Lipsus Investasi

Investasi Harus Meningkat di Tahun 2024, DPRD Jatim Dorong Pemprov Agresif Jemput Bola

Komisi C DPRD Jatim hingga saat ini belum menerima keluhan apapun urusan perizinan dan semacamnya dari para investor yang ingin berinvestasi di Jatim.

Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Akira Tandika
Youtube Harian Surya
Anggota Komisi C DPRD Jatim Pranaya Yudha Mahardika 

Laporan Wartawan SURYA.CO.ID, Yusron Naufal Putra

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Komisi C DPRD Jatim hingga saat ini belum menerima keluhan apapun urusan perizinan dan semacamnya dari para investor yang ingin berinvestasi di Jawa Timur. Hanya saja, legislator mendorong peningkatan upaya dari Pemprov untuk menjemput bola agar realisasi investasi di Jawa Timur terus meningkat. 

Anggota Komisi C DPRD Jatim Pranaya Yudha Mahardika menegaskan, sesuai norma, perizinan harus memudahkan. "Tapi menurut penilaian saya pribadi memang yang harus ditingkatkan adalah agresifitas pemprov," kata Yudha, saat dihubungi dari Surabaya, Rabu (21/2/2024). 

Agresifitas yang dimaksud adalah sinergi kuat internal OPD di Pemprov Jatim. Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Jawa Timur yang punya kewenangan soal aset, harus meningkatkan kinerja. Aset tidur yang belum difungsikan dengan baik saat ini berjumlah ribuan di Jawa Timur. Memang saat ini, upaya sertifikasi aset terus berjalan. 

Untuk mempercepat itu, Yudha sependapat jika BPKAD menggelontor anggaran sebagai bentuk keseriusan mempercepat upaya tersebut. Sementara Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Provinsi Jawa Timur dalam pemasarannya harus juga menggandeng Bank Jatim atau Bank UMKM dari sisi permodalan. 

Hal ini dinilai Yudha belum cukup agresif dilakukan Pemprov untuk menjemput bola agar investasi di Jawa Timur meningkat signifkan. Dalam berbagai kesempatan, politisi Partai Golkar itu mendorong agar upaya ini terus digencarkan. "Itu yang menurut saya masih kurang agresif," jelasnya. 

Dalam kacamata Yudha, sebetulnya potensi untuk meningkatkan tren investasi di Jawa Timur terbuka lebar. Sebagai contoh, dengan mengumpulkan Kadin di Jawa Timur saja, kemudian bergeser ke Jawa Tengah bisa jadi membuka keran investasi. Belum lagi jika pemasaran dilakukan di daerah yang memiliki pendapatan perkapita yang tinggi. Seperti Kalimantan Utara maupun Kalimantan Timur. "Itu kan orang berduit semua. Jadi harus kita tawari semua. Itu yang dalam negeri," ungkap Yudha. 

Sementara untuk meningkatkan investasi dari luar negeri, perlu dilakukan massif misalnya jemput bola ke Eropa, Singapura termasuk Korea yang lahan disana cukup terbatas. "Korea yang selama ini dia bikin pabrik pakan. Mereka lahannya terbatas. Agresifitas ini perlu dilakukan. Memang konsekuensinya adalah anggaran. Tapi tidak apa-apa jika kita mau serius," ungkap Yudha. 

Dikonfirmasi terpisah, Anggota Komisi B DPRD Jatim Agatha Retnosari menyebut banyak aspirasi dari kalangan pengusaha yang masuk pada dirinya selama turun. Misalnya, banyak pengusaha saat ini mengeluh transaksi terganggu lantaran urusan Pemilu. "Semua stakeholder menantikan kepastian. Dan ini yang ditunggu para pengusaha," ujar Agatha. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved