Sambang Kampung

Kampung Kapasan Simokerto Surabaya Langganan Tamu untuk Belajar Budaya

Perpaduan budaya Tionghoa, Jawa dan Madura sangat mudah ditemukan di kampung Kapasan. Khususnya di RW 8 Dan RW 9 Kelurahan Kapasan Kecamatan Simokerto

surya.co.id/ahmad zaimul haq
KUNJUNGI KLENTENG - Perwakilan Pemkot Jayapura saat berkunjung di Klenteng Boen Bio disela kunjungannya ke Kampung Madura/Kampung Lampion di RT 01 RW 09 Kelurahan Kapasan, Senin (24/2). 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Perpaduan budaya Tionghoa, Jawa dan Madura sangat mudah ditemukan di kampung Kapasan. Khususnya di RW 8 Dan RW 9 Kelurahan Kapasan Kecamatan Simokerto yang telah menjadi langganan tamu.

Mulai dari masyarakat luar Surabaya hingga akademisi kerp melihat perubahan lingkungan yang dibuat warga kampung. Seperti kunjungan Pemerintah Kota Jayapura ke area Klenteng Boen Bio di RW 8 hingga Kampung Madura dan Kampung Lampion di Jalan Kapasan Samping yang menjadi wilayah RW 9.

Amelia Mandosir, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan kerusakan lingkungan DLHK Pemkot Jayapura mengungkapkan kunjungan rombongannya ke Surabaya untuk melihat partisipasi masyarakat dalam mengelola lingkungan.

Mulai dari pemanfaatan sampah menjadi bahan berguna dan daur ulang sert dukungan yang diberikan pemerinth.

"Kami ingin melihat multifaktor lingkungan dalam mempengaruhi masyarakat membangun kampung," ujarnya di sela kunjungan di kampung Madura, Senin (24/2/2020).

Rencananya, hasil kunjungan akan diterapkan di masyarakat Jayapura masyarakat . Dengan mengajak RT hingga RW berpartisipasi untuk menjaga lingkungan dan mengolah sampah.

"Kalau di Jayapura lebih mudah karena masyarakatnya heterogen jadi masyarakat lebih mudah untuk dimotivasi," urainya.

Selain itu, ia juga berupaya menonjolkan masyarakat lokal sebagai daya tarik kunjungan wisatawan seperti yng dilakukan di kampung Kapasan yang menonjolkan etnik Madura.

Adi Candra, Motivator Lingkungan menjelaskan Kampung Lampion menjadi aalah satu kampung yang banyak diminati sebagai percontohan. Pasalnya, masyarakatnya mampu mengubah image kampung kumuh menjadi kampung dengan kelokalan Madura dan berhiaskan lampion.

"Setiap kampung wajib bersih, hijau dan sehat. Masyarakat ini sudah ikut training melalui berbagai kompetisi lingkungan, "papar Adi.

Iapun mengungkapkan setiap tamu Pemkot Kota Surabaya selama ini diarahkan mengunjungi kampung yng ikonik seperti kampung Lampion. Sehingga masyarakat akan langsung tertantang untuk membuat inovasi lebih baik lagi.

"Jadi semangatnya semakin dipupuk, apalagi kampung Madura Lampion ini akan semakin terpacu untuk membuat terobosan menjadi lebih baik. Meskipun mereka terbatas lingkungannya mereka bisa berinovasi dan bisa mengolah sampah dengan baik.

"Kami membantu mempromosikan dan menyemangati agar selalu tumbuh dan berkembang. Apalagi kedatangan tamu ke kampung juga sekaligus wadah memasarkan produk warga,"pungkasnya .

Edi Siswanto, Ketua RT 1 RW 9 mengungkapkan selama ini warga kampungnya didominasi warga Madura. Untuk itu etnis Madura menjadi ikon di kampungnya selain inovasi Lampion Yang dibuat warga.

"Jadi wisata budaya juga, setiap ada, kunjungan kader kami memakai baju khas Madura. Semuanya aktif gotong royong semangat mengenalkan budaya Madura dan inovasi kami, "urainya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved