Berita Kota Surabaya

Kelola Rumah Padat Karya Viaduct Jadi Coffe Shop Instagramable, MBR Surabaya Raup Puluhan Juta

"Ada 23 MBR yang bekerja di sana, dan masing-masing mendapat gaji antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta per bulan," sambungnya.

surya/bobby constantine Koloway
Coffee Shop di Rumah Padat Karya (Pakar) di viaduct Jalan Nias, Kecamatan Gubeng Surabaya diminati banyak pengunjung. 

SURYA.CO.ID, KOTA SURABAYA - Sebagian drai Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Surabaya sudah mampu menjadi mandiri bahkan mendapat penghasilan besar. Salah satunya dengan memanfaatkan Rumah Padat Karya (Pakar) di viaduct Jalan Nias, Kecamatan Gubeng sebagai sarana untuk membuka usaha.

Terentasnya MBR lewat usaha ini juga menjadi bukti keberhasilan Pemkot Surabaya melalui Rumah Pakar. Bahkan MBR bisa mendapat omzet puluhan juta dalam sebulan dari hasil usahanya.

Camat Gubeng, Eko Kurniawan Purnomo mengatakan, Rumah Pakar banyak diminati pengunjung. Selain tempatnya yang strategis dan kekinian, warga yang melayani pengunjung juga profesional.

Di sana sudah dibuka coffee shop yang kekinian serta instagramable dan sangat pas untuk tempat meeting bersama teman kantor. "Coffe shop di Rumah Pakar itu digemari banyak pengunjung, karena suasananya seperti di rumah sendiri," kata Eko, Rabu (13/7/2022).

Selain coffee shop, tempat itu juga dilengkapi barbershop (kios cukur rambut) hingga cuci motor dan mobil. Tetapi yang paling banyak diminati masyarakat adalah coffee shop.

Untuk memaksimalkan dua unit usaha lainnya, pemkot akan memberikan pelatihan lebih mendalam. "Sementara ini hanya menjalankan coffee shop, karena yang potong rambut itu ternyata tidak sesuai passionnya," kata Eko.

Selain itu, pihaknya juga berencana memindahkan lokasi cuci mobil ke area yang lebih luas. "Cuci mobil dan motor, tempatnya belum memadai. Rencananya pada 2023 kita siapkan di Kantor Kelurahan Baratajaya," tambahnya.

Sekalipun baru satu unit usaha yang berjalan, Rumah Pakar bisa menghasilkan omzet hingga Rp 88 juta per bulan. Omzet itu nantinya digunakan untuk gaji karyawan, biaya operasional, bahan baku, dan beberapa lainnya.

"Ada 23 MBR yang bekerja di sana, dan masing-masing mendapat gaji antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta per bulan," sambungnya.

Pemkot juga melakukan promosi melalui media sosial (medsos). Selain itu, masyarakat (LSM) untuk meningkatkan skill MBR yang bekerja di tempat tersebut.

"Tentunya kita terus melakukan evaluasi. Jadi tidak hanya coffee shop, kami juga menghadirkan pelatih dari bidang lain untuk meningkatkan pendapatan sesuai dengan permintaan Pak Wali Kota (Eri Cahyadi)agar pendapatan MBR bisa sampai Rp 4 juta perbulan," ungkap Eko.

Viaduct Gubeng di Jalan Nias 110 Kecamatan Gubeng Kota Surabaya yang digunakan sebagai rumah padat karya merupakan aset Pemkot Surabaya. Masyarakat yang hendak mengunjungi Rumah Padat Karya Viaduct Gubeng bisa datang ke lokasi mulai pukul 10.00 WIB sampai 22.00 WIB.

Rencananya, pihak kecamatan akan menambah komoditas rumah padat karya dengan beberapa unit usaha “Rencana ke depan, kita akan buka laundry dan sentra batik, sekaligus ada desainernya di situ. Jadi warga yang membeli kain batik dan ingin model seperti apa, akan dijahitkan dan hasilnya akan menjadi baju siap pakai,” jelasnya.

Untuk kegiatan yang lain, Viaduct Gubeng bisa menjadi tempat berkumpulnya para komunitas. Warga juga bisa bermain basket di halaman belakang. “Untuk teman-teman generasi muda yang mau mengembangkan diri, kami akan gandeng berbagai stakeholder untuk menggelar berbagai kegiatan,” ujar Eko.

Sebelumnya Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi meresmikan rumah padat karya di Jalan Nias, Sabtu (28/5/2022) lalu. Total luas bangunan ini mencapai 857 meter persegi.

Mas Eri menjelaskan, bahwa bentuk program padat karya itu dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan aset yang ada. Misalnya ada aset berupa tambak, maka dapat dikelola untuk perikanan oleh MBR di wilayah sekitarnya.

Demikian pula jika aset itu berupa lahan kosong, maka bisa dimanfaatkan untuk pertanian atau usaha yang lain."Kalau seperti ini, saya tanya warga mintanya seperti apa? Ada yang ingin barbershop, ada yang ingin kafe, ya kita buatkan. Sehingga memunculkan rasa saling memiliki," terangnya. *****

Sumber: Surya
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved