Senin, 27 April 2026

Berita Surabaya

Percepat Penurunan Stunting, Pemprov Jatim Gelar Edukasi Cegah Wasting

Anak yang mengalami wasting berisiko tiga kali lebih tinggi menjadi stunting dibandingkan anak dengan gizi baik.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: irwan sy
ist
Suasana pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) untuk deteksi dini wasting sekaligus pencegahan stunting di Unusa Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wasting atau gizi kurang dan gizi buruk dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan.

Anak yang mengalami wasting berisiko tiga kali lebih tinggi menjadi stunting dibandingkan anak dengan gizi baik.

Untuk itu, Pemprov Jatim bersama Unicef dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berupaya mengatasi stunting dengan mencegah peningkatan balita yang mengalami wasting.

Kepala Seksi Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, Waritsah Sukarjiyah, mengungkapkan berdasarkan data Studi Status Gizi Balita di Indonesia (SSGBI) Tahun 2019 dan 2022, prevalensi wasting di Jawa Timur mengalami sedikit penurunan dari 9,2 persen pada tahun 2019 menjadi 7,2 persen pada tahun 2022.

Sedangkan untuk prevalensi stunting Jatim tahun 2023 berada di angka 17,7 persen, dan di tahun 2024 ini, Jatim menargetkan prevalensi stunting bisa turun di angka 14 persen.

"Beberapa upaya sudah dilakukan kemarin, kami juga melakukan rapat koordinasi tim percepatan penurunan stunting, kita berupaya bagaimana secepat mungkin target itu tercapai," katanya dalam roadhow 'Ayo Cegah dan Obati Wasting Biar Ga Stunting' di Unusa, Rabu (15/5/2024).

Selain itu, kolaborasi dengan Unicef dan Unusa  diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang wasting atau kekurangan gizi akut.

"Kami juga berupaya meningkatkan partisipasi aktif anggota masyarakat khususnya dari organisasi berbasis agama, untuk  berperan aktif dalam deteksi dini dan rujukan tepat waktu bagi anak-anak yang menderita wasting," lanjutnya.

Ia mengatakan, bahwa saat ini Dinkes juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat penurunan stunting, yakni selain dengan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga dengan Unicef organisasi perlindungan anak.

Tahun ini, kata dia, Unicef juga punya program penguatan dan pendampingan terhadap ibu hamil.

Langkah itu menurutnya, akan menjadi upaya bagus untuk mencapai target.

"Kalau sebelumnya ada pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil, nantinya juga ada program baru dari Kemenkes, yaitu pemberian multinutrien suplemen. Nanti InsyaAllah akan dibarengkan dengan program Unicef," tuturnya.

Pihaknya memastikan, 38 Kabupaten Kota di Jatim nanti, akan mendapatkan Multinutrien Suplemen semua, untuk memastikan program percepatan penurunan stunting berjalan sesuai rencana.

"Dari Unicef akan mendampingi tiga Kabupaten, yaitu Lumajang, Bondowoso dan Kediri. Mudah-mudahan ini akan lebih cepat lagi untuk mempercepat penurunan stunting," ujarnya.

Ketiga Kabupaten yang didampingi oleh Kemenkes dan Unicef tersebut, kata dia, merupakan Kabupaten dengan indikator ibu hamil terbanyak saat ini, sehingga perlu pendampingan yang lebih.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved