Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang

JELANG SETAHUN KASUS SUBANG, Kapolda Beber Kendalanya, Saksi yang Tersudut Akhirnya Mau Bersuara

Hampir setahun kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang atau yang dikenal dengan kasus Subang terjadi, namun polisi belum juga menetapkan tersangka. 

Editor: Musahadah
kolase tribun jabar/youtube
Kapolda Jabar Irjen Pol Suntana membeber kendala pengungkapan kasus Subang. Di bagian lain, saksi yang kerap disudutkan akhirnya mau bersuara. 

SURYA.CO.ID - Hampir setahun kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang atau yang dikenal dengan kasus Subang terjadi, namun polisi belum juga menetapkan tersangka. 

Padahal di kasus Subang ini polisi sudah meminta keterangan ratusan saksi dan ahli serta mendapatkan rekaman CCTV.  

Polisi dari Polda Jabar juga sudah membuat sketsa wajah sosok yang diduga terlibat dalam kasus Subang

Kenapa sampai sekarang Polda Jabar belum menetapkan tersangka? 

Kapolda Jabar Irjen Pol Suntana mengungkapkan kasus ini sanga minim bukti sehingga sulit bagi mereka untuk mengungkapnya.

Baca juga: UPDATE KASUS SUBANG, Akhirnya Yanti Istri Yosef Jawab Tudingan Cawe-cawe Yayasan dan Hari Pembunuhan

"Sejauh ini kami belum bisa menetapkan tersangka, karena polisi terkendala pembuktian dalam menetapkan tersangka di kasus Subang ini," katanya saat ditemui sela-sela kunjungan kerja di Purwakarta, Senin (18/7/2022). 

Suntana menastikan masih terus bekerja untuk bisa mengungkap kasus tersebut.

"Kami jajaran Polda Jabar dan Polres Subang terus bekerja secara maksimal untuk mengungkap kasus Subang ini," katanya. 

Dia juga meminta doanya dari masyarakat agar kasus ini cepat terungkap.

"Kami dari Polda Jabar dan Polres Subang, akan terus bekerja dan meminta doanya dari seluruh masyarakat,  agar kami bisa mengungkap kasus perampasan nyawa ibu dan anak di Subang," ucapnya

Suntana mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas respons dan semangat masyarakat untuk memonitor kasus ini.

"Sangat berterima kasih begitu tingginya respons dan semangat untuk memonitor kasus ini," ucapnya.

Dikatakan Suntana, ia berulang kali menyampaikan kepada masyarakat dalam pengungkapan sebuah kasus ada yang cepat dan lambat

"Berulang kali saya sampaikan kepada masyarakat dalam mengungkap kasus itu ada yang cepat ada yang lambat tergantung bukti yang kita kumpulkan," katanya.

Seperti halnya pengungkapan kasus perampasan nyawa Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu di Subang ini perlu pembuktian yang mendalam.

"Pengungkapan kasus Subang tak mudah dan berbeda dengan kasus lain, mengingat dalam kasus ini sangat minim bukti," ucapnya.

"Jadi perlu pembuktian yang mendalam untuk mengungkap kasus Subang ini," ucapnya.

Kapolda Jabar meminta masyarakat bersabar, terkait belum terungkapnya kasus perampasan nyawa ibu dan anak di Subang ini.

"Kami jajaran Polda Jabar belum bisa mengungkap Kasus Subang, akibat minimnya pembuktian," katanya.

Penyidikan kasus Subang hingga saat ini masih terus berlangsung baik oleh Jajaran Polda Jabar maupun Polres Subang, demi terungkapnya kasus yang menggemparkan publik tersebut.

"Masyarakat dimohon bersabar, terkait belum terungkapnya kasus perampasan nyawa Ibu dan anak di Subang, bukan berarti kita mendiamkan, penyidikan kasus Subang masih terus diproses," katanya.

"Percaya penyidik sedang melakukan berbagai cara untuk mengungkap kasus ini, dan kami tidak diam dan terus bekerja untuk mengungkap kasus Subang. Karena pengungkapan kasus Subang, berbeda dengan kasus pembunuhan lain, perlu pembuktian yang mendalam. Karena kasus Subang ini diketahui beberapa jam setelah kejadian dan minim alat bukti," ujarnya.

Seperti diketahui, peristiwa perampasan nyawa Ibu dan anak yang menimpa Tuti Suhartini dan anak gadisnya Amalia Mustika Ratu terjadi tanggal 18 Agustus 2021.

Jasad keduanya ditemukan di bagasi mobil mewah yang terparkir di garasi rumah korban di Kampung Ciseuti Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, Subang.

Saksi yang Tersudut Akhirnya Bersuara

Yoris merasa terpuruk setelah kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang. Kini, jelang setahun kasus Subang Yoris sindir tentang kebenaran dan si Bodoh.
Yoris merasa terpuruk setelah kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang. Kini, jelang setahun kasus Subang Yoris sindir tentang kebenaran dan si Bodoh. (youtube Yoris and family)

Belum terungkapnya kasus ini memunculkan spekulasi liar di masyarakat. 

Bahkan para saksi terkesan menuduh saksi lain. 

Saksi yang kerap disudutkan adalah Yanti Jubaedah, istri Yoris Raja Amanullah atau menantu Tuti Suhartini. 

Yanti disudutkan karena diduga mempunyai dendam ke korban, Amalia Mustika Ratu setelah beredar status facebook yang diduga ditulisnya 

Yanti juga disudutkan terkait keberadaannya di hari pembunuhan serta pengelolaan yayasan Bina Prestasi Nasional. 

Setelah lama memilih diam, baru-baru ini, Yanti akhirnya mau membuka diri mengungkapkan perasaannya. 

Yanti yang sempat diragukan keterangannya terkait keberadaan di di hari pembunuhan akhirnya mau mengklarifikasi. 

Dalam kesaksian sebelumnya, Yanti mengaku sedang mengantar anaknya ke PAUD saat mertuanya, Yosef Hidayah menelponnya. 

Di pagi setelah pembunuhan itu, Yosef yang baru tiba ke rumah korban ingin mengabarkan bahwa Tuti dan Amel diculik.

Baca juga: TERBARU KASUS SUBANG, Terkuak Penyakit Yoris yang Kerap Buat Dia Mangkir Pemeriksaan, Turunan Ibu

Kesaksian Yanti mengantar anak ke PAUD ini lah yang dianggap janggal netizen. 

Pasalnya, saat itu masih ada PPKM akibat pandemi Covid-19. 

Netizen juga mempertanyakan kendaraan apa yang dipakai Yanti ke PAUD mengingat dia tidak bisa mengendarai motor. 

Di video terbaru yang diunggah pada channel youtube-nya, Yanti mendapat pertanyaan itu.

 "Teteh pakai apa ke PAUD?," tanya Yoris. 

"Pakai sandal," sahut Yanti sambil tersenyum. 

"Kalau gak pakai sandal ya kotor," sambungnya diikuti gelak tawa Yoris. 

Setelah Yoris mempertegas pertanyaannya, Yanti akhirnya menjawab kalau saat itu dia hanya berjalan kaki ke PAUD karena jaraknya cukup dekat. 

"Cuma Beda satu RT. Masih sekampung," terangnya. 

Yanti lalu menanggapi keingintahuan netizen kepadanya. 

Dia menyadur pepatah bahwa kalau tak kenal, maka tak sayang. 

Karena itu dia meminta netizen untuk tidak malu bertanya agar tidak sesat di jalan. 

Hanya saja, Yanti tidak menerangkan kenapa saat itu PAUD masih buka, padahal berlaku PPKM. 

Tak Ikut Campur Yayasan

Selain soal kegiatannya di hari pembunuhan, Yanti juga menjawab tudingan dia ikut campur di yayasan Bina Prestasi Nasional. 

Tudingan ini awalnya di sampaikan Dedi, mantan bendahara SMK Bina Prestasi Nasional yang dipecat oleh Yoris.

Dedi awalnya menyebut jika selepas dia dipecat sebagai bendahara sekolah, posisinya digantikan Yanti atau Yoris sendiri.  

Dedi juga menyebut kondisi Yoris kini sedang tertekan. 

Hal itu beralasan karena ia banyak ditagih guru-guru yang belum menerima gaji. 

"Sampai sekarang guru-guru belum digaji. Belum ada pembayaran," terang Dedi dikutip dari wawancara yang tayang di channel youtube Koin Seribu 77, Jumat (8/7/2022). 

Diakui, pencairan dana terakhir dilakukan dia ketika masih menjabat bendahara pada Maret 20220. 

Namun, dana yang dicairkan itu tidak digunakan untuk membayar gaji guru.

"Kan kata A Yoris, jangan dulu. Guru-guru ntar aja dari BPMO (dana bantuan lain)," terang Dedi.

Dana bantuan yang sudah dicairkan dari Bnak Jawa Barat (BJB) itu langsung diserahkan di rumah Yoris secara cash. 

"Saksinya kepala sekolah, diserahkan di rumah A' Yoris.
Sama A Yoris langsung diserahkan ke Yanti (istrinya)," ungkap Dedi. 

Kenapa ke Yanti? 

Dedi mengakui tidak tahu menahu. Yang dia tahu, Yanti tidak masuk dalam kepengurusan yayasan. 

Lalu, bagaimana dengan gaji guru? 

Diakui Dedi, setelah dia dipecat, dana bantuan lain yang sedianya akan digunakan untuk menggaji guru itu sudah cair tiga hari sesudah lebaran.

Namun dia tidak tahu menahu kenapa gaji guru juga belum dicairkan. 

Menanggapi tudingan ini, Yanti menegaskan dia tidak pernah ikut campur masalah yayasan. 

"Dari almarhum (Tuti) masih ada, sama Amel, teteh (Yanti) mah gak kerja di yayasan.
Apalagi di sekolah, enggak ya," tegas Yanti. 

Diakui Yanti, dari dulu sampai sekarang kerjaannya hanya mengurus anak dan rumah. 

Sesekali dia membantu di toko ibunya. 

Yanti mengaku tak ikut campur yayasan karena lokasinya jauh dengan rumah.  

"Jarak tempuh dari rumah ke jalan cagak jauh, apalagi ke sekolah.

Kayak rumah saya ke Subang kota.

Saya memang kabupaten subang, cuma kecamatan Kasomalan dan masih di perkampungan juga," katanya,

Yoris lalu menimpali bahwa sejak awal tidak meminta sang istri untuk bekerja.

Menurutnya, tanggung jawab mencari nafkah adalah urusannya.

"Saya berprinsip, saya sebagai kepala rumah tangga saya yang kerja, saya yang menafkahi," tegas Yoris.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved