Selasa, 5 Mei 2026

Liputan Khusus

Perajin Sepatu di Wedoro Sidoarjo Ramai-ramai Beralih Produksi Sandal

Persaingan yang ketat membuat para perajin di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, Sidoarjo meninggalkan aktivitas pembuatan sepatu.

Tayang:
surya/aflahul abidin
Para perajin di Wedoro, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo kini hanya memproduksi sandal spons untuk bertahan hidup. 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Tepat setahun lalu, Muhammad Baidarus menanggalkan alat-alat produksi sepatunya.

Toko yang sekaligus ruang pamer hasil produksinya lebih dulu ditutup.

Persaingan yang ketat membuat para perajin di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, Sidoarjo meninggalkan aktivitas pembuatan sepatu.

“Yang membuat sepatu terakhir di sini itu saya. Semua perajin beralih membuat sandal lagi,” kata pria yang akrab disapa Ubed itu.

Desa Wedoro dikenal sebagai sentra industri sandal dan sepatu yang termasyhur di Jawa Timur.

Sejak Ubed memilih berhenti memproduksi sepatu, hilang sudah predikat sentra sepatu di daerah itu.

Warga kini memilih membuat sandal yang masih punya pasar lumayan.

Ubed berkisah, sempat memiliki 12 perajin sepatu ketika alas kaki jenis itu marak di Wedoro.

Seorang pekerja bisa membuat 2 kodi sepatu dalam sehari.

Itu artinya, usaha Ubed menghasilkan sekitar 480 pasang saban hari.

Sebelum ia memutuskan menutup usaha itu, jumlah perajin hanya tinggal dua orang.
Produksinya pun berkurang drastis.

Ia pun kini sedang menata lagi bisnis kerajinan dengan cara membuat sandal, seperti tetangga lainnya.

Ubed yang juga Ketua Asosiasi Pengrajin Sepatu Sandal Wedoro (APSSW), menduga ada dua hal utama yang membuat industri sepatu Wedoro macet.

Pertama, perajin yang punya skill bikin sepatu kian langka.

“Alasan kedua, pasar juga sudah tidak menjanjikan. Pasarnya berubah turun 180 derajat,” terangnya.

Sumber: Surya Cetak
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved