Berita Lumajang

Imbas Penyakit Mulut dan Kuku, Produktivitas Sapi Perah di Lumajang Belum Sepenuhnya Pulih

Perang melawan penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lumajang belum bisa dikatakan selesai.

Penulis: Tony Hermawan | Editor: irwan sy
SURYA.CO.ID/Tony Hermawan
Ilustrasi - Petugas Dinas Kesehatan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang ketika mengambil sample sapi yang sakit di Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, Jumat (3/6/2022). 

Berita Lumajang

SURYA.co.id | LUMAJANG - Perang melawan penyakit mulut dan kuku (PMK) di Lumajang belum bisa dikatakan selesai.

Sebab, saat ini masih ditemukan sapi yang terjangkit.

Ini bisa menyebabkan wabah PMK bisa berulang dan membuat lompatan kasus tak terduga.

Oleh karena itu, pemerintah terlihat menggencarkan vaksinasi, khususnya sapi.

Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro adalah wilayah yang menjadi sasaran utama.

Sebab, kawasan tersebut terdapat sentra peternak sapi perah.

Pemberian antigen khusus untuk hewan ternak tersebut diklaim bisa merangsang kekebalan hewan ternak, seusai terserang PMK.

Namun, banyak peternak mengeluh vaksin itu tidak terlalu berdampak.

Sebab, produktivitas sapi perah saat ini belum pulih.

“Imbasnya yang paling terlihat pada produksi susunya. Karena biasanya satu ekor sapi bisa menghasilkan sepuluh liter. Tetapi sejak PMK, rata-rata satu ekor itu hanya 5 liter,” ungkap Salim, salah seorang peternak susu perah Senduro.

Lelaki yang memiliki sapi lebih dari 30 ekor itu mengaku tidak semua sapinya bisa diperah.

Sebab, sebagian besar terdampak dan masih proses penyembuhan PMK, sehingga hanya 14 ekor yang bisa diperah.

Itu pun, satu ekor sapi, saat ini tidak pernah menghasilkan belasan liter susu.

Paling banyak sekarang hanya menghasilkan sekitar 8 liter susu.

"Bisa-bisa peternak sapi perah seperti kami ini buntung,” katanya.

Kerugian selalu menjadi bayang-bayang karena peternak terbiasa mengambil laba dari akumulasi kuantitas.

Jika produktivitas sapi perah turun, ancamannya laba peternak hanya cukup untuk balik modal.

Bahkan, memungkinkan peternak mengalami tekor jika sapi perah tak kunjung menghasilkan jumlah liter susu yang maksimal.

"Koperasi Unit Desa (KUD) mematok harga Rp 6.200 untuk satu liter susu. Sebenarnya bagi kami, kalau harga segitu, nutut untuk operasional dengan catatan semua sapi tidak terdampak PMK dan bisa diperah,” pungkasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved