Rabu, 27 Mei 2026

SURYA Kampus

Dulu Sering Diejek dan Dibedakan hingga Sakit Hati, Gadis Tunarungu Kini Berhasil Lulus dari UGM

Dulu sering diejek dan dibeda-bedakan hingga sakit hati, seorang gadis Tunarungu kini berhasil lulus dari UGM.

Tayang:
kolase UGM dan linkedin
Nikita, Gadis Tunarungu yang Kini Berhasil Lulus dari UGM. Dulu Sering Diejek dan Dibedakan hingga Sakit Hati. 

SURYA.co.id - Dulu sering diejek dan dibeda-bedakan hingga sakit hati, seorang gadis Tunarungu kini berhasil lulus dari UGM.

Dia adalah Nikita Nur Hijriyati

Nikita merupakan penyandang disabilitas Hard of Hearing dan minor cerebral palsy yang bersyukur usai berhasil lulus dari program studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan UGM.

"Saya bersyukur bisa lulus dan diwisuda dari Program Studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan. Alhamdulilah," katanya dikutip dari rilis di laman resmi UGM.

Nikita menjalani pendidikan yang tidak selalu mulus.

Baca juga: Perjuangan Gayuh Penyandang Bipolar Jadi Wisudawan Berprestasi UGM, Dulu Kuliah Sambil Rawat Jalan

Diketahui ia sudah menyandang minor celebral palsy sejak lahir.

Ia hampir tidak bisa berjalan, namun takdir berkata berbeda dan Nikita mampu berjalan secara normal pada umur 2 tahun.

Sejak saat itu tidak ada masalah dengan pendengarannya hingga akhirnya jatuh sakit saat berada di tingkat Sekolah Dasar (SD).

Karena penyakit itulah pendengarannya mulai mengalami gangguan. Nikita selalu bersekolah di sekolah umum dan tidak pernah di sekolah luar biasa karena keputusan orangtua.

Keadaan yang dialaminya membuat Nikita kerap mendapat diskriminasi baik dari teman atau guru.

Semangatnya yang tidak pernah padam membuat alumni SMP IT Az-Zahra Sragen itu bisa masuk ke sekolah favorit di kotanya yakni SMA 1 Sragen.

Namun, ia hanya menempuh pendidikan di sana selama dua semester karena mengaku tidak betah dengan perlakuan teman-teman dan guru.

"Kendalanya saya didiskriminasi, dan sama teman pernah diejek juga. Karena tidak bisa berolahraga, saya selalu ada tugas tambahan untuk pelajaran olahraga.

Untuk teori saya bisa, dan sempat masuk SMA 1 Sragen selama setahun. Tetapi kemudian pindah karena tidak betah dengan perlakuan teman dan guru," jelasnya.

Tidak berhenti di sana, saat kelas XI SMA ia kembali mengalami kejadian yang tidak mengenakan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved