Liputan Khusus

Lintasan Balap Sirkuit GBT Surabaya Belum Dimanfaatkan Optimal, Kesulitan Izin Pemakaian?

Meskipun tidak bayar, tapi kalau ada syarat surat-menyurat itu akan menghambat prestasi anak-anak di balapan motor maupun mobil.

surya.co.id/ahmad zaimul haq
Lintasan balap Sirkuit Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, diabadikan dengan drone, Rabu (3/7/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Provinsi Jawa Timur Bambang Haribowo menyayangkan lintasan balap sirkuit Gelora Bung Tomo belum bisa dimanfaatkan pecinta otomotif secara maksimal.

Penyebabnya, para pecinta balap motor maupun mobil di Kota Surabaya merasa seakan-akan dipersulit mengenai izin pemakaian sirkuit.

Anak-anak balap perorangan dari bengkel biasa, maupun berkelompok kesulitan saat akan berlatih di sirkuit tersebut.

“Kalau sekadar latihan biasa di sirkuit itu tidak bisa, jadi harus pakai surat izin. Ada AD/ART (Club Otomotif). Lha, ini anak-anak masa bisa buat surat-surat seperti itu? Di sisi lain biasanya itu datang, pakai perlengkapan balap dan berapapun dibayar begitu lho,” ungkapnya saat ditemui di kantor IMI Jatim.

Dari pengamatan Surya, lintasan balap itu persis berada di sisi kanan Gelora Bung Tomo.

Di lokasi tampak lengang, karena tidak ada aktivitas di dalam sirkuit.

Terlihat tumpukan ban yang berjejer rapi di sepanjang lintasan balap itu.

Belum ada fasilitas pendukung, misalnya seperti pedok tempat pembalap beserta kru, tribun penonton dan ruangan kesehatan untuk perawatan.

Bambang mengatakan, apabila mekanisme perizinan lebih dipermudah maka akan menarik anak-anak yang ada di jalanan untuk berlatih balap di sirkuit Gelora Bung Tomo.

Apalagi, terkait syarat diperbolehkannya latihan harus ada tenaga medis beserta mobil ambulans yang dibebankan pada pemakai sirkuit.

“Inginnya anak-anak ini berangkat ke sirkuit latihan, mencoba performance mesin dan lainnya. Di mana-mana itu datang bayar dan latihan di sirkuit sentul ya juga begitu,” jelasnya.

Dia menandaskan, anak-anak otomotif di Surabaya maupun di Jawa Timur tidak mempersoalkan biaya saat latihan sirkuit Gelora Bung Tomo.

Meskipun tidak bayar, tapi kalau ada syarat surat-menyurat itu akan menghambat prestasi anak-anak di balapan motor maupun mobil.

“Ini bukan soal biaya, kemudahan menggunakan sirkuit itu yang paling penting. Asal diketahui orang balap itu bondo (berduit), kalau enggak begitu tidak bisa balapan. Meskipun itu anak jalanan pasti ada bosnya sebagai penyandang dana, entah itu dari bapaknya atau sponsor (bengkel),” ujarnya.

Dikatakannya, pengelolaan sirkuit Gelora Bung Tomo saat ini belum sesuai dengan harapan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Yakni lintasan balap itu dibuat untuk kepentingan anak-anak otomotif jalanan yang gemar balapan secara gratis, supaya tidak balap liar di jalan raya.

Untuk itu pihaknya meminta Dispora Surabaya supaya memberikan kemudahan akses untuk anak-anak otomotif berlatih di dalam sirkuit Gelora Bung Tomo.

“Soal perizinan, yang dihadapi ini bukan orang kantoran tapi anak jalanan,” pungkasnya. (Mohammad Romadoni/Danendra)

Sumber: Surya Cetak
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved