Rabu, 15 April 2026

Ramadhan 2024

Hikmah Ramadhan 2024 - Ramadhan Memberikan Pelajaran Berharga bagi Program Sertifikasi Halal

Berpuasa itu lebih banyak menahan keinginan, termasuk keinginan untuk makan, marah, dan keinginan lainnya

Editor: irwan sy
ist
Ketua Badan Pengembangan  Industri Halal (BPIH) MUI Jatim, Dr Drs M Fathorrazi MSi 

“Jadi, ini latihan bagi kita,” ibunya mulai membuka suara kembali.

Entah sudah berapa lama dialog itu berlangsung, akhirnya terdengar suara adzan di masjid sebelah sehingga mereka terdengar mulai berdoa dan menyantap makanannya tanpa bersuara karena saking lahapnya.

Dialog singkat gambaran suasana sore hari di suatu dusun nan jauh di pedesaan tersebut seakan menyadarkan kita bahwa berpuasa di bulan Ramadhan adalah menjadi latihan bagi umat manusia untuk menahan keinginan menyantap makanan yang tidak halal sebelum berubah menjadi halal.

Manusia dengan nafsunya bisa menerobos rambu penghalang tersebut, padahal rambu penghalang itu adalah ujian baginya untuk menguji keimanannya karena sebenarnya seandainya dia memakannya sedikit saja maka mungkin tidak ada orang yang mengetahuinya.

Namun karena keimanan yang mengeremnya sehingga manusia yang sedang berpuasa tidak akan menerobos pintu penghalang sebelum diijinkan oleh pemiliknya yakni Allah SWT.

Berpuasa memberi pelajaran barharga akan ketaatan terhadap suatu perintah dan larangan.

Itulah sebabnya maka pahala puasa bagi seseorang hanya Allah SWT yang tahu karena pelanggaran yang dilakukan manusia juga hanya Allah SWT yang mengetahuinya maka puasa menjadi ibadah spesial, bulan yang ditempati untuk mengerjakan puasa itupun juga spesial.

Bahkan ada satu malam di dalamnya yang lebih baik daripada seribu bulan lainnya. Allah berfirman di dalam Hadits Qudsi yang diriwatkan oleh Imam Bukhori yang artinya: “Semua amalan anak cucu Adam itu untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk saya dan saya sendiri yang akan memberi pahala.”

Puasa juga mengajarkan kejujuran, mungkin saja makanan itu halal karena dibeli dari uang yang halal, namun karena belum waktunya untuk dimakan maka jadi tidak boleh dimakan.

Jadi, manusia akhirnya bisa mnegetahui kapan dan bilamana makanan itu akan menjadi halal.

Apabila manusia mampu menahan dari makanan tidak halal karena memang sedang berpuasa maka itu menjadi persoalan biasa karena memang mereka sedang berpuasa.

Tetapi bila mereka mampu menahan untuk memakannya di luar bulan Ramadan maka nilai persoalannya menjadi luar biasa karena ternyata makanan itu bukan hanya menjadi halal karena waktunya melainkan juga Alquran telah mengaturnya.

Allah SWT telah berfirman dalam Alquran surat Al-Baqarah, ayat 173: “Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah maha pengampun, maha penyayang”.

Alquran juga memberi petunjuk bagi manusia untuk hanya makan makanan yang halal dan baik, sebagaimana FirmanNya dalam Alquran surat Al Baqarah, ayat 168: “Wahai manusia makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu”.

Jadi, makanan menjadi halal bukan hanya karena waktunya melainkkan juga karena zatnya dan prosesnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved