendara, melawan arus, penggunaan sepeda motor yang boncengan lebih dari satu orang, dan penggunaan sepeda listrik di jalan raya.

“Pelaksanaan Operasi Zebra Semeru ini dibagi menjadi dua periode waktu, minggu pertama akan mengedepankan kegiatan preemtif dan preventif. Sedangkan pada minggu kedua akan mengedepankan kegiatan represif berupa tindakan tilang,” papar Febri.

Dalam tindakan represif tersebut, lanjutnya, dilakukan dengan sistem E-TLE dan tilang manual yang dilaksanakan secara hunting atau mobile terhadap pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan fatalitas laka lantas.

“Jadi kami imbau masyarakat mulai tanggal 14 ini sampai 27 Oktober mendatang, tertib berlalu lintas dan jaga keselamatan di jalan raya. Sekali lagi, waspada di jalan karena situasi jalan kita di Kabupaten Bangkalan tidak sebagus yang kita bayangkan,” pungkas Febri. ****

 

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved