KKB Papua
Tak Tinggal Diam Prajurit Marinir Gugur Ditembak KKB Papua, ini Langkah Tegas Laksamana Yudo Margono
KSAL Laksamana TNI Yudo Margono tak tinggal diam setelah beberapa prajurit marinir gugur ditembak KKB Papua.
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Adrianus Adhi
Almarhum kerap meminta bantuan kakaknya untuk membagikan uang yang dikirimnya dari Papua untuk keluarga, teman dan beberapa orang yang sakit di Babat.
“Akhir- akhir ini sering memberi sedekah. Saya sering disuruh untuk menyerahkan,” ungkap Yanta, Minggu.
Bahkan, menurut Yanta, uang yang ditransfer melalui rekeningnya itu dinilainya teramat sering dan jumlahnya juga cukup banyak.
“Lho kok banyak, ini kan belum Idul Fitri,” kata Yanta pada sang adik.
Namun berulangkali Miftah (almarhum) menjawab, ia sedang dapat banyak tambahan uang.
Dan tambahan itu diniatkan semua untuk disedekahkan.
“Gak, gak popo Mas, aku dapat tambahan uang banyak. Tolong itu bagikan untuk orang-orang di rumah, teman, tetangga dan keluarga yang sakit,” kata Yanta mengutip jawaban Miftah.
Kebaikan almarhum, diakui Yanta, bukan hanya semasa jadi abdi negara.
Sejak kecil sampai berhasil masuk TNI AL, Miftah tetap baik, santun dan sederhana.
2. Ayah Punya firasat
Sartono, bapak almarhum mengakui mendapat firasat sampai ada kabar kalau anaknya telah meninggal oleh kekejaman KKB. Ia tidak bisa tidur nyenyak pada Jumat malam.
“Saya semalam itu susah tidur, tidak seperti biasanya. Tahu-tahu kemudian ada kabar kalau Mif (panggilan korban) meninggal karena KKB,” ungkapnya.
Sartono merasa sedih kehilangan sang putra yang masih lajang itu. Dia diakui alamarhum merupakan anak yang baik.
Sejak kecil hingga dewasa dan menjadi anggota TNI, akhlaknya tetap, dia santun dan baik dengan semua orang.
“Kalau pulang maupun hendak berangkat tugas selalu pamit dan jabat tangan dengan para tetangga, termasuk dengan keluarga,” katanya.
Miftah, katanya, punya rencana juga akan mengumpulkan teman- teman sekolahnya ketika sudah pulang dari tugas di Papua.”Anak itu baik, santun sama semua orang,” kata Sartono.
Almarhum belum berencana untuk menikah, karena ingin melanjutkan sekolah sebagai seorang tentara.
“Dia belum, belum punya pacar. Dia tidak mikir itu, karena maunya hanya ingin sekolah dulu,” ungkapnya.
Sartono berharap kejadian yang dialami anaknya menjadi insiden terakhir. Dan keberadaan KKB segera bisa diselesaikan.
Doa dari semua orang untuk anaknya sangat ia harapkan. ”Semoga husnul khotimah,” ujarnya.
3. Jenazah disambut Danpasmar 2
Sementara itu kedatangan jenazah Praka (Anumerta) Dwi Miftahul Akhyar di rumah orang tuanya di Jalan Sumowiharjo RT 03 RW 10 Kelurahan Babat, Lamongan disambut Komandan Pasukan Marinir (Danpasmar ) 2 Surabaya Brigjen Mar Suherlan, Minggu (24/4/2022).
Jenazah alamarhum tiba di Babat pukul 16.00 WIB, langsung dibawa ke Masjid Jamik Al-Abror Sawo yang jaraknya 400 meter dari rumah orang tua korban untuk disalati.
Almarhum Miftah dimakamkan setelah salat tarawih di pemakaman umum desa setempat. 200 meter timur rumah almarhum.
Sementara itu Danpasmar 2 Brigjen Mar Suherlan mengatakan, pihaknya bersama teman-teman almarhum telah mengantarkan jenazah almarhum dari Timika dengan perjalanan sekitar 8 jam.
“Sampai di Surabaya tadi jam 14.40 WIB,” kata Suherlan.
Ia mendoakan, semoga perjuangan almarhum tidak sia-sia. Apa yang dilakukan oleh almarhum semoga menjadi ladang amal ibadah bagi almarhum.
“Dalam raport kesatuan, almarhum adalah prajurit yang baik, dia adalah orang baik, orang yang penuh dedikasi dan di akhir hayatnya gugur sebagai syuhada,”tandas Suherlan.
Oleh negara almarhum diberi penghargaan kenaikan pangkat satu tingkat yaitu menjadi Praka.
“Ini adalah putra kebanggaan keluarga dan kebanggaan kita semua, semoga keluarga tabah menghadapi cobaan dari Yang Maha Kuasa ini,” pungkasnya.
>>>Ikuti Berita Lainnya di News Google SURYA.co.id