Minggu, 26 April 2026

BERITA SURABAYA Hari Ini Populer, Update Kasus Pemuka Agama Perkosa & Warga Buru Empon-empon

Berita Surabaya hari ini populer dimulai dari perkembangan terbongkarnya kasus pemuka agama melakukan pemerkosaan.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
Kolase Youtube & SURYA.co.id/Hanif M
BERITA SURABAYA Hari Ini Populer, Update Kasus Pemuka Agama Perkosa & Warga Buru Empon-empon 

SURYA.co.id - Berikut kumpulan berita Surabaya hari ini populer, Sabtu 7 Maret 2020.

Berita Surabaya hari ini populer dimulai dari perkembangan terbongkarnya kasus pemuka agama melakukan pemerkosaan.

Kemudian dilanjut buntut dari video viral pasien di RS Soewandhi Surabaya.

Terakhir berita soal tanaman tradisional dan empon-empon banyak diburi warga.

Berikut selengkapnya berita Surabaya hari ini populer:

1. KABAR TERBARU Pemuka Agama Melakukan Pemerkosaan di Surabaya

Ilustrasi
Ilustrasi (Kolase Youtube)

Kabar terbaru dugaan pemerkosaan yang dilakukan seorang pemuka agama HL diungkap oleh Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, Jumat (6/3/2020).

Ada beberapa informasi baru yang disampaikan oleh penyidik Polda Jatim tersebut. Pertama, umur korban, IW saat pertama kali terjadi pelecehan seksual itu berusia 12 tahun. 

Kedua, perilaku pelecehan tersebut diduga dilakukan pendeta HL selama kurun waktu 2005-2011. Ketiga, lokasi dugaan pendeta berhubungan badan dengan IW dilakukan di tempat ibadah.

Hingga saat ini, Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim sedang mendalami kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan pemuka agama berinisial HL di sebuah tempat ibadah di Kota Surabaya.

Berdasarkan laporan yang dibuat pihak keluarga korban, Kamis (20/2/2020) silam, dengan nomor laporan polisi: LPB/155/II/2020/UM/SPKT. Hari Kamis tanggal 20 Februari 2020 Jam 14.00 WIB.

HL dilaporkan atas dugaan memerkosa seorang wanita berinisial IW (26) hingga menimbulkan trauma dan luka psikologis, saat korban berusia di bawah umur, kisaran 12 tahun.

Direktur Ditreskrimum Polda Jatim Kombes Pol R Pitra Andrias Ratulangie mengungkapkan, proses penyelidikan terhadap kasus tersebut terus dilakukan personelnya.

Artinya HL masih berstatus sebagai saksi terlapor.

Informasi yang dihimpun penyidik, HL dilaporkan atas dugaan kekerasan seksual; merudapaksa IW saat usianya di bawah umur.

Dan aksi tak senonoh yang dituduhkan kepada terlapor, diduga dilakukan selama kurun waktu tujuh tahun, sejak 2005 hingga 2011.

"Ketika si korban ini waktu itu masih berumur 12-18 tahun," katanya pada awak media di Lobby Gedung Tri Brata Mapolda Jatim, Jumat (6/3/2020).

Andrias mengungkapkan, selama kurun waktu itu terlapor diduga merudapaksa korbannya di dalam tempat ibadah.

"Sesuai keterangan dari saksi, kemudian korban ini tempatnya di tempat ibadah," tuturnya.

Andrias menuturkan, sejauh ini pihaknya terus berupaya mengumpulkan sejumlah alat bukti dan menggali keterangan dari enam orang saksi.

"Kami tadi periksa ditemani sama kuasa hukum. Banyak, 4 orang," jelasnya.

Seandainya sejumlah alat bukti dan keterangan saksi yang sedang dikumpulkannya ini menguatkan dugaan itu, lanjut Andrias, terlapor bakal dikenai UU Kekerasan Seksual Terhadap Anak.

Kendati begitu, Andrias mengaku tak ingin buru-buru, pihaknya masih tetap berpegang teguh pada prinsip hukum praduga tak bersalah.

"Bisa saja. Sekarang statusnya masih saksi. Praduga tak bersalah, tetap ya," pungkasnya.

Sementara itu, Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Lintar Mahardono menuturkan, korban sedang dalam keadaan depresi.

Namun ia belum bisa menyampaikan keseluruhan informasi tersebut karena masih dalam tahap penyidikan.

"Depresi berat, ya semacam itu kondisinya," tukas pria berkemeja batik itu seraya menjauh dari kerumunan awak media.

Pernyataan perwakilan keluarga korban

Kabar terbaru kasus dugaan Pendeta Perkosa Jemaat di Surabaya, kata polisi lokasi berhubungan badan di gereja.
Kabar terbaru kasus dugaan Pendeta Perkosa Jemaat di Surabaya, kata polisi lokasi berhubungan badan di gereja. (SURyA.co.id/LUHUR PAMBUDI)

Sebelumnya, perwakilan keluarga korban yang melaporkan perilaku pemuka agama HL menyatakan, dugaan pelecehan seksual itu dilakukan kurang lebih 17 tahun.

Namun, perilaku pemuka agama tersebut terbongkar ketika korban menolak upacara pernikahan secara agama dilakukan di tempat tokoh agama tersebut.

Wanita Surabaya itu menjadi korban persetubuhan pemuka agama sejak usia 9 tahun.

Namun, orang tuanya baru mengetahui perilaku pemuka agama tersebut dari pengakuan anaknya.

Berikut kronologi orang tua korban melaporkan pemuka agama di Surabaya yang diduga melakukan pelecehan seksual.

Terungkapnya perbuatan pria berinisial HL seorang pemuka agama di sebuah tempat ibadah yang menyetubuhi wanita IW selama 17 tahun.

Perwakilan keluarga korban Jeannie Latumahina menerangkan, perbuatan HL akhirnya terbongkar saat korban bersama pasangannya hendak melangsungkan pernikahan.

Lazimnya sebuah proses sakral dalam tradisi agama yang dianut mereka, bahwa pelaksanaan prosesi sakral pernikahan sepasang mempelai harus melibatkan seorang pemuka pemuka agama.

Saat kedua orang tua korban menyarankan bahwa IW dan calon suaminya dinikahkan oleh pemuka agama HL, ternyata korban menolak keras.

"Orangtuanya ini meminta dinikahkan di tempat ibadah pemuka agama ini, lah pada saat itu anak itu memberontak, baru terungkap," katanya saat ditemui awak media di depan SPKT Mapolda Jatim, Senin (2/3/2020).

Dari penolakan itulah, lanjut Jeannie, akhirnya terbongkar semua perbuatan bejat HL selama ini.

Jeannie mengatakan, pihak orangtua korban tidak mengetahui sama sekali perbuatan bejat HL kepada anaknya IW, yang ternyata telah dilakukan sejak korban berusia sembilan tahun.

"Jadi IW ini sejak umur 9 tahun di ini sama dia, diperkosa, disegala macam, sampai pada saat anak ini mau menikah, kan orangtuanya enggak tahu," tuturnya.

Lantaran tak terima dengan perlakukan itu, lanjut Jeannie, pihak keluarga korban melaporkan HL ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapolda Jatim.

Pihak keluarga korban mendatangi SPKT Malpolda Jatim pada Kamis (20/2/2020) kemarin, dengan nomor laporan polisi: LPB/155/II/2020/UM/SPKT. Hari Rabu tanggal 20 Februari 2020 Jam 14.00 WIB.

"Kami diminta oleh perwakilan korban untuk melihat kasus dugaan kekerasan seksual anak dibawah umur.

Prosesnya udah dilaporkan di Polda Jatim dan sedang berlangsung," pungkasnya.

2. Buntut Video Viral Keluarga Pasien Nangis-nangis Tak Dilayani di RS Soewandhie

Video viral seorang pria marah-marah di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr M Soewandhie Surabaya berbuntut.
Video viral seorang pria marah-marah di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr M Soewandhie Surabaya berbuntut. (Instagram)

Video viral seorang pria nangis-nangis sambil emosi di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr M Soewandhie Surabaya berbuntut. 

Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya sampai mendatangi kediaman sang pria untuk mengklarifikasi hal itu. 

Video ini viral setelah diunggah akun Facebook Ikas Choirul Iklani yang kemudian disebar oleh sejumlah akun media sosial lain. 

Di dalam video itu, seorang pria seperti sedang menangis dan terdengar melayangkan protes yang disampaikan menggunakan bahasa Jawa serta Bahasa Madura. 

Awalnya sang pria ini menanyakan nomor antrean pemeriksaan anaknya. 

Tak disangka, pria ini mendapat perlakuan tak sesuai oleh seorang petugas. 

Sementara beberapa orang sekitarnya nampak menyaksikan kejadian tersebut. 

"Ket mau aku iki. wes gak iso, sampe nyentak-nyentak iku mau," teriak seorang pria dalam video tersebut. 

Setelah video ini viral, Dinas Kesehatan Kota Surabaya pun turun tangan.  

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan narasi tentang pasien tak dilayani itu tidaklah benar. 

Dia yang juga menjabat Plt Direktur RSUD Dr M. Soewandhie itu menyebut pihaknya telah berupaya memberikan klarifikasi kepada yang bersangkutan. 

"Dengan mengunjungi rumah yang bersangkutan di dua alamat, yang kami peroleh, tapi rumahnya kosong," kata Feny, sapaan akrab Febria Rachmanita. 

Tak berhenti disitu, pihaknya juga sempat menghubungi nomor kontak yang bersangkutan, namun hasilnya juga nihil sebab kontaknya tidak aktif. 

Feny mengatakan, pelayanan yang dilakukan di IGD rumah sakit tersebut tidak berdasar nomor antrian, namun berdasarkan gawat darurat. 

Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya, Rince Pangalila juga membantah jika pihaknya tak memberikan pelayanan apalagi tidak menghiraukan pasien tersebut. 

"Kalau tidak dilayani itu tidak benar," katanya saat dikonfirmasi TribunJatim.com melalui sambungan telepon pribadinya, Kamis (5/3/2020). 

Menurut Rince, berdasarkan data yang terekam di rumah sakit, pasien tersebut datang pada pukul 14.40 WIB, kemudian diperiksa dokter pada 14.41 WIB. 

Setelah diperiksa, anak dari seorang pria tersebut tidak dalam keadaan gawat darurat melainkan batuk pilek. 

"Kalau IGD itu kan melayani pasien dalam keadaan gawat darurat. Jadi IGD itu melayani pasien bukan berdasarkan antrian, tapi berdasarkan kegawatdaruratan," tuturnya. 

Di waktu yang sama, terdapat sekitar tujuh pasien yang membutuhkan penanganan cepat. 

"(Yang tujuh orang) kalau tidak ditolong nyawanya bisa melayang," ungkapnya. 

Sementara seorang pria itu diminta menunggu sembari mendaftar. 

"Sambil dokter dan perawat itu menangani pasien yang lagi gawat darurat, ada tujuh orang," tambahnya. 

Seorang pria yang merekam video itu, dalam narasinya juga menyebut petugas rumah sakit juga akan merampas telepon genggamnya saat tengah merekam. Hal itu juga dibantah oleh Rince. 

Sebab menurut Rince, petugas mengingatkan apabila tidak diperkenankan mengambil gambar di dalam rumah sakit. 

"Petugas itu ngomong, 'Pak enggak boleh direkam,' terus ngamuk lari keluar," ungkapnya menceritakan.

3. Satgas Pangan Polda Jatim Blusukan ke Pasar Keputran, Pedagang Cerita Empon-Empon Banyak Diburu

Sulastri (54) Pedagang empon-empon di Pasar Wonokromo, Surabaya, Rabu (4/3/2020).
Sulastri (54) Pedagang empon-empon di Pasar Wonokromo, Surabaya, Rabu (4/3/2020). (Mayang Essa/TribunJatim.com)

Tim Satgas Pangan Polda Jatim blusukan di Pasar Tradisional Keputran, Tegalsari, Surabaya, Kamis (5/3/2020) malam.

Dikomandoi langsung oleh Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Gidion Arif Setyawan, petugas langsung blusukan masuk ke dalam pasar berkomunikasi langsung dengan para pedagang.

Tujuannya, memastikan secara langsung harga bahan kebutuhan pokok yang dijual di pasar tersebut jelang Bulan Ramadhan dan pasca beredarnya isu Virus Corona.

Belasan petugas Polda Jatim berompi cokelat bertuliskan 'Satgas Pangan Jatim' di punggung mereka tampak berkerumun di sudut tengah pertigaan Jalan Keputran I.

Semula ada yang mengira insiden kriminalitas baru saja terjadi di kawasan itu, hingga membuat pedagang beberapa kali menghentikan kesibukan mereka melakukan bongkar muat berbagai macam palawija, buah-buahan, bahan makanan pokok dan semacamnya, dari kendaraan angkut yang mereka gunakan.

Namun dugaan mereka terpatahkan, saat belasan petugas menyapa para pedagang disusul obrolan ringan, yang sesekali diselingi canda para pedagang.

"Pripun kabar'e pak sehat? Stok barang dagangan apa yang mulai naik harganya," kata Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Gidion Arif Setyawan pada salah satu pedagang palawija di depan lorong sisi barat pasar.

Dengan raut wajah tersipu malu, Wasis menjawab pertanyaan itu, sejumlah palawija yang dijualnya masih dalam harga relatif stabil, namun tidak dengan bawang bombai.

Wasis menerangkan, jikalau harga bawang bombai sebelumnya berkisar Rp 20 Ribu Per Kilogram, belakangan ini melonjak tajam hingga tembus Rp 120 Ribu Per Kilogram.

"Tapi untung hari ini turun Rp 100 Ribu," tukasnya.

Namun keanehan lonjakan harga itu tak cuma terjadi pada komoditas bawang bombai.

Belakangan yang juga membuatnya risau harga gula yang tak kunjung turun di angka Rp 12 Ribu Per Kilogram, tapi masih di harga Rp 16 Ribu Per Kilogram.

Berbeda dengan Wasis, Halimah pedagang lainnya menceritakan kenyataan lain soal lonjakan harga.

Yakni rempah-rempah; temulawak, sereh, jahe, kunir, daun salam, yang semula dianggap sebagai bahan dapur 'kelas dua' atau pelengkap semata, kurun waktu tiga hari belakangan, naik daun.

Biasanya ia hanya menjualnya kisaran harga Rp 5.000, kini per kantong plastik paket lengkap rempah-rempah bisa dijualnya Rp 15 Ribu - Rp 20 Ribu.

"Naik daun pak. Banyak yang nyari juga," celetuk Halimah.

Tapi rasa Halimah masih tak beranjak dari harga jahe biasa dan jahe merah.

Ia mengaku belakangan ini kerap kebanjiran pesanan yang pembelinya kerap memborong dalam jumlah besar.

Jahe biasa semula seharga Rp 40 Ribu Per Kilogram, kini tembus Rp 80 Ribu Per Kilogram.

"Baru 3 hari ini (Jahe Merah) gak ada," jelas Halimah.

Soal jahe yang kini harganya fantastis karena konon katanya dianggap ampuh menangkap segala bentuk penyakit termasuk Covid-19.

Yatmi pedagang jahe selama 10 tahun di pasar itu juga punya keheranan yang sama.

Harga jual yang dipatok Yatmi tak terpaut jauh dengan harga jual pesaingnya yang kiosnya bersebelahan beberapa petak dengan Halimah.

Malah Yatmi mengeluhkan, stok jahe merah kerap absen tiga hari belakangan.

"Ya jahe merah ini gak ada ya gak jualan. Ini cuma jahe biasa," pungkas Yatmi.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko tak menampik sejumlah komoditi yang disebutkan sejumlah pedagang di pasar tersebut merangkak naik.

Namun hal itu telah menjadi catatan pihak Satgas Pangan Jatim yang bersinergi dengan Disperindag Pemprov Jatim dan Bulog Jatim.

"Kami akan koordinasi setelah ini sejauh mana kendala yang dihadapi oleh para pedagang di pasar khususnya juga pada konsumen," jelas Trunoyudo.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved