Brigadir J Ditembak di Rumah Jenderal
BIODATA Soleman B Ponto, Pakar Intelijen yang Akui Bharada E Diperalat Ferdy Sambo: Mantan Jenderal
Inilah profil dan biodata Soleman B Ponto, Pakar Intelijen yang mengakui Bharada E (Richard Eliezer Pudihang Lumiu) memang diperalat Ferdy Sambo.
SURYA.CO.ID - Inilah profil dan biodata Soleman B Ponto, Pakar Intelijen yang mengakui Bharada E (Richard Eliezer Pudihang Lumiu) memang diperalat Ferdy Sambo di kasus pembunuhan Brigadir J.
Penegasan Soleman B Ponto ini menanggapi pleidoi Bharada E yang menyebut dia memang diperalat Ferdy Sambo.
Dalam pleidoinya, Bharada E mengaku bahwa dia sebagai prajurit berpangkat rendah selama ini memberikan pengabdian, kepada seorang Jenderal berpangkat bintang dua yang sangat dipercaya dan dihormati. Namun, ternyata dia hanya diperalat saja.
"Ternyata saya diperalat, dibohongi dan disia-siakan, bahkan kejujuran yang saya sampaikan tidak dihargai, malahan saya dimusuhi. Begitu hancurnya perasaan saya dan goyahnya mental saya, sangat tidak menyangka akan mengalami peristiwa menyakitkan seperti ini dalam hidup saya, namun saya berusaha tegar," katanya.
Bharada E juga menyebut bahwa di kesatuan dia diajarkan untuk tak pernah berkhianat, korbankan jiwa raga untuk Negara, Hanya berserah pada kehendak Tuhan.
Baca juga: ARTI Ekspresi Hakim Wahyu saat Menyaksikan Pleidoi Bharada E Diungkap Pakar, Tertekan Seperti JPU?
"Nugraha Caknati Yana Utama, Setia pada Ibu Pertiwi."
Bahwa ikrar dan janji setia terhadap Negara dan pimpinan akan terus terpatri dalam hati saya, atas apa yang terjadi pada diri saya saat ini menjadi suatu pembelajaran penting dalam kehidupan saya, dalam pendewasaan diri. Kiranya Tuhan menolong saya," kata Bharada E.
Bharada E juga mengungkap sebagai seorang Brimob yang latar belakangnya adalah para militer, dia dididik untuk taat dan patuh serta tidak mempertanyakan perintah atasan.
"Apabila ada yang menganggap ketaatan dan kepatuhan saya “membabi buta”, maka siang hari ini, saya menyerahkan kepada kebijaksanaan Majelis Hakim," tukasnya.
Menurut Soleman B Ponto, apa yang disampaikan Bharada E memiliki dasar hukum, yakni Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Disiplin Polri.
Materi dari PP ini menurun atau mencontoh Undang-Undang tentang Disiplin Militer.
"Disitu diatur betul tentang hubungan atasan bawahan. Bawahan wajib patuh dan taat kepada atasan, tanpa membantah perintah atau putusan. Atasan dapat mengambil tindakan fisik kalau perintahnya tidak dilakukan," tegas Soleman B Ponto dikutip dari tayangan Kontroversi Metro TV pada Kamis (26/1/2022).
Menurut Soleman, aturan ini sifatnya mengikat.
Berbeda dengan Peraturan Kapolri yang hanya bisa dilakukan apabila yang bertugas itu di belakang meja.
"Tapi kalau petugas seperti Eliezer mustahil melakukan itu. karena ketika mereka diturunkan, di depan mereka itu musuh semua. Yang berlaku PP," kata Soleman,
Apalagi, lanjutnya, Bharada E itu pangkatnya hanya satu strip di bawah.
"Mereka tidak boleh bergerak atau berdiri. Nanti ada perintah baru jalan. tanpa perintah gak akan jalan," tegas Soleman.
Soleman lalu mengurai fakta persidangan bahwa sebelum diperintahkan untuk menembak itu lebih dulu ada pertemuan di rumah Saguling.
Saat itu Bharada E diberikan peluru dan diminta memback up Ferdy Sambo dengan cara menembak Brigadir J.
"Ini sudah masuk di kepalanya, apapun kata yang keluar dari Sambo: sikat, tembak, hajar, hanya satu tembak mati titik.
Karena desain dia sejak masuk sudah seperti itu. Latihan-latihan sudah seperti itu,
Ketika ada perintah, dia tidak boleh mikir. Itulah PP nomor 2 turunan dari disiplin militer," katanya.
Dengan posisi Bharada E yang demikian lah, Soleman meyakini bahwa Ferdy Sambo memang sengaja memilih Bharada E untuk mengeksekusi Brigadir J.
"Dia sangat tahu, Ricky sersan dan polantas, dia masih bisa berpikir. Tapi Eliezer gak bisa. Dia akan diam di pintu sampai dibilang, kamu lompat dari jendela baru dia jalan. Makanya ketika sama Eliezer dia bilang, ini orang harus dimatikan, kamu bantu saya ya," jelas Soleman.
Apakah itu berarti Bharada E memang diperalat Ferdy Sambo?
Soleman dengan tegas membenarkan.
"Iya betul. Karena dia sudah tahu ini sifat Brimob itu patuh dan taat pada atasan. Kalau anjing namanya rod waller.
Apalagi di rumah terus menerus, kepatuhannya tinggi," tukasnya.
Profil dan Biodata Soleman B Ponto

Ternyata Soleman B Ponto adalah purnawirawan jenderal bintang dua TNI AL atau Laksamana Muda.
Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B Ponto lahir di Sangir–Tahuna, Sulawesi Utara, 6 November 1955.
Soleman B Ponto merupaan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI periode 2011-2013.
Dikutip dari laman penerbit buku Rayyana.id, Soleman mengenyam pendidikan TNI di Akabri AL pada tahun 1978.
Sementara kariernya di Angkatan Laut diawali sebagai pelaut.
Ia melewati sejumlah pos, hingga akhirnya masuk di dunia intelijen TNI pada Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI sejak tahun 1996.
Pada penugasan di BAIS Ia banyak berinteraksi dengan konsep, organisasi, serta pegiat Hak Asasi Manusia (HAM).
Dari sana muncul kesadaran bahwa Indonesia, termasuk TNI tidak bisa terlepas dari pengaruh dunia dan hukum internasional, di mana Hukum Humaniter dan Hukum HAM termasuk di dalamnya.
Berangkat dari situlah, Ia mengikuti pendidikan magister hukum dengan mengambil tesis tentang Operasi Militer TNI dan Gerakan Separatisme Bersenjata di Indonesia.
Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman B Ponto juga memiliki dua buku, yakni berjudul Jangan Lepas Papua juga TNI dan Perdamaian di Aceh.
Berikut riwayat jabatannya, dikutip dari Wikipedia:
- DPB Denma Armada
- Padiv Luar KRI TBO Armada
- Padiv MPK KRI LAM Armada
- Ps. Kadepsin KRI SGU Armada
- Padiv KRI Yos Armada
- Padiv Kawah ABK TCL Armada
- Padiv Elektronika KRI MKT-331 Satkor Armatim
- Kadepsin KRI TKL-813 Satrol Armatim
- Diklapa-II Denmako Makoarma Armatim
- Kadepsin KRI SNA (Singa) Satkat Armatim
- Kadepsin KRI KRS (Keris-624) Armatim
- Dik Seskoal DPB Denmako Makoarma Armatim
- Kadepsin KRI BDK (Badik-623) Satkat Armatim
- Kadepsin KRI HSN (Hasanudin-333) Satkor Armatim
- Sus Athan RI DPB Denmako Makoarma Armatim
- As Athan RI Ur laut di ew Delhi/India
- Paban Utama B-2 Dit B BAIS TNI
- Athan RI di Den Haag Belanda
- Pamen Mabes TNI
- Paban Utama B-6 Dit B BAIS TNI
- Waaspam Kasal
- Aspam Kasal
- Ka BAIS TNI
Ragukan Insiden Tembak Menembak
Saat kasus tewasnya Brigadir J baru mencuat, Soleman langsung meragukan adanya tembak menembak.
Saat itu, Soleman B Ponto mengatakan kasus tersebut saat ini masih sangat janggal.
Dia mengakui terus menunggu kejelasan pengungkapan kasus, termasuk soal yang dikatakan polisi, kejadian tembak menembak.
Menurutnya part soal 'tembak-menembak' antara Brigadir J dan Bharada E tersebut juga masih diragukan olehnya.
"Selama ini yang terus menggaung isu soal pelecehan seksual saja," ungkapnya dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV, Senin (18/7/2022).
Dirinya juga menyebut fakta yang beredar di pemberitaan adalah hanya soal meninggalnya Brigadir J saja.
Sementara soal adanya tembak menembak tidak kuat diungkap pihak kepolisian.
"Faktanya mana tersangkanya belum ada, ini di luar kebiasaan polisi, biasanya polisi kalau ada kasus tembak-menembak sangat cepat, ini loh pelakunya."
"Nah di sini saya ragu," ungkapnya lagi.
Sementara soal CCTV juga turut serta dikritisi Soleman B Ponto.
Di mana sebelumnya polisi menyebut CCTV di area rumah dinas Irjen Ferdy Sambo tak berfungsi, namun satu hari setelah kejadian ada pergantian decoder CCTV.
Bagi Ponto, hal itu mengindikasikan polisi juga ragu mengungkap kasus tersebut.
"Karena polisi sendiri saya lihat ragu menekankan soal kasus tersebut, namun yang terus digaungkan adalah soal kasus pelecehan seksual, ini sangat janggal, ini di luar kebiasaan polisi," lanjutnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.