Jumat, 12 Juni 2026

Desa Wisata

Desa Wisata Labuhan Bangkalan, Pengunjung Bisa Melihat Terumbu Karang dengan Mata Telanjang

Kendati wisata terumbu karang di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, belum rampung, para pengunjung mulai berdatangan.

Tayang:
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: irwan sy
surya/ahmad faisol
Syahril, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning Desa Wisata Labuhan Bangkalan. 

Kendati wisata terumbu karang di Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, belum rampung, para pengunjung mulai berdatangan.

Para pengunjung ini kebanyakan mahasiswa.

Mereka mendirikan tenda, dan menggelar penelitian untuk kebutuhan skripsi dan lainnya.

SURYA.co.id | BANGKALAN - Suara palu dari lokasi pembuatan tracking (geladak) terdengar nyaring, terbawa semilir angin pesisir pantai, Minggu (20/10/2019).

Senja itu, para tukang mulai mengemas peralatan tukangnya. Seorang di antaranya nampak memaku kayu untuk menutup akses menuju tracking.

Geladak sejauh kurang lebih 175 meter yang mulai digarap di awal Oktober 2019 itu sengaja belum boleh diakses pengunjung karena proses pembuatan belum rampung.

"Mereka (para tukang) adalah warga sini, sepuluh orang. Kami sengaja melibatkan mereka agar merasa turut memiliki area konservasi terumbu karang ini," ungkap Moh Syahril, Ketua Kelompok Sadar
Wisata (Pokdarwis) Payung Kuning Desa Labuhan.

Kelak, tracking berbahan kayu yang dibangun membelah hutan mangrove itu akan mengantarkan para
pengunjung menuju wisata konservasi terumbu karang.

"Ada 10 perahu nelayan yang siap mengantar pengunjung ke area konservasi terumbu. Jika air tenang, terumbu di kedalaman empat bisa dilihat dengan mata telanjang," jelasnya.

Sambil memungut sampah plastik, Syahril memaparkan, transplantasi terumbu karang yang telah dimulai sejak 2017 itu merupakan upaya mengembalikan habitat bawah laut.

"Pada 2017 telah ditanam sebanyak 30 unit boks. Pada 2019, tahap pertama ditanam 30 unit kotak terumbu dan 20 kotak lainnya di tahap kedua," papar Syahril.

Bersama area mangrove, total luas kawasan konservasi terumbu karang sekitar 13 hektare, termasuk
area camping ground untuk komunitas, siswa, hingga mahasiswa yang ingin bermalam.

"Pemuda-pemuda desa ini mulai posting di media sosial, sehingga cepat menyebar. Padahal ya belum selesai," terangnya.

Karena itu, kebutuhan air bersih, MCK, dan saung telah disediakan, termasuk saung yang bisa difungsikan sebagai tempat berkumpul ataupun menggelar rapat.

Selama belum dibuka untuk umum, lanjut Syahril, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan Universitas Islam Negeri Malang berkunjung melakukan penelitian terumbu karang untuk kebutuhan
tugas akhir.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved