Jumlah Anak yang Dirawat di RSUD Dr Soetomo Karena Kecanduan Gadget Terus Meningkat

Semakin tahun, anak dan remaja yang kecanduan gawai semakin meningkat. Seperti yang terjadi di Poliklinik Jiwa RSUD Dr Soetomo.

Jumlah Anak yang Dirawat di RSUD Dr Soetomo Karena Kecanduan Gadget Terus Meningkat
pixabay.com
ilustrasi 

SURYA.co.id | SURYA - Pada zaman serba teknologi seperti sekarang ini, gawai menjadi barang yang tidak bisa terpisahkan.

Masyarakat mampu menyerap informasi, berkomunikasi, dan bersenang-senang melalui fitur-fitur canggih dalam segenggam gawai.

Sayang, masih banyak yang menggunakannya secara berlebih. Naasnya, hal ini juga terjadi pada anak-anak dan remaja.

Semakin tahun, anak dan remaja yang kecanduan gawai semakin meningkat. Seperti yang terjadi di Poliklinik Jiwa RSUD Dr Soetomo.

Ketua Poliklinik Jiwa RSUD Dr Soetomo sekaligus psikiater anak dan remaja, Dr dr Yunias Setiawati SpKj mengatakan, pasien anak dan remaja karena kecanduan atau adiksi gawai, meningkat sekitar 30 persen pada 2019. Pada tahun-tahun sebelumnya, angkanya juga meningkat.

"Dalam sehari, sejak Agustus 2019, ada dua sampai tiga kasus baru anak karena gangguan belajar. Setelah digali, penyebabnya ternyata kecanduan gadget. Mereka selalu mencari ponsel dan tidak menyelesaikan tugas, yang berimbas turunnya nilai pelajaran," ungkap Yunias ditemui di RSUD Dr Soetomo,  Rabu (16/10).

Anak dan remaja itu, ungkapnya, datang ketika kehidupannya sudah terganggu karena kecanduan gawai.

"Ada yang sampai tidak mau bersekolah selama tiga bulan karena tidak boleh membawa gadget (ke sekolah). Kalau tidak diberi (gadget), orangtuanya akan dipukul. Orangtuanya takut, jadi membiarkannya," Yunias menerangkan.

Pada anak-anak, kondisi ini disebabkan karena pola asuh yang kurang tepat dari orangtua.

"Sekarang lagi ngetren sedikit-sedikit gadget. Anak tidak mau makan, dikasih gadget. Ini bisa menjadi kebiasaan. Kalau nggak gitu, orangtuanya main HP sendiri," katanya.

Lanjutnya, masih banyak orangtua yang belum bisa memahami anak. Kebiasaan bermain ponsel yang berlebih, bisa terjadi karena anak tidak mendapatkan kasih sayang dan pendidikan yang baik dari orangtua.

"Ada pasien yang dididik secara keras oleh ayahnya, ia sering dipukul dan sangat dibatasi untuk bermain. Akhirnya pelarian anak ya ke gadget," ungkap Yunias.

Sementara pada remaja, lingkungan menjadi faktor yang paling berpengaruh.

"Remaja berada pada fase galau. Oleh karena itu, lingkungan berpengaruh dalam kesehariannya. Orangtua dan guru memiliki peran dalam hal ini. Apabila mereka tidak diberi hak untuk bersuara, mereka akan mencari gadget untuk mencari teman," tandasnya.

Apabila anak dan remaja sudah mengalami kecanduan gawai, maka Yunias menyarankan untuk segera memeriksakan ke poliklinik jiwa agar mendapatkan pertolongan secara cepat dan tepat.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved