Breaking News:

Berita Surabaya

Anwar Sadad : Produsen Tempe Mengeluh Harga Kedelai Mahal, Bikin UKM Menjerit

Tingginya harga kedelai tak seiring dengan harga produk tempe yang mereka jual. Sehingga, para produsen pun merugi.

surya.co.id/mohammad romadoni/bobby kolloway
Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Anwar Sadad (kanan) dan foto ilustrasi kedelai (kiri). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Anwar Sadad mendapat keluhan dari produsen tempe di Jawa Timur.

Ini disebabkan dengan mahalnya kedelai sebagai bahan baku utama tempe.

"Kami baru saja diskusi produsen tempe dan tahu. Dari diskusi ini, para pelaku UKM tempe tahu menjerit karena harga kedelai melangit," kata Sadad kepada SURYA.co.id, dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (23/2/2021).

Menurut Sadad, tingginya harga kedelai tak seiring dengan harga produk tempe yang mereka jual. Sehingga, para produsen pun merugi.

"Per hari ini di angka (harga kedelai) mencapai Rp 9.800 per kg atau naik 25-30 persen dibanding sejak awal pandemi. Tetapi mereka hanya bisa menaikkan 10-15 persen harga jual tempe dan tahu," katanya.

Plt Ketua Gerindra Jawa Timur ini menilai harus ada intervensi dari pemerintah provinsi untuk ikut menekan harga kedelai.

"Gubernur (Khofifah Indar Parawansa) harus mendengar jeritan produsen tempe," kata Sadad.

Di sisi lain, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim sejak Januari lalu telah melakukan koordinasi dengan para importir guna menekan tingginya harga kedelai di wilayah itu.

Hal ini sebagai upaya pemenuhan kebutuhan kedelai bagi Industri Kecil Menengah (IKM) tahu dan tempe yang berada di wilayah setempat.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim, Drajat Irawan mengatakan produksi kedelai Jawa Timur selama tahun 2020 sebesar 57.235 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi kedelai sebesar 447.912 ton.

Sehingga, terdapat defisit 390.677 ton yang harus dipenuhi melalui impor.

Berdasarkan data BPS Jatim pada periode Januari-Oktober 2020, impor kedelai sebanyak 698.191,92 ton mengalami penurunan sebesar 10,31 persen dibanding periode yang sama di tahun 2019.

Drajat mengatakan, menurut hasil koordinasi yang telah dilakukan dengan sentra industri tempe Sanan yang berada di Kota Malang yang terdiri dari 600-an pengrajin tempe diperoleh informasi bahwa harga kedelai mengalami kenaikan dan mulai jarang tersedia.

"Meski mahal, mereka yang ada di sentra industri tempe Sanan, tetap melakukan produksi dengan penurunan sekitar 20 persen," kata Drajat.

Oleh karena itu, kata Drajat, untuk mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga kedelai, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan importir dan berhasil memperoleh dukungan CSR berupa kedelai dengan harga yang kompetitif sebesar Rp 8.500 dari PT. FKS Multi Agro, Tbk untuk membantu IKM tahu dan tempe.

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved