Kilas Balik
Rambut Gondrong & Bawa Senjata, Prajurit ABRI Tertegun Ketemu Pemberontak karena Penampilannya Mirip
Sama-sama berambut gondrong dan membawa senjata, seorang prajurit ABRI sempat tertegun saat bertemu pemberontak Fretilin
Penulis: Putra Dewangga Candra Seta | Editor: Iksan Fauzi
SURYA.co.id - Sama-sama berambut gondrong dan membawa senjata, seorang prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sempat tertegun saat bertemu pemberontak Fretilin
Perlu diketahui, sejumlah prajurit ABRI yang dikirimkan dalam operasi di Timor Timur tahun 1975 penampilannya memang sengaja dirombak
Hal ini lantaran mereka sering turun ke misi-misi berbahaya dan rahasia.
Sehingga penampilan mereka pun dirombak dengan rambut gondrong dan pakaian seadanya.
Terkadang hal itu membuat orang awam susah membedakannya dengan anggota pemberontak Fretilin
Pasukan pemberontak Fretilin sangat identik dengan rambut gondrong dan dan pakaian seadanya.
• Grup 1 Kopassandha Diberondong Tembakan Pasukan Elite Didikan Portugis, Belasan Prajurit Gugur
• Viral di Facebook Wanita Sumedang Melahirkan Bayi Tanpa Hamil, Pengakuannya Bikin Bulu Begidik
• Video Panas Gadis Tuban di WhatsApp (WA) Jadi Alat Permalukan Korban, Pelaku Pria Surabaya
• ABRI Sempat Ditertawakan Saat Gempur Benteng Terkuat Fretilin, Endingnya Pemberontak Kocar-kacir

Prajurit ABRI pun banyak yang berpenampilan serupa demi menyusup dan tak dicurigai oleh para pemberontak itu.
Seperti dikutip dari buku 'INFANTERI The Backbone of the Army' karya Priyono, kisah unik datang dari seorang Sersan Mayor bernama Mursihadi
Mursihadi yang merupakan seorang pensiunan TNI dari Detasemen Kesehatan Wilayah (Denkesyah) Korem 074 Warasratama, Surakarta, mengalami kisah unik saat bertugas di Timor Timur pada awal Operasi Seroja 1975.
Seperti kebanyakan prajurit ABRI yang ditugaskan di Timor Timur, Mursihadi juga berambut gondrong.

Suatu hari dirinya mendapat tugas untuk mencari tambahan makanan.
Ia kemudian masuk hutan sekadar mencari dedaunan atau berburu binatang, untuk dapat diambil dagingnya.
Saat asik berburu, tiba-tiba muncul seseorang berpenampilan serupa, gondrong dan menenteng senjata.
Begitu lama Mursihadi dan orang tersebut saling mengamati satu sama lain
Setelah sekian lama mengamati, dirinya baru tersadar bahwa ternyata orang tersebut bukanlah rekannya.