Berita Viral
Kisah Kuli Bangunan Bermimpi Jadi Prajurit TNI Justru Diwujudkan Sang Anak, Lolos Usai 2 Kali Tes
Adalah Jumakir Ahmad Purwadi, kuli bangunan yang kini dengan bangga mengantarkan sang anak menjadi seorang prajurit.
Ia merasa ingin mengangkat derajat keluarga dengan jalur pendidikan.
Anas akhirnya kembali mencari panti asuhan baru yang menyediakan fasilitas sekolah gratis.
Terpilih Panti Asuhan Darul Inayah di Kabupaten Bandung Barat, yang kemudian menjadi tempat Anas menempuh pendidikan.
Apalagi, panti asuhan itu berbasis pondok pesantren.
Prestasi Anas mempertahankan juara pertama atau kedua selama di Sekolah Menengah Atas (SMA) akhirnya menjadi modal berharga untuk mendaftar kampus melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Ia diterima di jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad)
Anas ingat dari 22 orang pendaftar SBMPTN di panti asuhan tersebut, hanya dirinya yang kemudian lolos diterima di Perguruan Tinggi Negeri.
Ia kemudian membawa kedua adiknya untuk tinggal di Panti Asuhan Riadlul Jannah, Jatinangor.
“Saat kuliah di Unpad, saya di sana bertekad pada diri. Saya menyadari sebagai minoritas, mungkin hanya saya satu-satunya di Unpad ini yang merupakan anak panti asuhan."
"Sehingga saya juga harus bisa membuktikan, yaitu menjadi minoritas juga, artinya menjadi mahasiswa yang berprestasi.” tutur Anas.
Keputusan Anas mengambil jurusan sejarah sempat mendapat pertentangan dari orang-orang di panti asuhan.
Sebab, jurusan tersebut dinilai kurang populer dibanding jurusan lain yang identik menjanjikan kesuksesan di masa depan.
“Saat itu, ketika saya di panti asuhan sempat mendapatkan pertentangan. Karena jurusan sejarah adalah jurusan yang kategorinya minat khusus, non-favorit."
"Bahkan untuk pekerjaannya pun tidak sebanyak jurusan seperti Ilmu Hukum, ataupun Ekonomi dan Psikologi.” ujarnya.
Namun, minat menekuni suatu bidang ilmu tak selalu bisa mengikuti tren populer.
Anas juga tak sedang main aman dengan mengambil jurusan sejarah agar lebih mudah masuk ke kampus negeri.
Ia mengaku telah menyukai pelajaran sejarah sejak duduk di bangku SMP.
Anas menamatkan sarjananya dengan merampungkan skripsi berjudul “Politik Hukum Pemerintah Indonesia tentang Pengerahan Tenaga Kerja Indonesia ke Malaysia Tahun 1984-1989”.
Ia menyoroti tentang pemberlakuan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri pada 1984 ke Malaysia.
Di era Orde Baru tersebut, target pemerintah yang masuk dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dengan mengirimkan tenaga kerja sebesar-besarnya ternyata tak sebanding dengan kelayakan yang didapat di lapangan.
“Kala itu negara cenderung memanfaatkannya, tapi minim perlindungan terhadap mereka (buruh migran)."
"Mereka rawan mengalami penyalahgunaan atau dimanfaatkan oleh perusahaan maupun oknum pemberi kerja ketika di Malaysia."
"Bahkan dalam proses sebagai korban seringkali telah melanggar prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia” tutur Anas.
Ketertarikan Anas pada topik buruh migran juga didasari oleh daerah asalnya.
Mulai dari buruh tani seperti ibunya, buruh yang merantau di kota besar, dan buruh migran.
Mereka yang memilih menjadi TKI rata-rata didominasi perempuan.
Banyak perempuan yang menjadi ibu meninggalkan anaknya dan akhirnya cenderung terlantar dalam kubangan kemiskinan dan rendahnya literasi pengetahuan.
Anak sulung dari tiga bersaudara ini juga hampir ditinggal ibunya menjadi TKI saat ia masih di bangku kelas 4 Sekolah Dasar.
Untungnya, hal itu tak terjadi karena ibunya belum tega meninggalkan Anas dan dua adiknya yang masih kecil.
Ditambah, ia punya sahabat yang ditinggal ibunya bekerja di Arab Saudi.
Kehidupannya menjadi tidak terurus, sekolah tidak pernah belajar, tidak mendapat pengasuhan yang layak, hingga kiriman uang yang tak kunjung memakmurkan.
Tantangan dan perjuangan terus mengiringi jejak langkah seorang Anas. Saat sedang mengikuti perlombaan, mengerjakan skripsi, membantu adik-adiknya dan berbagai pikiran lainnya, ia diserang penyakit Bell’s Palsy pada tahun 2018.
“Imun saya turun dan akhirnya saya mengalami kelumpuhan di bagian wajah sebelah kiri saraf nomor tujuh” ujar Anas."
"Praktis, ia harus berobat dan tentunya membutuhkan biaya. Untuk menambah biaya pengobatan, Anas melakoni pekerjaan sampingan sebagai tukang bersih-bersih rumah kos dengan upah Rp25.000 per kamar.
Akibat harus membagi waktu dengan bekerja untuk berobat inilah membuat proses kelulusannya menjadi molor dan tak sesuai target semula terencana tepat delapan semester.
Mau tak mau agar tak berlarut ia mengakhiri pekerjaan sampingannya itu agar bisa fokus melanjutkan skripsi dan lulus.
Gelagat Bupati Pati Sudewo Setelah Diperiksa KPK, Masih Ngotot Tak Mau Mundur: Saya Akan Amanah |
![]() |
---|
Siasat Eras, Penculik Bos Bank Plat Merah Hindari Hukuman Berat, Ajukan Justice Collaborator ke LPSK |
![]() |
---|
Ini Dalang Besar Penculikan Bos Bank Plat Merah Menurut Susno Duadji, Cuma Satu, Eksekusinya Ceroboh |
![]() |
---|
Mahfud MD Kritik KPK, Sebut Penangkapan Immanuel Ebenezer Bukan OTT, Ada Indikasi Pencucian Uang |
![]() |
---|
Sebelum Ceraikan Azizah Salsha, Pratama Arhan Pernah Dapat Pesan Andre Rosiade Soal Komitmen |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.