Minggu, 31 Mei 2026

SURYA Kampus

Dulu Sering Diejek dan Dibedakan hingga Sakit Hati, Gadis Tunarungu Kini Berhasil Lulus dari UGM

Dulu sering diejek dan dibeda-bedakan hingga sakit hati, seorang gadis Tunarungu kini berhasil lulus dari UGM.

Tayang:
kolase UGM dan linkedin
Nikita, Gadis Tunarungu yang Kini Berhasil Lulus dari UGM. Dulu Sering Diejek dan Dibedakan hingga Sakit Hati. 

Bagaimana tidak, putri Suripto ini dikeluarkan dari kelas ekonomi saat ulangan harian.

Hal ini dikarenakan guru pengampu tidak tahu bila dirinya tidak bisa mendengar dan menulis cepat.

Kejadian ini begitu melukainya dan membuatnya sempat membenci pelajaran ekonomi.

Baca juga: Sosok Fahmi Anak Pedalaman Ambon Diterima S2 di 43 Kampus Luar Negeri, Dulu Lulusan Sasindo UGM

Walaupun ada kebencian pada mata pelajaran tertentu, Nikita mengaku menyukai pelajaran geografi namun dia kuliah pada prodi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan UGM.

Ketika berkuliah, kebencian itu memudar hingga akhirnya berhasil menyelesaikan studi.

"Sempat saya benci mata pelajaran ekonomi. Namun seiring setelah kuliah, saya menjadi suka ekonomi. Terima kasih untuk Kak Jesita Mapres FEB angkatan 2016 telah membuat saya sadar bahwa ilmu ekonomi ini amat luar biasa," ungkapnya.

Menurut Nikita, UGM sudah cukup mampu memberikan layanan yang dibutuhkan mahasiswa disabilitas.

Sebagai penyandang hard of hearing, selama berkuliah ia mengandalkan lip reading atau membaca gerak bibir untuk menangkap materi.

Meskipun begitu, ia bersyukur karena dosen memperlakukannya dengan baik.

Selalu ada jalan untuk memudahkan perkuliahan terutama dalam hal praktikum atau tugas-tugas presentasi.

"Para dosen baik, dan memaklumi tulisan tangan saya buruk karena tidak bisa menulis rapi," akunya.

Momen Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi yang paling berbekas dalam masa kuliah Nikita.

Kala itu ia ditunjuk menjadi koordinator mahasiswa tingkat sub-unit (kormasit) meskipun KKN dilaksanakan secara daring.

Selain itu, ia juga sosok yang aktif berkegiatan di UK Peduli Difabel UGM.

Bersama teman-temannya yang telah dianggap sebagai keluarga sendiri, mereka memperjuangkan pendirian Unit Layanan Disabilitas.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved