Kamis, 28 Mei 2026

opini

Ketika Lalat Ijo Menyerbuki Buah Klengkeng, ke mana Lebah Madu Pergi?

pergi ke mana lebah madu? lihatlah jutaan lalat ijo menyerbu Tulungagung dan mengambil peran dengan menyerbuki buah kelengkeng ...

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
iswahyudi/citizen reporter
Ketika lebah madu pergi dan lalat ijo menyerbuki kelengkeng 

Yaitu, pertama, penurunan kepekaan pada gula (sucrose sensitivity) pada lebah sehingga menyebabkan kesulitan mendeteksi nektar bunga sebagai makanan untuk membuat madu. Terpapar glyposhate, lebah mengalami disorientasi untuk mendeteksi sumber makanan mereka, nektar bunga.

Kedua, koloni lebah yang terpapar zat ini mengalami penurunan dalam learning behavior mereka.

Ketiga, menurunnya daya ingat jangka pendek lebah yang bisa menyebabkan lebah kebingungan menemukan sarangnya sendiri. Keempat, bekas-bekas zat glyphosate yang mengenai tubuh lebah tidak akan membuat lebah mati seketika tapi akan memapar larva dan ratu lebah ketika mereka kembali ke sarang yang menyebabkan kinerja koloni lebah menurun atau bahkan pelan tapi pasti memusnahkan mereka.

Beberapa zat kimia yang ikut andil pada menurunnya koloni lebah selain glyphosate antara lain DDT, Nioticotinoids, Dow's 2, 4-D, dan mosantos roundup. Penggunaan zat kimia secara masif ini bukan hanya mematikan serangga yang bermanfaat bagi produksi pangan tapi merugikan ekosistem yang lebih luas termasuk manusia.

Fenomena penggunaan zat kimia secara masif ini pada dasarnya didasari pada filosofi bahwa alam semesta sebagai musuh, bukan sebagai teman yang saling bersimbiosis satu sama lain.

Dilemma Tanaman GMO

Semakin hari populasi dunia semakin meningkat. PBB  memprediksi bahwa pada tahun 2050 populasi dunia akan menyentuh 9,8 miliar orang. Dengan populasi sebesar ini manusia dihadapkan pada ketersediaan pangan. Mampukah bumi menghidupi 9,8 miliar orang setiap harinya?

Para ilmuwan dan stakeholder yang peduli dengan masalah ini mencoba mencari cara untuk memenuhi demand pangan dunia. Salah satunya adalah dengan pembudiyaan secara masif tanaman GMO.

Tanaman hasil rekayasa genetika memang menjanjikan panen yang melimpah yang bisa menutupi krisis pangan dunia. Namun beberapa hasil penelitian, tanaman GMO mempunyai dampak kesehatan bagi manusia dan anggota ekosistem seperti koloni lebah.

Tanaman GMO biasanya dihasilkan suatu proses rekayasa genetika yang membuat tanaman menjadi kebal terhadap serangan hama dan memproduksi hasil panen yang melimpah. Pembudidayaan tanaman GMO secara masif biasanya mensyaratkan penggunaan pestisida atau herbisida tertentu agar panen bisa maksimal.

Selain itu secara sifatnya serbuk sari tanaman GMO semisal jagung menghasilkan suatu zat Bt insecticide yang bisa berbahaya bagi lebah madu bila dipadukan dengan stess factor lain semacam racun alami atau racun dari zat kimia tertentu, semisal pestisida atau herbisida.

Akibat jangka panjangnya adalah pada semakin menurunnya koloni lebah. Padahal menurut laporan institusi program pangan PBB  70 persen dari  100 tanaman penyedia pangan bagi manusia diserbuki oleh lebah.

Isu yang berkembang  di berbagai media bahwa kontribusi GMO pada menurunnya populasi lebah nampak sekali pro kontra. Sering ada bentuk pengalihan isu atau pembentukan mispersepsi yang disinyalir disponsori oleh klonglomerasi produsen GMO.

Upaya ini terbaca oleh Researchglobal.ca yang mengkritisi beberapa penelitian yang menemukan bahwa penyebab menurunnya populasi lebah seperti merebaknya tunggal varroa, parasit, dan sinyal telepon seluler, adalah bentuk kambing hitam yang ingin menutupi siapa sebenarnya pembunuh dari koloni lebah.

Reseachglobal.ca dalam sebuah artikel yang berjudul Death of Bees, Genetically Modified Crops and Decline of Bee Colonies in North Amarica yang ditulis oleh Brit Amos, 9 Agustus 2011 mengklaim bahwa penyebab terbesar dari menurunnya populasi lebah adalah GMO dan aplikasi pestisida-herbisidanya.

Perang persepsi dan isu akan terus bergulir di media, antara membela kepentingan raksasa konglomerasi GMO dan kepedulian pada keseimbangan ekosistem dunia dan masa depan umat manusia.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved