Rabu, 3 Juni 2026

Berita Gresik

Sering Terendam Banjir Kali Lamong Selama Musim Hujan, Petani Gresik Pasrah Karena Gagal Tanam

Sudah tiga kali tanam padi gagal terus, karena diterjang banjir Kali Lamong di Kabupaten Gresik.

Tayang:
Penulis: Sugiyono | Editor: Titis Jati Permata
Foto Istimewa
Lahan pertanian di Dusun Glintung, Desa Kepatihan, Kecamatan Menganti gagal panen akibat sering diterjang banjir Kali Lamong selama musim hujan. 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Petani di Dusun Glintung, Desa Kepatihan Kecamatan Gresik, gagal tanam, sebab lahannya sering terendam banjir luapan Kali Lamong.

Akibatnya, puluhan hektar lahan perpetanian tidak bisa ditanami selama musim hujan ini.

Seperti yang disampaikan Samiono (58), warga Dusun Glintung Desa Kepatihan Kecamatan Menganti tidak putus asa meskipun harus tanam padi lagi sampai 4 kali.

Sebab, pekerjaan satu-satunya sebagai petani yang menggantungkan penghasilan dari bertani. Dia merasa sangat prihatin dengan keadaannya.

"Sudah tiga kali tanam padi gagal terus, karena diterjang banjir. Sekarang, tanam yang keempat. Semoga tidak ada banjir lagi," kata Samiono.

Lebih lanjut Samiono, mengatakan, setiap tanam selalu mengeluarkan biaya yang lumayan mahal.

Di antaranya untuk membeli bibit padi dengan harga Rp 105,000 per 10 kilogram.

Untuk pupuk, sekarang harganya Rp 300,000 per paket yaitu urea, phonska dan pupuk organik.

"Butuh dua kantong. Belum lagi untuk buruh tani, pupuk dan perawatan," katanya.

Disinggung mengenai asuransi pertanian, Samiono mengatakan ikut asuransi.
Namun, untuk mengajukan ganti rugi ke asuransi tidak bisa, sebab alasan dari jasa asuransi mengatakan kuota pengajuan ganti rugi sudah habis.

"Asuransi tidak bisa mengganti kerugian petani. Alasannya, kuota sudah habis," katanya.

Dari hasil pertanian yang tidak menghasilkan tersebut, Samiono mengharapkan ada bantuan dari Pemerintah, sehingga bisa untuk bertahan hidup di saat pandemi covid-19.

Saat ini, kebutuhan hidup untuk makan hanya mengandalkan hasil panen tahun kemarin.

"Iya, saat ini kebutuhan sehari-hari masih cukup. Tapi, kalau sawah tidak bisa ditanami, petani mau hidup dari mana," imbuhnya.

Nasib gagal tanam tersebut tidak hanya dialami Samiono, tapi juga oleh petani lain yang ada di sekitar lahan pertaniannya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved