Jumat, 24 April 2026

BERITA SURABAYA Hari Ini Populer, Update Kasus Pemuka Agama Perkosa & Warga Buru Empon-empon

Berita Surabaya hari ini populer dimulai dari perkembangan terbongkarnya kasus pemuka agama melakukan pemerkosaan.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
Kolase Youtube & SURYA.co.id/Hanif M
BERITA SURABAYA Hari Ini Populer, Update Kasus Pemuka Agama Perkosa & Warga Buru Empon-empon 

2. Buntut Video Viral Keluarga Pasien Nangis-nangis Tak Dilayani di RS Soewandhie

Video viral seorang pria marah-marah di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr M Soewandhie Surabaya berbuntut.
Video viral seorang pria marah-marah di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr M Soewandhie Surabaya berbuntut. (Instagram)

Video viral seorang pria nangis-nangis sambil emosi di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr M Soewandhie Surabaya berbuntut. 

Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya sampai mendatangi kediaman sang pria untuk mengklarifikasi hal itu. 

Video ini viral setelah diunggah akun Facebook Ikas Choirul Iklani yang kemudian disebar oleh sejumlah akun media sosial lain. 

Di dalam video itu, seorang pria seperti sedang menangis dan terdengar melayangkan protes yang disampaikan menggunakan bahasa Jawa serta Bahasa Madura. 

Awalnya sang pria ini menanyakan nomor antrean pemeriksaan anaknya. 

Tak disangka, pria ini mendapat perlakuan tak sesuai oleh seorang petugas. 

Sementara beberapa orang sekitarnya nampak menyaksikan kejadian tersebut. 

"Ket mau aku iki. wes gak iso, sampe nyentak-nyentak iku mau," teriak seorang pria dalam video tersebut. 

Setelah video ini viral, Dinas Kesehatan Kota Surabaya pun turun tangan.  

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan narasi tentang pasien tak dilayani itu tidaklah benar. 

Dia yang juga menjabat Plt Direktur RSUD Dr M. Soewandhie itu menyebut pihaknya telah berupaya memberikan klarifikasi kepada yang bersangkutan. 

"Dengan mengunjungi rumah yang bersangkutan di dua alamat, yang kami peroleh, tapi rumahnya kosong," kata Feny, sapaan akrab Febria Rachmanita. 

Tak berhenti disitu, pihaknya juga sempat menghubungi nomor kontak yang bersangkutan, namun hasilnya juga nihil sebab kontaknya tidak aktif. 

Feny mengatakan, pelayanan yang dilakukan di IGD rumah sakit tersebut tidak berdasar nomor antrian, namun berdasarkan gawat darurat. 

Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya, Rince Pangalila juga membantah jika pihaknya tak memberikan pelayanan apalagi tidak menghiraukan pasien tersebut. 

"Kalau tidak dilayani itu tidak benar," katanya saat dikonfirmasi TribunJatim.com melalui sambungan telepon pribadinya, Kamis (5/3/2020). 

Menurut Rince, berdasarkan data yang terekam di rumah sakit, pasien tersebut datang pada pukul 14.40 WIB, kemudian diperiksa dokter pada 14.41 WIB. 

Setelah diperiksa, anak dari seorang pria tersebut tidak dalam keadaan gawat darurat melainkan batuk pilek. 

"Kalau IGD itu kan melayani pasien dalam keadaan gawat darurat. Jadi IGD itu melayani pasien bukan berdasarkan antrian, tapi berdasarkan kegawatdaruratan," tuturnya. 

Di waktu yang sama, terdapat sekitar tujuh pasien yang membutuhkan penanganan cepat. 

"(Yang tujuh orang) kalau tidak ditolong nyawanya bisa melayang," ungkapnya. 

Sementara seorang pria itu diminta menunggu sembari mendaftar. 

"Sambil dokter dan perawat itu menangani pasien yang lagi gawat darurat, ada tujuh orang," tambahnya. 

Seorang pria yang merekam video itu, dalam narasinya juga menyebut petugas rumah sakit juga akan merampas telepon genggamnya saat tengah merekam. Hal itu juga dibantah oleh Rince. 

Sebab menurut Rince, petugas mengingatkan apabila tidak diperkenankan mengambil gambar di dalam rumah sakit. 

"Petugas itu ngomong, 'Pak enggak boleh direkam,' terus ngamuk lari keluar," ungkapnya menceritakan.

3. Satgas Pangan Polda Jatim Blusukan ke Pasar Keputran, Pedagang Cerita Empon-Empon Banyak Diburu

Sulastri (54) Pedagang empon-empon di Pasar Wonokromo, Surabaya, Rabu (4/3/2020).
Sulastri (54) Pedagang empon-empon di Pasar Wonokromo, Surabaya, Rabu (4/3/2020). (Mayang Essa/TribunJatim.com)

Tim Satgas Pangan Polda Jatim blusukan di Pasar Tradisional Keputran, Tegalsari, Surabaya, Kamis (5/3/2020) malam.

Dikomandoi langsung oleh Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, petugas langsung blusukan masuk ke dalam pasar berkomunikasi langsung dengan para pedagang.

Tujuannya, memastikan secara langsung harga bahan kebutuhan pokok yang dijual di pasar tersebut jelang Bulan Ramadhan dan pasca beredarnya isu Virus Corona.

Belasan petugas Polda Jatim berompi cokelat bertuliskan 'Satgas Pangan Jatim' di punggung mereka tampak berkerumun di sudut tengah pertigaan Jalan Keputran I.

Semula ada yang mengira insiden kriminalitas baru saja terjadi di kawasan itu, hingga membuat pedagang beberapa kali menghentikan kesibukan mereka melakukan bongkar muat berbagai macam palawija, buah-buahan, bahan makanan pokok dan semacamnya, dari kendaraan angkut yang mereka gunakan.

Namun dugaan mereka terpatahkan, saat belasan petugas menyapa para pedagang disusul obrolan ringan, yang sesekali diselingi canda para pedagang.

"Pripun kabar'e pak sehat? Stok barang dagangan apa yang mulai naik harganya," kata Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Gidion Arif Setyawan pada salah satu pedagang palawija di depan lorong sisi barat pasar.

Dengan raut wajah tersipu malu, Wasis menjawab pertanyaan itu, sejumlah palawija yang dijualnya masih dalam harga relatif stabil, namun tidak dengan bawang bombai.

Wasis menerangkan, jikalau harga bawang bombai sebelumnya berkisar Rp 20 Ribu Per Kilogram, belakangan ini melonjak tajam hingga tembus Rp 120 Ribu Per Kilogram.

"Tapi untung hari ini turun Rp 100 Ribu," tukasnya.

Namun keanehan lonjakan harga itu tak cuma terjadi pada komoditas bawang bombai.

Belakangan yang juga membuatnya risau harga gula yang tak kunjung turun di angka Rp 12 Ribu Per Kilogram, tapi masih di harga Rp 16 Ribu Per Kilogram.

Berbeda dengan Wasis, Halimah pedagang lainnya menceritakan kenyataan lain soal lonjakan harga.

Yakni rempah-rempah; temulawak, sereh, jahe, kunir, daun salam, yang semula dianggap sebagai bahan dapur 'kelas dua' atau pelengkap semata, kurun waktu tiga hari belakangan, naik daun.

Biasanya ia hanya menjualnya kisaran harga Rp 5.000, kini per kantong plastik paket lengkap rempah-rempah bisa dijualnya Rp 15 Ribu - Rp 20 Ribu.

"Naik daun pak. Banyak yang nyari juga," celetuk Halimah.

Tapi rasa Halimah masih tak beranjak dari harga jahe biasa dan jahe merah.

Ia mengaku belakangan ini kerap kebanjiran pesanan yang pembelinya kerap memborong dalam jumlah besar.

Jahe biasa semula seharga Rp 40 Ribu Per Kilogram, kini tembus Rp 80 Ribu Per Kilogram.

"Baru 3 hari ini (Jahe Merah) gak ada," jelas Halimah.

Soal jahe yang kini harganya fantastis karena konon katanya dianggap ampuh menangkap segala bentuk penyakit termasuk Covid-19.

Yatmi pedagang jahe selama 10 tahun di pasar itu juga punya keheranan yang sama.

Harga jual yang dipatok Yatmi tak terpaut jauh dengan harga jual pesaingnya yang kiosnya bersebelahan beberapa petak dengan Halimah.

Malah Yatmi mengeluhkan, stok jahe merah kerap absen tiga hari belakangan.

"Ya jahe merah ini gak ada ya gak jualan. Ini cuma jahe biasa," pungkas Yatmi.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko tak menampik sejumlah komoditi yang disebutkan sejumlah pedagang di pasar tersebut merangkak naik.

Namun hal itu telah menjadi catatan pihak Satgas Pangan Jatim yang bersinergi dengan Disperindag Pemprov Jatim dan Bulog Jatim.

"Kami akan koordinasi setelah ini sejauh mana kendala yang dihadapi oleh para pedagang di pasar khususnya juga pada konsumen," jelas Trunoyudo.

Sumber: Surya
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved