Berita Blitar
Seperti Ini Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Krisik Kabupaten Blitar
Menurut Suwari, kegiatan semacam itu sebenarnya sudah menjadi tradisi sejak dulu di Desa Krisik.
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Titis Jati Permata
Sebaliknya, ketika warga muslim sedang ada kegiatan, para umat Hindu juga ikut membantu.
"Waktu pembangunan masjid, para umat Hindu juga ikut bergotong royong. Suasana kerukunan ini yang terus kami rawat di desa sini," ujarnya.
Agama yang dianut warga Desa Krisik memang majemuk.
Agama Islam, Hindu, dan Kristen berkembang baik di desa itu.
Mayoritas warga memeluk agama Islam, lalu Hindu, dan sebagian kecil Kristen.
Selama ini, mereka hidup rukun berdampingan dalam keragaman itu.
"Di sini paling banyak memeluk Islam dan Hindu. Dari total 7.000 warga, yang beragama Hindu sekitar 30 persen. Mayoritas tetap muslim. Tapi selama ini kami hidup rukun," katanya.
Pura Agung Arga Sunya sendiri dibangun pada 2001 dan selesai pada 2003.
Peresmian Pura dilakukan oleh Imam Muhadi, bupati Blitar waktu itu.
Di Desa Krisik terdapa enam bangunan Pura.
Dari enam bangunan Pura, Pura Agung Arga Sunya menjadi pusat ketika ada perayaan agama umat Hindu di Desa Krisik.
Pada November 2018 lalu, tebing di bawah bangunan Pura longsor.
Pengurus baru bisa melakukan perbaikan tebing yang longsor pada Juni 2019.
Dana untuk pembangunan tebing merupakan swadaya dari sumbangan umat Hindu.
"Kalau pengerjaannya kami gotong royong dibantu umat Islam. Biasanya kerja bakti dilakukan pada hari Minggu. Kami sudah mengusulkan bantuan ke BPBD tapi belum ada respons," ujarnya.
Salamun (65), takmir Masjid Al Falah, Dusun Wonorejo, Desa Krisik, mengatakan kegiatan ini sebagai bentuk menjaga kerukunan antar-umat beragama di Desa Krisik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/suasana-umat-islam-dan-umat-hindu-kerja-bakti-memindah-material-batu-untuk.jpg)