Desa Wisata
Mantan TKI Sukses Berjualan Roti Canai di Desa Wisata Labuhan Bangkalan
Keberadaan Taman Pendidikan Mangrove dan Wisata Koservasi Terumbu Karang telah menciptakan multiplier effect bagi warga Desa Labuhan Bangkalan
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: irwan sy
SURYA.co.id | BANGKALAN - Keberadaan Taman Pendidikan Mangrove dan Wisata Koservasi Terumbu Karang telah menciptakan multiplier effect bagi warga Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, yang desanya menjadi Desa Wisata.
Simpul-simpul perekonomian pun menggeliat, bahkan telah memupus keinginan warga setempat kembali ke merantau ke luar daerah. Seperti halnya mantan TKI Malaysia, Juhairiyah (35).
Ia kini memilih untuk membuka usaha Roti Canai setelah delapan tahun, 2001-2009 di Malaysia. Warung Jodoh Roti Canai miliknya berlokasi di pintu masuk menuju Taman Pendidikan Mangrove dan Konservasi Terumbu Karang.
• Desa Wisata Labuhan Bangkalan, Pengunjung Bisa Melihat Terumbu Karang dengan Mata Telanjang
"Alhamdulillah sekarang sudah ada tiga karyawan. Omset berada di kisaran Rp 29 juta hingga Rp 30 juta
per bulan," ungkap ibu dengan tiga anak ini.
Juhairiyah mengisahkan, resep roti canai ia peroleh ketika dirinya bekerja sebagai buruh pembuat roti canai di restauran milik orang India Malaysia selama tiga tahun.
Roti canai merupakan makanan khas India namun terkenal di Malaysia.
"Tapi sebelum itu, ketika begitu tiba di Malaysia pada tahun 2001, saya terlebih dulu bekerja di tempat
laundry," kenangnya.
Selain para pengunjung wisata mangrove dan terumbu karang, lanjutnya, pelanggannya berasal dari
warga setempat dan dari desa-desa di luar Kecamatan Sepulu.
"Setiap porsi seharga Rp 4 ribu. Sepertinya lebih enak bekerja di kampung sendiri, dekat dengan sanak
keluarga," pungkasnya.
Hal senada diungkapkan Syahril (46) yang pernah meninggalkan kampung halamannya selama 16 tahun.
Setelah balik kampung di tahun 2000, ia pun enggan kembali menjadi buruh instalasi pemasangan pipa air di Malaysia.
Tidak seperti halnya Juhairiyah yang membuka usaha, Syahril merasa kebingungan ketika baru kembali dari Malaysia.
Bekal keterampilan yang diperoleh saat merantau, tidak bisa diimplementasikan di kampung halamanya.
"Sedangkan lahan pesisir yang ada, tidak bisa diandalkan. Ketika air laut pasang, merusak tambak. Penghalang air laut seperti mangrove yang tumbuh alami rusak akibat penebangan liar," kenang Syahril.
Dari kondisi itulah, Syahril merasa terpanggil dan memilih sebagai lokomotif penggerak kepedulian terhadap lingkungan pesisir kampungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/desa-wisata-labuhan-bangkalan-2.jpg)