Khofifah vs Risma dalam Pilkada Surabaya 2020, Siapa Pemenang dalam Adu Kuat Pengaruh?
Khofifah vs Risma dalam Pilkada Surabaya, siapa pemenang dalam adu kuat pengaruh?
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Tri Mulyono
Terutama pada jejaring sosial keagamaan kader-kader muslimah," ujar Pengamat Politik Unair, Hary Fitrianto.
Machfud Arifin yang juga mantan Kapolda Jatim, bakal mengantongi dukungan 31 kursi di parlemen Kota Surabaya.
Sementara PDIP dapat mencalonkan pasangan sendiri tanpa koalisi karena memiliki 15 suara parleman.
Kepentingan koordinasi provinsi dengan kota serta keberlanjutan program jadi salah satu alasan pengaruh Khofifah dan Risma di Pilkada Surabaya.

Sarat kepentingan
Sementara itu, peneliti Surabaya Survei Center (SSC), Surokim Abdussalam menilai, baik Khofifah maupun Risma mempunyai kepentingan yang besar dalam Pilkada Surabaya 2020.
"Dua-duanya punya kepentingan yang kental. Risma ingin punya suksesor dengan apa yang sudah dia letakkan selama ini.
Dan Khofifah punya kepentingan agar koordinasi dengan pemkot tidak panas lagi," kata Surokim Abdussalam dalam diskusi daring bertajuk NgoPi (Ngobrol Pintar) Forum Jokowi, dengan mengusung tema: Jurnalis Bicara Pilwali Surabaya Surabaya 2020, Rabu (29/7/2020).
Acara yang dipandu Aven Januar dan Edward Dewaruci ini menghadirkan pembicara sejumlah jurnalis senior di Surabaya. Yakni, Manajer Editor Online TribunJatim Network Mujib Anwar, Kardono Jawa Pos, Antok BeritaJatim.com, Hidayat Memorandum, dan Trisnadi.
Lebih lanjut, Surokim Abdussalam menjelaskan, Khofifah ingin ada harmonisasi komunikasi antara Pemprov Jatim dengan Pemkot Surabaya yang selama ini tidak terjalin.
Namun begitu, untuk Khofifah menentukan dukungan bukanlah sesuatu yang mudah.
"Jika jagoannya Bu Khofifah yang sebenarnya tidak dapat rekom dari parpol maka Bu Khofifah akan lebih banyak mendukung calon yang beredar, dan potensi terbesar yaitu MA," lanjut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISIB) Universitas Trunojoyo, Madura ini.
Sedangkan Risma sendiri, lanjut Surokim Abdussalam, pasti akan mendukung calon yang mendapatkan rekomendasi PDI Perjuangan, karena ia adalah Ketua DPP Bidang Kebudayaan PDI Perjuangan.
"Kedua ibu ini tidak mungkin mendukung jagoan yang sama dan pasti dalam ceruk yang berbeda," lanjut Surokim Abdussalam.
Perbedaan jalur antara Khofifah dan Risma juga sudah terlihat mulai dari langkah politik seperti dukungan dalam Pilgub Jatim sebelumnya hingga peristiwa terakhir terkait penanganan virus Corona ( Covid-19 ).