Kamis, 30 April 2026

Berita Gresik

Cegah Masuknya Radikalisme Lewat Sekolah, Densus 88 Anti Teror Beri Sosialisasi Kebangsaan di Gresik

radikalisme ini tidak merujuk agama Islam saja, tetapi juga ada permasalahan yang sama di setiap agama

Tayang:
Penulis: Willy Abraham | Editor: Deddy Humana
Dispendik Gresik
Suasana sosialisasi kebangsaan di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Kamis (20/6/2024). 


SURYA.CO.ID, GRESIK - Mewaspadai sekolah sebagai salah satu pintu masuk paham radikalisme, Densus 88 Anti Teror sampai memandang penting untuk memberikan sosialisasi kebangsaan. Densus 88 menggelar sosialisasi itu dengan mengundang para kepala sekolah (kasek), pengawas dan guru BP di Gresik, Kamis (20/6/2024).

Sosialisasi di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik itu dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Gresik, S Hariyanto; mantan napiter, Muhammad Saifuddin Umar dan 238 peserta yang terdiri dari para kasek, pengawas sekolah dan guru BP.

Pemateri dari Densus 88 Mabes Polri, AKBP Mohammad Dofir menyampaikan Direktorat Pencegahan Densus 88 AT merupakan salah satu direktorat yang bertujuan menunjukan bahwa densus selain militan tetapi juga memiliki sisi humanis dalam menangani aksi teror.

Disebutkan Dofir, sekolah merupakan salah satu pintu penyebaran paham radikalisme. Tim menyampaikan definisi tentang paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstrimisme dan Teroris (IRET) secara detail agar para kasek ataupun guru bisa membedakan sendiri di sekolahnya masing-masing.

"Tujuan dari acara Sosialisasi kebangsaan ini adalah untuk mengedukasi para kasek dan guru tentang paham IRET ini," ucapnya.

Tim menyampaikan harapanya jika sudah teredukasi seluruh kasek bisa melakukan deteksi dini di lingkungan sekolahnya, sehingga sekolahnya bisa bebas dari paham IRET ini.

Lebih lanjut, keberhasilan kegiatan Pencegahan ini dapat dilihat dari menurunnya indeks Potensi radikalisme di tengah masyarakat, dan terbukti Indonesia bisa Zero Attack di tahun 2023.

"Pada Tahun 2023, Dit Pencegahan telah melakukan 16.500 kegiatan pencegahan untuk menekan penyebaran paham IRET ini. Ideologi yang menyimpang merupakan salah satu penyebab terbesar munculnya paham IRET di mana bahkan rela untuk membunuh sesama Muslim hanya karena ingin mendirikan khilafah di Indonesia," sambungnya.

Disebutkan, radikalisme ini tidak merujuk agama Islam saja, tetapi juga ada permasalahan yang sama di setiap agama terkait paham IRET ini. Kemudian media sosial menjadi salah satu sarana penyebaran paham radikalisme tertinggi karena bisa diakses oleh siapa pun dan kapan pun.

Pihaknya mengajak para kasek dan guru untuk menjadi agen pencegahan paham IRET di lingkungan sekolah, agar para siswa bisa terbentengi dari paham radikalisme ini.

"Kepada seluruh peserta agar selalu merawat keragaman karena hal tersebut adalah salah satu kekuatan bangsa Indonesia," tutupnya. *****

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved