Single Focus
Anak makin Susah Diajak Baca karena Terbiasa Pegang Gadget sejak Dini
Sayangnya, seiring berkembangnya teknologi informasi, anak lebih banyak tertarik bermain gadget ketimbang membaca buku.
SURYA.co.id | SURABAYA - Membaca buku sejak usia dini memiliki banyak manfaat bagi perkembangan, salah satunya meningkatkan bahasa dan komunikasi.
Sayangnya, seiring berkembangnya teknologi informasi, anak lebih banyak tertarik bermain gadget ketimbang membaca buku.
Beberapa orang menganggap, ini karena si anak terbiasa dijejali fitur-fitur dalam smartphone sejak bayi.
Sekar Aksara misalnya, ia merasa keponakannya memang susah sekali diajak belajar, termasuk membaca.
"Ya gimana, dari kecil sudah dikasih gadget. Nangis dikit dikasih gadget. Akhirnya si anak jadi kebiasaan. Kalau udah malas baca, anaknya yang dimarahi. Padahal kan salahnya orangtua," ungkap warga Pakis, Surabaya ini.
Si anak, lanjutnya, juga enggan membaca karena merasa terpaksa.
"Mereka disuruh baca karena emang tugas sekolah. Lebih baik sih emang sejak kecil didengarkan dongeng atau dibiasakan dekat dengan buku cerita yang sesuai sama usia mereka," ungkap Sekar.
Mengetahui hal itu, ia secara bertahap mengajak keponakannya yang kini duduk di kelas 1 SD itu untuk suka membaca.
"Pelan-pelan dibiasakan. Nggak bisa langsung no gadget sama sekali. Mungkin baca beberapa menit, terus boleh istirahat. Lama-kelamaan anak bisa terbiasa. Sering-sering diajak cerita juga, supaya kemampuan literasi ya semakin baik," tuturnya.
Hal sama diungkapkan Raudha Fortunella, guru les privat. Menurutnya, hampir semua anak didiknya memiliki minat baca yang kurang.
"Ada siswa saya kelas 1 dan 2 SD, keluarganya memang kurang mendukung, mereka tidak diberi fasilitas yang baik. Kalau salah, anak dimarahi. Untuk belajar, termasuk baca, akhirnya mengandalkan guru les," ujarnya.
Untuk mengakali, Raudha mencari tahu kegemaran si anak. Misalnya, mengajak membaca seputar Korea jika si anak suka K-Pop.
"Siswa saya kelas 6 SD misalnya, dia suka banget sama K-Pop. Akhirnya saya suruh baca beberapa tulisan di watpadd yang bagus dan out of the box," ujarnya.
Ubah Balai RT
Keprihatinan serupa atas minimnya minat baca anak juga dirasakan para orang tua di kawasan Keputih. Mereka kesulitan memberi batasan karena anak-anak terbiasa main gagdet.
Hal itu diungkapkan warga RT 4 RW 2 Kelurahan Keputih Kecamatan Sukolilo, Hariz Syafruddin. Sehingga, warga pun berinisiatif membuat taman baca di Balai RT yang ada di kampungnya.
Warga berkeinginan memberikan fasilitas bermanfaat untuk pengalihan anak-anak dalam memakai gadget.
"Jadi, supaya bisa dipakai tempat baca, kami taruh aneka buku bacaan di rak yang menjadi dinding gazebo kampung," ujar pria yang juga Ketua RT 4 RW 2.
Tak sekadar rak buku yang dibuat dari kaca, warga secara swadaya mengumpulkan buku yang tidak lagi dibaca untuk disimpan di gazebo. Bahkan, secara berkala buku diganti agar anak-anak tidak bosan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/minat-baca-menurun.jpg)