Minggu, 19 April 2026

Liputan Khusus

Pencapaian AirNav Indonesia di Atas Rata-rata Dunia

AirNav Indonesia menorehkan sederet prestasi yang membanggakan. Tetapi, ada orang-orang dengan pekerjaan menantang di balik itu semua.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Pemandangan di Bandara Juanda Sidoarjo dari ketinggian menara ATC 

SURYA.co.id | SURABAYA – Iwan Yunaryawan mengaku langsung lemas melihat bodi pesawat melengkung yang baru saja mendarat di Bandar Udara Juanda Surabaya di Sidoarjo. Apalagi saat itu Iwan yang bertugas sebagai Air Traffic Controller (ATC) gagal berkomunikasi dengan pilot pesawat.

“Lemas rasanya,” kata Iwan, mengingat kembali insiden pesawat yang mengalami patah bodi pada 2007.

Untungnya, dalam kejadian menegangkan 11 tahun silam itu tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Semua kru pesawat dan penumpang dalam keadaan selamat. Tapi sebagai ATC, Iwan kaget luar biasa saat melihat kondisi pesawat tidak sempurna setelah mendarat.

Kondisi cuaca saat itu memang sedang kurang baik. Iwan segera memberikan sinyal darurat setelah tahu pesawat yang ia pandu mengalami masalah. Ia mencoba kembali menghubungi sang pilot. Tapi nihil jawaban.

Belakangan diketahui, pesawat tersebut patah akibat hard landing. Iwan merasa lega, karena ketika itu kesalahan bukan disebabkan salah instruksi dari ATC.

“Sebetulnya, yang bikin stres itu kalau terjadinya insiden karena kontribusi ATC,” kata dia.

Suasana di dalam menara Air Traffic Controller di Bandara Juanda, Sidoarjo
Suasana di dalam menara Air Traffic Controller di Bandara Juanda, Sidoarjo (surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin)

Cerita Iwan itu bisa menggambarkan bagaimana suasana tegang di tower ATC Bandara Juanda ketika terjadi sebuah insiden. Iwan sudah belasan tahun bekerja sebagai ATC di Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau biasa disebut AirNav Indonesia.

Ia kini menjabat ATC Supervisor AirNav Indonesia di Bandara Internasional Juanda. Di posisinya sekarang, ia bertugas mengkoordinasikan para ATC agar dapat bekerja ekstra fokus.

Ketika Surya mengunjungi unit tower itu pekan lalu, ada tiga ATC yang berkerja serius di belakang meja control desk. Menggunakan headset yang terpasang di kepala, mereka tampak sibuk berkomunikasi dengan pilot pesawat yang dipandunya.

Selain mereka, ada tiga ATC lain menunggu giliran bertugas di control desk.

“Pembagian sistem kerja kita shif-shifan. Jam 7 pagi sampai 1 siang. Jam 1 siang sampai 7 malam. Dan 7 malam sampai 7 pagi,” kata Iwan.

Menurut Iwan, memandu pergerakan pesawat mulai dari apron, taxi way hingga area landas pacu, bahkan ketika pesawat sudah berada di angkasa membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Seorang ATC tidak boleh terlambat menyampaikan informasi tentang pergerakan pesawat yang dipandunya. Salah sedikit saja bisa fatal.

Hal-hal inilah yang selalu menjadi perhatian para kru Air Traffic Service (ATS), Airnav Indonesia, Bandara Internasional Juanda Sidoarjo. Para ATC yang setiap hari berkecimpung di dunia navigasi udara ini, harus dalam kondisi fresh dan sehat.

Ketika sedang bertugas, seorang ATC tidak boleh ada beban apapun selain fokus melayani navigasi udara.

“Setiap hendak bertugas selalu dicek kesehatan baik fisik maupun mental. Hal ini untuk memastikan mereka benar- benar dalam kondisi fit,” kata Iwan.

Tidak semua orang bisa masuk ke tower ATC. Di pintu menuju Visual Flight Rules (VFR) Room terpasang tulisan daerah keamanan terbatas, dilarang masuk tanpa wewenang. Area ruang utama Aerodrome Control benar-benar sangat steril.

Baik di atas tower maupun di terminal radar bawah, petugas ATC harus selalu menjaga konsentrasi.

“Di radar bawah ini mereka harus mengawasi sekitar 450 pesawat setiap hari, ada yang melintas saja dan take off-landing,” kata Faisal Risa, Junior Manager Air Traffic Flow Management & Air Traffic System.

Pemandangan di Bandara Juanda Sidoarjo dari ketinggian menara ATC
Pemandangan di Bandara Juanda Sidoarjo dari ketinggian menara ATC (surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin)

Mutu pelayanan

Secara administrasi AirNav Indonesia belum lama terbentuk. AirNav Indonesia didirikan pada 13 September 2012 melalui PP Nomor 77 Tahun 2012. AirNav merupakan BUMN Indonesia yang bergerak di bidang usaha pelayanan navigasi udara.

“Pengaturan lalu lintas udara di wilayah Indonesia dibentuk dari amanah Undang undang, Airnav tidak profit oriented tapi lebih mengedepankan pelayanan,” kata M Khatim, GM Airnav Indonesia Bandara Internasional Juanda.

Menurut Khatim, ada tiga hal pokok yang dilakukan AirNav dari pembayaran navigasi penerbangan. Antara lain, investasi alat, biaya operasional dan peningkatan mutu pelayanan.

Beberapa terobosan sudah dilakukan Airnav Indonesia, selain tugas pokoknya memberikan layanan navigasi penerbangan yang aman, baik di darat maupun di udara.

Dalam perjalanannya AirNav Indonesia Bandara Juanda juga mampu meningkatkan pencapaian on time performance (OTP) lebih baik, pesawat jarang delay dan keselamatan penerbangan juga semakin baik.

“AirNav mendapat nilai yang sangat bagus dalam pelayanan dan keselamatan dari ICAO (International Civil Aviation Organization). Capaian AirNav Indonesia bahkan di atas rata-rata dunia pada audit keselamatan,” jelas Khatim.

Pada audit keselamatan penerbangan itu AirNav meraih 81, nilai ini melampauai nilai rata-rata pemenuhan standar keselamatan penerbangan dunia yakni di angka 61. “Capaian yang bagus ini tidak lepas dari sinergitas seluruh komunitas yang ada di area bandara,” kata Khatim.

Suasana di dalam ruang kontrol menara ATC bandara Juanda, Sidoarjo
Suasana di dalam ruang kontrol menara ATC bandara Juanda, Sidoarjo (surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin)

Tepat waktu

Kerjasama yang baik antar-stakeholder di Bandara Juanda juga berdampak terhadap membaiknya pelayanan penerbangan di bandara terpadat kedua setelah Bandara Soekarno-Hatta itu. Terakhir, PT Angkasa Pura 1 Juanda meraih status sebagai bandara paling tepat waktu selama April 2018 dengan tingkat on time performance (OTP) 95,5 persen.

Penilaian itu berdasarkan hasil riset independen yang dilakukan lembaga perjalanan udara terkemuka asal Inggris, OAG.

"OTP sangat didukung oleh stakeholder terkait seperti maskapai, pertamina, ground handling, TNI AL dan AirNav," kata GM Bandara Juanda, Heru Prasetyo.

Menurut Heru, sinergitas Airnav Indonesia dengan PT Angkasa Pura (AP) I Cabang Bandara Internasional Juanda telah dijabarkan dalam Letter Of Coordination (LOCA), sebagai pedoman pelaksanaan operasional penerbangan. Tujuannya, untuk meningkatkan pelayanan navigasi penerbangan dan jasa kebandarudaraan.

Pelayanan navigasi penerbangan sepenuhnya ada di AirNav, sedangkan PT Angkasa Pura I Juanda bertanggung jawab terkait pelayanan di darat, seperti ketersediaan parkir pesawat, ruang tunggu dan fasilitas pendukung lainnya.

Dalam perkembangannya, adanya LOCA juga berdampak pada kenaikkan jumlah penumpang di Bandara Juanda. Hingga Juli 2018, PT AP 1 Juanda telah melayani 12.259.890 penumpang atau naik 31.1 persen dengan periode yang sama.

Sedangkan untuk penerbangan di Bandara Juanda adalah 91.207 pergerakan, atau naik 29.1 persen. Sementara untuk kargo sejumlah 61.401 kg atau naik 11.3 persen dari tahun lalu.

GM Airnav Juanda
Pemandangan dari menara ATC Bandara Juanda

Lebih cepat

AirNav Indonesia memiliki sejumlah layanan unggulan yang mempermudah maskapai. Salah satunya aplikasi Chronos,  sistem aplikasi untuk pengelolaan waktu terbang (slot time) secara online yang lebih efisien.

Chronos membuka transpanrasi pengaturan slot time bagi semua maskapai. Sistem aplikasi itu terkoneksi dengan sistem izin rute milik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

“Semua serba transparan dan teratur . Tidak Ada celah untuk 'main mata',” kata Gendro Dwi Purnomo, Airport Operator Committee (AOC) Juanda Chairman.

AOC mewadahi maskapai dan ground handling yang beroperasi di bandara. Di Juanda, komite itu mewadahi enam maskapai asing, lima maksapai nasional, dua ground handling, dan satu katering.

Selain Chronos, ada juga layanan e-flight plan. Dengan aplikasi ini, pengurusan flight plan bisa selesai dalam semenit di kantor maskapai.

Dulu sebelum ada layanan e-flight plan, maskapai harus mencetak flight plan berlembar-lembar untuk satu penerbangan.Kertas lembaran itu pun harus dibawa ke kantor AirNav untuk laporan. Saat ini, pengurusan cukup dengan mengunggah flight plan dalam bentuk pdf.

"Bayangkan jika punya flight dalam sehari lebih dari sepuluh. Sepuluh kali juga kami harus nge-print dan bolak-balik," kata Gendro.

Dalam beberapa tahun terakhir, AirNav juga melakukan banyak investasi. Terutama untuk alat-alat penunjang monitoring penerbangan. Menurut Gendro, investasi itu juga berdampak langsung bagi maskapai. Terutama investasi yang berhubungan dengan pengaturan traffic dan penyesuaian atau pengubahan jalur penerbangan.

Menurut Gendro, anggota AOC dan AirNav rutin berkoordinasi setiap adanya kendala. Misalnya, ketika cuaca buruk. Koordinasi paling sering dilakukan via telepon. Selain itu, mereka juga memiliki grup Whatsapp (WA) Juanda dan AirNav khusus untuk koordinasi.

"Kami mendukung penuh jika AirNav Juanda melakukan berbagai inovasi dan terobosan-terobosan. Semua demi keselamatan dan kenyamanan penerbangan," katanya.

Dengan layanan yang ada, AOC menganggap layanan AirNav di Bandara Juanda sudah cukup bagus. Apalagi, menurut dia, AirNav terbuka menerima masukan dari maskapai.

“Saya rasa, pelayanan AirNav Juanda juga sangat berkontribusi dalam peningkatan on time performance di Juanda,” ujarnya.

Menurut dia, peningkatan layanan tersebut tak lepas dari pemisahan fungsi antara AirNav dan Angkasa Pura. “Masing-masing pihak jadi lebih fokus,” kata Gendro.

Junior Manager Air Traffic Flow Management & Air Traffic Service System AirNav Juanda Faisal Riza mengatakan, Chronos dan e-flight memang sistem utama yang akan berdampak langsung bagi para maskapai. Seperti penjelasan Gendro, dua sistem tersebut mempercepat proses perbangan.

Suasana di dalam menara ATC Bandara Juanda, Sidoarjo
Suasana di dalam menara ATC Bandara Juanda, Sidoarjo (surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin)

Modernisasi Peralatan

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan, pelayanan navigasi penerbangan di mana pun di dunia ini sifatnya harus nonprofit. Keuntungan yang didapat diinvestasikan lagi untuk peningkatan kapasitas, kapabilitas personel dan untuk memodernisasi peralatan.

Hingga saat ini, AirNav sudah banyak melakukan terobosan-terobosan. Salah satunya pengaturan slot time dengan sistem aplikasi Chronos. Sistem aplikasi ini sangat bermanfaat untuk pengefektifan waktu maskapai.

Sistem aplikasi ini juga lebih transparan. Semua maskapai bisa melihat slot yang masih kosong sehingga tidak ada kesan adanya maskapai yang mendapat perlakuan khusus atau berbeda.

Menurut Alvin, sekarang maskapai di Indonesia boleh dikatakan lebih baik kinerjanya dari sisi on time performance. Selain itu, ada juga perbaikan pengaturan rute. Ini sangat membantu maksapai dalam menghemat waktu dan biaya dan bahan bakar.

Memang, masih ada tantangan yang harus dihadapi AirNav. Antara lain, pengembangan kapasitas karena jumlah penerbangan dan pesawat di Indonesia selalu bertambah. Untuk itu AirNav dituntut meningkatkan daya dukung, baik sumber daya manusia maupun teknologi. Termasuk juga modernisasi peralatan.

Ditambahkan Alvin, AirNav perlu memiliki radar yang lebih canggih dan peralatan komunitasi dan koordinasi antarbandara. Ini penting karena AirNav sudah otomatis transfer dari satu kontrol area ke kontrol area yang lain.

Untuk Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, menurut Alvin, tak ada masalah dari sisi sistem pengawasan AirNav. Jangankan Juanda, di Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta yang lebih padat saja tak ada masalah dengan itu.

Tapi, karena Bandara Juanda "numpang" di Angkatan Laut (AL), perlu ada kooridinasi dengan pemilik landasan. AL punya kegiatan dan prioritas sendiri. Di saat sipil dan AL padat, tantangan bagi AirNav adalah menjaga keseimbangan. (Aflahul Abidin/Wiwit)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved