Selasa, 14 April 2026

Liputan Khusus

Pencapaian AirNav Indonesia di Atas Rata-rata Dunia

AirNav Indonesia menorehkan sederet prestasi yang membanggakan. Tetapi, ada orang-orang dengan pekerjaan menantang di balik itu semua.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Pemandangan di Bandara Juanda Sidoarjo dari ketinggian menara ATC 

Dengan layanan yang ada, AOC menganggap layanan AirNav di Bandara Juanda sudah cukup bagus. Apalagi, menurut dia, AirNav terbuka menerima masukan dari maskapai.

“Saya rasa, pelayanan AirNav Juanda juga sangat berkontribusi dalam peningkatan on time performance di Juanda,” ujarnya.

Menurut dia, peningkatan layanan tersebut tak lepas dari pemisahan fungsi antara AirNav dan Angkasa Pura. “Masing-masing pihak jadi lebih fokus,” kata Gendro.

Junior Manager Air Traffic Flow Management & Air Traffic Service System AirNav Juanda Faisal Riza mengatakan, Chronos dan e-flight memang sistem utama yang akan berdampak langsung bagi para maskapai. Seperti penjelasan Gendro, dua sistem tersebut mempercepat proses perbangan.

Suasana di dalam menara ATC Bandara Juanda, Sidoarjo
Suasana di dalam menara ATC Bandara Juanda, Sidoarjo (surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin)

Modernisasi Peralatan

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan, pelayanan navigasi penerbangan di mana pun di dunia ini sifatnya harus nonprofit. Keuntungan yang didapat diinvestasikan lagi untuk peningkatan kapasitas, kapabilitas personel dan untuk memodernisasi peralatan.

Hingga saat ini, AirNav sudah banyak melakukan terobosan-terobosan. Salah satunya pengaturan slot time dengan sistem aplikasi Chronos. Sistem aplikasi ini sangat bermanfaat untuk pengefektifan waktu maskapai.

Sistem aplikasi ini juga lebih transparan. Semua maskapai bisa melihat slot yang masih kosong sehingga tidak ada kesan adanya maskapai yang mendapat perlakuan khusus atau berbeda.

Menurut Alvin, sekarang maskapai di Indonesia boleh dikatakan lebih baik kinerjanya dari sisi on time performance. Selain itu, ada juga perbaikan pengaturan rute. Ini sangat membantu maksapai dalam menghemat waktu dan biaya dan bahan bakar.

Memang, masih ada tantangan yang harus dihadapi AirNav. Antara lain, pengembangan kapasitas karena jumlah penerbangan dan pesawat di Indonesia selalu bertambah. Untuk itu AirNav dituntut meningkatkan daya dukung, baik sumber daya manusia maupun teknologi. Termasuk juga modernisasi peralatan.

Ditambahkan Alvin, AirNav perlu memiliki radar yang lebih canggih dan peralatan komunitasi dan koordinasi antarbandara. Ini penting karena AirNav sudah otomatis transfer dari satu kontrol area ke kontrol area yang lain.

Untuk Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, menurut Alvin, tak ada masalah dari sisi sistem pengawasan AirNav. Jangankan Juanda, di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta yang lebih padat saja tak ada masalah dengan itu.

Tapi, karena Bandara Juanda "numpang" di Angkatan Laut (AL), perlu ada kooridinasi dengan pemilik landasan. AL punya kegiatan dan prioritas sendiri. Di saat sipil dan AL padat, tantangan bagi AirNav adalah menjaga keseimbangan. (Aflahul Abidin/Wiwit)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved