Melawan Stigma Terhadap Kusta
Warnoto dan Hanifah : Cinta Bersemi Karena Kusta
Warnoto & Hanifah adalah secuil kisah kecil dari romansa kehidupan orang-orang yang terpapar kusta. Kusta pulalah yang membuat mereka bertemu.
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Eben Haezer Panca
“Pokoknya 3 kali kerja di konveksi tapi dipecat karena kusta,” imbuhnya.
Setelah dipecat, Warnoto masih memilih bertahan di Jakarta. Dia menyambung hidup dengan membantu kerabatnya berjualan sayur. Namun ini hanya bertahan 6 bulan karena telapak kakinya terluka parah karena terlalu sering kena panas mesin mobil pikap.
Dia mengaku, kusta yang sudah menjalar di kakinya membuat telapak kakinya itu mati rasa dan tak tahu bahwa panas mesin mobil sudah melukainya cukup parah.
Dari kejadian itulah Warnoto berobat ke RS Sitanala di Tangerang, Banten. Selama 3 bulan dia dirawat di sana bersama sekitar 500 pasien lain yang menempati barak khusus kusta.
Setelah dinyatakan boleh meninggalkan RS, Warnoto kembali ke Jakarta dan bekerja di sebuah bengkel las milik sepupunya. Namun itu hanya berlangsung 1 tahun karena merasa tak cocok.
Sepertinya Jakarta memang tak cukup baik untuk Warnoto. Dia pun memilih pergi ke Jawa Timur, ke tanah Kediri. Di sana dia datang ke RS khusus kusta untuk meminta obat.
Dari situlah dia mengetahui keberadaan Liponsos Babat Jerawat di Surabaya yang dihuni oleh banyak orang-orang yang sudah sembuh dari kusta.
“Saya lalu ke Surabaya, melapor ke Dinsos, dan akhirnya tinggal di Liponsos,” ujarnya.
Nah, di Liponsos inilah dia bertemu dengan Hanifah, perempuan asal Bangkalan Madura yang juga pernah menjalani pengobatan kusta.
Perempuan yang tak tahu persis tahun kelahirannya ini mengatakan, dia diketahui memiliki kusta ketika sudah beranjak remaja.
“Waktu itu ada flek-flek putih di tangan dan seperti mati rasa. Setelah diperiksakan ternyata kusta,” kata Hanifah.
Oleh keluarganya, Hanifah lalu dibawa ke rumah sakit. Seperti halnya Warnoto, dia pun tahu keberadaan Liponsos Babat Jerawat dari orang-orang lain yang juga terpapar kusta.
“Jadi kami ketemunya di Liponsos dan menikah di sana juga. Sekarang sudah punya anak 5. Yang nomer 1 sudah kerja, yang nomer 2 kuliah sambil kerja,” pungkasnya.
Stigma dan Diskriminasi
Kisah pemutusan kerja yang dialami Warnoto karena kusta adalah sebagian kecil dari praktik pemberian stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang yang terkena kusta di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/cinta-bersemi-karena-kusta.jpg)