Selasa, 14 April 2026

Liputan Khusus

Pencapaian AirNav Indonesia di Atas Rata-rata Dunia

AirNav Indonesia menorehkan sederet prestasi yang membanggakan. Tetapi, ada orang-orang dengan pekerjaan menantang di balik itu semua.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Pemandangan di Bandara Juanda Sidoarjo dari ketinggian menara ATC 

SURYA.co.id | SURABAYA – Iwan Yunaryawan mengaku langsung lemas melihat bodi pesawat melengkung yang baru saja mendarat di Bandar Udara Juanda Surabaya di Sidoarjo. Apalagi saat itu Iwan yang bertugas sebagai Air Traffic Controller (ATC) gagal berkomunikasi dengan pilot pesawat.

“Lemas rasanya,” kata Iwan, mengingat kembali insiden pesawat yang mengalami patah bodi pada 2007.

Untungnya, dalam kejadian menegangkan 11 tahun silam itu tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Semua kru pesawat dan penumpang dalam keadaan selamat. Tapi sebagai ATC, Iwan kaget luar biasa saat melihat kondisi pesawat tidak sempurna setelah mendarat.

Kondisi cuaca saat itu memang sedang kurang baik. Iwan segera memberikan sinyal darurat setelah tahu pesawat yang ia pandu mengalami masalah. Ia mencoba kembali menghubungi sang pilot. Tapi nihil jawaban.

Belakangan diketahui, pesawat tersebut patah akibat hard landing. Iwan merasa lega, karena ketika itu kesalahan bukan disebabkan salah instruksi dari ATC.

“Sebetulnya, yang bikin stres itu kalau terjadinya insiden karena kontribusi ATC,” kata dia.

Suasana di dalam menara Air Traffic Controller di Bandara Juanda, Sidoarjo
Suasana di dalam menara Air Traffic Controller di Bandara Juanda, Sidoarjo (surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin)

Cerita Iwan itu bisa menggambarkan bagaimana suasana tegang di tower ATC Bandara Juanda ketika terjadi sebuah insiden. Iwan sudah belasan tahun bekerja sebagai ATC di Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau biasa disebut AirNav Indonesia.

Ia kini menjabat ATC Supervisor AirNav Indonesia di Bandara Internasional Juanda. Di posisinya sekarang, ia bertugas mengkoordinasikan para ATC agar dapat bekerja ekstra fokus.

Ketika Surya mengunjungi unit tower itu pekan lalu, ada tiga ATC yang berkerja serius di belakang meja control desk. Menggunakan headset yang terpasang di kepala, mereka tampak sibuk berkomunikasi dengan pilot pesawat yang dipandunya.

Selain mereka, ada tiga ATC lain menunggu giliran bertugas di control desk.

“Pembagian sistem kerja kita shif-shifan. Jam 7 pagi sampai 1 siang. Jam 1 siang sampai 7 malam. Dan 7 malam sampai 7 pagi,” kata Iwan.

Menurut Iwan, memandu pergerakan pesawat mulai dari apron, taxi way hingga area landas pacu, bahkan ketika pesawat sudah berada di angkasa membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Seorang ATC tidak boleh terlambat menyampaikan informasi tentang pergerakan pesawat yang dipandunya. Salah sedikit saja bisa fatal.

Hal-hal inilah yang selalu menjadi perhatian para kru Air Traffic Service (ATS), Airnav Indonesia, Bandara Internasional Juanda Sidoarjo. Para ATC yang setiap hari berkecimpung di dunia navigasi udara ini, harus dalam kondisi fresh dan sehat.

Ketika sedang bertugas, seorang ATC tidak boleh ada beban apapun selain fokus melayani navigasi udara.

“Setiap hendak bertugas selalu dicek kesehatan baik fisik maupun mental. Hal ini untuk memastikan mereka benar- benar dalam kondisi fit,” kata Iwan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved