Berita Viral
Kisah Pilu Regina, Pemecah Kemiri di NTT yang Rawat Anak Disabilitas Seorang Diri: Saya Pasrah
Di usia senja, Regina Ronghong, wanita asal Nusa Tenggara Timur (NTT), harus terus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup. Ini kisahnya.
Penulis: Arum Puspita | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.CO.ID - Di usia senja, Regina Ronghong, wanita asal Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus terus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, Regina juga bekerja demi putranya, Albertus Leon (30), yang mengalami disabilitas sejak lahir.
Setiap hari Regina memecahkan kemiri yang kemudian dijual ke pasar.
Uang penjualan kemiri itulah yang kemudian ia gunakan untuk membeli bahan makanan.
"Kalau kami kehabisan beras, saya biasa masak ubi kayu dan keladi untuk makan pagi, siang, dan malam untuk makan Albertus Leon," katanya, dikutip dari Kompas.com.
Perjuangan ini ia lakukan sendiri, sebab sang suami sudah meninggal dunia.
"Sejak September 2022 lalu, suami saya, ayah dari Leon sudah meninggal dunia."
"Dulu sewaktu suami masih hidup, suami saya yang bekerja di kebun. Kini, suami saya telah tiada," kenang warga Kampung Mesi, Dusun Mesi, Desa Ranakolong, NTT itu.
Kondisi anaknya
Albertus Leon lahir pada tahun 1993. Sejak lahir, Leon, sapaannya hanya bisa terbaring. Tubuhnya seperti mengalami kelumpuhan.
Ia bercerita bahwa sejak bayi, putra bungsunya tersebut tidak pernah berobat secara medis.
Lantaran tak memiliki biaya, Leon hanya mendapatkan pengobatan tradisional.
"Anak saya dari bayi hingga usia 30 tahun tidak bisa duduk, dan hanya berbaring di tempat tidur. Putra bungsunya ini tinggal satu-satunya anak laki-laki di keluarga."
"Tiga kakak laki-laki sudah meninggal dunia, sedangkan lima anak perempuan sudah berkeluarga. Jadi sehari-hari, kami hanya dua orang di rumah," ceritanya.
Regina Roghong harus memangku sang anak, menyuapinya, membantu Leon saat buang air besar dan kecil.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.