Bagaimana Struk ATM Bisa Dipakai untuk Bobol Rekening Bank? Begini Analisis Dosen Ilmu Komputer UNS

Pembobolan rekening bank di Sumatera Selatan yang hanya menggunakan struk ATM cukup menyita perhatian publik. Berikut analisis dosen Ilmu Komputer UNS

Kolase kompas.com/Fabian Januarius Kuwado dan priyambodo
Ilustrasi pembobolan rekening bank menggunakan struk ATM 

SURYA.co.id - Modus baru tindak kriminal pembobolan rekening bank di Sumatera Selatan cukup menyita perhatian publik baru-baru ini.

Bagaimana tidak, cara para pelaku menjalankan aksinya cukup sederhana yakni dengan menggunakan struk ATM korbannya.

Meski baru pertama terjadi, benarkah ada potensi pembobolan rekening bank dengan menggunakan struk ATM?

Melansir dari Kompas.com dalam artikel 'Kasus Pembobolan Rekening dengan Struk ATM, Robek Sebelum Buang Struk Transaksi!', ahli IT yang juga dosen Ilmu Komputer Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rosihan Ari Yuana mengungkap analisisnya.

Menurut Rosihan, seharusnya tak ada informasi detail data nasabah pada struk ATM.

Namun, ada kemungkinan struk ATM tersebut hanya digunakan sebagai bukti untuk meyakinkan petugas bahwa pelaku seakan-akan telah melakukan transaksi.

"Di struk itu tidak ada informasi detail tentang data nasabah. Menurut saya, struk yang diambil dari ATM itu hanya sebagai bukti penguat saja bahwa seakan-akan baru saja bertransaksi di ATM tersebut," kata Rosihan saat dihubungi Kompas.com, Kamis (23/7/2020).

Ia berpendapat, hampir tak mungkin membobol rekening bank hanya bermodalkan struk ATM.

Menurut Rosihan, pelaku kemungkinan sudah mengetahui data-data nasabah yang menjadi acuan untuk membuat buku tabungan dan KTP palsu.

Meski demikian, Rosihan mengimbau agar masyarakat merobek struk ATM terlebih dahulu ketika akan membuangnya.

"Sebaiknya ketika dibuang tetap dirobek, terutama yang bagian tertera nomor rekening dan kode transaksinya," jelas dia.

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi ketika seseorang secara tak sengaja mengunggah data pribadi ke media sosial atau internet.

"Sehingga jika nomor rekening kita ketahuan, lalu si pencuri searching di Google, dapatlah data pribadi kita buat bekal bikin KTP atau buku tabungan palsu," kata dia dia.

"Kecuali kalau kita sama sekali tidak pernah publish data pribadi kita di internet, tapi siapa yang jamin? Amannya tetap dirobek saja," lanjut dia.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved