Awas Risiko Swamedikasi, Konsumsi Obat Harus Tepat Dosis, Tepat Waktu dan Tepat Cara Minum

Untuk mengkonsumsi obat dibutuhkan dosis dan rentang konsumsi yang tepat agar efisiensi obat maksimal dan tidak menimbulkan efek toksik (racun)tubuh

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Dyan Rekohadi
ilustrasi kompas
ILUSTRASI OBAT-OBATAN 

SURYA.co.Id , SURABAYA  - Mudahnya akses mendapatkan informasi di media sosial dan akses untuk memperoleh obat bebas dengan mudah tak jarang membuat masyarakat membeli dan mengkonsumsi sendiri obat bebas tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.

Padahal, untuk mengkonsumsi obat dibutuhkan dosis dan rentang konsumsi yang tepat agar efisiensi obat maksimal dan tidak menimbulkan efek toksik (racun) pada tubuh.

Pengobatan sendiri atau swamedikasi (self medication) merupakan upaya yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi keluhan atau gejala penyakit, sebelum mereka memutuskan untuk mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan/tenaga kesehatan.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan bahwa 35,2 persen masyarakat Indonesia menyimpan obat di rumah tangga, baik diperoleh dari resep dokter maupun dibeli sendiri secara bebas, di antaranya sebesar 27,8 persen adalah antibiotik.

Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya, apt. Bobby Presley, S.Farm., M.Farm-Klin., Ph.D  mengungkapkan swamedikasi dapat menyebabkan permasalahan kesehatan akibat kesalahan penggunaan.

Permasalahan itu, seperti tidak tercapainya efek pengobatan, timbulnya efek samping yang tidak diinginkan, penyebab timbulnya penyakit baru, kelebihan pemakaian obat (overdosis) karena penggunaan obat yang mengandung zat aktif yang sama secara bersama, dan sebagainya.

“Sebenarnya kalau salah dalam konsumsi obat itu dampaknya seperti apa? Tergantung obatnya, jadi ada obat yang batas namanya kadar obat. Ada obat itu yang batas antara kadar munculnya efektif dengan munculnya efek toksik (racun) itu tipis, seperti obat-obat khusus”lanjutnya.

Ia mencontohnya seperti obat digoksin untuk penyakit jantung atau teofilin obat untuk asma yang jika diminum tidak tepat akan menjadi toksik bagi tubuh.

Namun, dikatakannya, untuk obat yang dijual bebas memiliki rentang tinggi antara batas efektif dengan munculnya efek toksik.

Tetapi yang dikhawatirkan semua orang berpersepsi bahwa semua obat seperti obat bebas. Sehingga tetap diperlukan petunjuk yang tepat sesuai indikasi dan kadar obat.

Selain itu, biasanya masyarakat juga menghentikan konsumsi obat sebelum dosis yang diberikan habis karena merasa obat tersebut tidak meringankan sakit yang dirasakan.

Bobby mengungkapkan kasus seperti ini biasanya terjadi dalam konsimsi antibiotic.

“Seringkali juga orang merasa saat mengkonsumsi obat, dampaknya harus langsung terlihat.padahal ada jangka panjangnya seperti antibiotic. Efek jangka pendek nggak kelihatan, tetapi jangka panjangnya jika tidak dikonsumsi sesuai dosis bisa mengakibatkan resistensi antibiotic,”lanjutnya.

Selain itu Bobby juga pernah melakukan riset terhadap pasien diabetes yang mengungkapkan enggan mengkonsumsi obat dengan berbagai spekulasi pribadi yang beranggapan ginjalnya bisa rusak jika terus mengkonsumsi obat diabetes.

Padahal obat diabetes harus dikonsumsi agar ginjalnya bisa bekerja dengan maksimal, informasi yang salah ini dapat membuat pengobatan tidak efektif.

“Nah yang seperti itu kan sebenarnya perlu diluruskan.Kalau misalnya obat-obat penyakit kronis yang seperti diabetes, hipertensi, dan lain-lain Itu kan pengguna obat kan gak bisa berhenti harus jangka Panjang,”ungkapnya.

Kebiasaan yang ada di masyarakat dalam mengkonsumsi obat ini dikatakan Bobby perlu diperbaiki. Agar bisa mematuhi aturan meminum obat sesuai dosis dan anjuran dokter.

Bahkan jika obat bebas harus sesuai dengan kemasan yang tertera dalam kemasan.

“Jika obat diminum tiga kali sehari, maka harus dikonsumsi dengan jarak waktu yang konsisten agar obat memberikan hasil maksimal. Efektivitas obat itu kan dari cara makannya. Kalau cara makannya nggak benar nanti obatnya nggak efektif,”pungkasnya.

Selain itu, peranan tenaga Kesehatan mulai dari dokter hingga tenaga farmasi dalam mengedukasi pasien untuk mengkonsumsi obat sesuai dosisnya juga harus ditngkatkan.

Bahkan terus diperbarui menyesuaikan dengan perkembangan industri farmasi yang juga terus pengembangkan obat.

Pasalnya, permasalahan kesehatan yang baru dapat menyebabkan penyakit yang jauh lebih berat.

Hal ini dapat disebabkan karena terbatasnya pengetahuan masyarakat dan kurangnya informasi yang diperoleh dari tenaga kesehatan, maupun kurangnya kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mencari informasi melalui sumber informasi yang tersedia.

“Untuk melakukan swamedikasi secara benar, masyarakat memerlukan informasi yang jelas, benar dan dapat dipercaya, sehingga penentuan  jenis dan jumlah obat yang diperlukan harus berdasarkan kerasionalan penggunaan obat,”lanjutnya.

Iapun menekankan, Swamedikasi hendaknya hanya dilakukan untuk penyakit ringan dan bertujuan mengurangi gejala, menggunakan obat dapat digunakan tanpa resep dokter sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved